Apa Itu Blue Moon?

Ilustrasi. Bulan tidak pernah berwarna biru. Kredit: Getty Images
Info Astronomy - Bila sebelumnya kami menjelaskan tentang apa itu Blood Moon, maka kali ini kami akan mencoba menjelaskan tentang fenomena Blue Moon atau Bulan Biru. Apakah fenomena ini akan membuat Bulan berwarna kebiruan? Mari simak dengan seksama.

Pada 31 Januari 2018 mendatang, Bulan purnama akan dijuluki sebagai Bulan Biru. Namun, meskipun dijuluki sebagai Bulan Biru, pada kenyataannya nanti Bulan tidak akan berwarna kebiruan. Julukan Bulan Biru tidak ada hubungannya dengan warnanya.

Bulan purnama pada akhir Januari nanti justru akan berwarna kemerahan karena akan digerhanai oleh Bumi. Warna merah tersebut terjadi akibat pembiasan cahaya berfrekuensi rendah dari Matahari oleh atmosfer Bumi.

Baca Juga: Bulan Biru yang Berwarna Merah

Bulan Biru awalnya merupakan julukan untuk fase Bulan purnama ketiga dalam satu musim yang memiliki empat fase Bulan purnama. Bulan Biru pada definisi ini akan terjadi sekitar setiap dua setengah tahun sekali. Namun, dalam dua dekade terakhir, definisi Bulan Biru telah berubah; julukan Bulan Biru juga bisa diberikan ke fase Bulan purnama kedua yang muncul dalam satu bulan kalender.

Menurut definisi baru tersebut, Bulan purnama kedua yang terjadi dalam satu bulan kalender Masehi akan dijuluki sebagai Bulan Biru. Pada Januari 2018 ini, Bulan purnama sudah terjadi di tanggal 2 kemarin, dan pada tanggal 31 Januari akan terjadi Bulan purnama lagi, sehingga Bulan purnama kedua di Januari ini bisa dijuluki sebagai Bulan Biru.

Lalu, mengapa bisa terjadi dua kali Bulan purnama di satu bulan kalender Masehi? Mengherankan bukan?

Perlu diketahui, penanggalan atau kalender Masehi tidak berdasarkan pada periode orbital Bulan. Terjadinya fenomena Bulan Biru terkait erat dengan jumlah hari dalam kalender matahari (Masehi) dan kalender bulan (Hijriah).

Kalender Masehi memiliki 365 hari dalam setahun, sementara kalender Hijriah hanya memiliki total 354 hari. Akibat perbedaan itu, akan ada fase Bulan purnama yang muncul pada waktu yang "tidak seharusnya", yaitu dua kali dalam satu bulan kalender Masehi yang sama.

Masih belum paham? Begini, setiap tahun dalam penanggalan Masehi biasanya hanya mempunyai dua belas kali fenomena Bulan purnama, yang masing-masing hanya terjadi sekali dalam sebulan kalender.

Namun, karena perbedaan jumlah hari pada kalender Masehi dengan kalender Bulan yang mencapai 11 hari, maka setiap dua atau tiga tahun sekali (pada kalender Masehi) akan mempunyai tambahan Bulan purnama.

Tambahan Bulan purnama itulah yang biasa dijuluki sebagai Bulan Biru. Biasanya, Bulan Biru terjadi pada bulan Januari dan Maret. Bulan Biru Januari terjadi menjelang akhir bulan, sementara Bulan Biru pada Maret terjadi di awal bulan.

Dua Bulan Biru dalam setahun juga membuat Februari tidak akan memiliki fase Bulan purnama. Hal itu disebabkan karena jumlah hari pada Februari hanya 28 hari, sehingga tidak cukup untuk menampung satu periode Bulan yang berlangsung selama 29,7 hari (bila Bulan purnama terjadi di tanggal 31 Januari). Dengan begitu, Bulan purnama untuk jatah Februari baru akan terjadi di awal Maret.

Dengan tambahan Bulan purnama yang akan terjadi pada 31 Januari 2018, hal ini membuat tahun 2018 akan memiliki tiga belas kali fase Bulan purnama.

Selamat menyambut Bulan Biru!


Sumber: Skyandtelescope.com, Sky Tonight, Bustle.
Apa Itu Blue Moon? Apa Itu Blue Moon? Reviewed by Riza Miftah Muharram on Januari 25, 2018 Rating: 5

Hype - Jangan Lewatkan!