Header Ads

Secara Astronomis, 1 Syawal 1438 H Jatuh pada 25 Juni 2017

Bulan sabit muda. Kredit: Astroadventures.net
Info Astronomy - Umat Muslim telah memasuki 10 hari terakhir di bulan Ramadan tahun ini, dan semuanya mungkin sudah bertanya-tanya tentang kapan tepatnya 1 Syawal 1438 H untuk tahun 2017. Berikut ini kami akan menjelaskannya secara astronomis.

Perlu diketahui bahwa dalam kalender Hijriah, sebuah hari diawali sejak terbenamnya Matahari waktu setempat, bukan saat tengah malam. Sementara penentuan awal bulan (kalender) Hijriah tergantung pada penampakan (visibilitas) Bulan. Karena itu, satu bulan kalender Hijriah dapat berumur 29 atau 30 hari.

Di sini, terdapat dua metode untuk penentuan awal bulan Hijriah. Yang pertama adalah rukyat, yakni aktivitas mengamati visibilitas hilal (Bulan sabit yang nampak pertama kali setelah terjadinya ijtimak atau konjungsi). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang atau dengan alat bantu optik seperti teleskop.

Rukyat dilakukan setelah Matahari terbenam. Hilal hanya tampak setelah Matahari terbenam (magrib), karena intensitas cahaya hilal sangat redup dibanding dengan cahaya Matahari, serta ukurannya sangat tipis. Apabila hilal terlihat, maka pada petang (magrib) waktu setempat telah memasuki bulan (kalender) baru Hijriah. Apabila hilal tidak terlihat maka awal bulan ditetapkan mulai maghrib hari berikutnya.

Metode kedua adalah hisab, atau secara harfiah berarti "perhitungan". Hisab adalah perhitungan secara matematis dan astronomis untuk menentukan posisi Bulan dalam menentukan dimulainya awal bulan (kalender) pada kalender Hijriah.

Hisab seringkali digunakan sebelum rukyat dilakukan. Salah satu hasil hisab adalah penentuan kapan ijtimak/konjungsi terjadi, yaitu saat Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam posisi segaris lurus di bidang Tata Surya atau yang disebut pula sebagai konjungsi geosentris.

Posisi Bulan Pada 24 Juni 2017

Menurut metode hisab, Bulan mencapai ijtimak pada 24 Juni 2017 pukul 09.32 WIB. Dengan begitu, ketika Matahari terbenam pada 24 Juni 2017 pukul 17.49 WIB, ketinggian Bulan sudah lebih dari 3°34', menjadikannya lebih tinggi dari persyaratan minimal 2°. Sementara sudut elongasi atau jarak Bulan-Mataharinya adalah 6°18'.

Pada posisi ini, hilal berpotensi untuk dirukyat (diamati). Usia Bulan saat Matahari terbenam pada 24 Juni 2017 sudah lebih dari 8 jam.

Posisi Bulan saat Matahari terbenam 24 Juni 2017 17.49 WIB. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org

Kriteria Baru

Tim pakar astronomi dari LAPAN, ITB, BIG, Planetarium, dan UPI yang dibentuk oleh MUI Agustus 2015 lalu telah mengkaji data astronomi kesaksian hilal secara global. Data astronomi tersebut menunjukkan bahwa kenampakan hilal secara global tidak mungkin terjadi ketika posisi Bulan terlalu dekat dengan Matahari. Hilal masih terlalu tipis.

Dengan begitu, ditentukanlah batas minimal jarak Bulan-Matahari berdasarkan data astronomi adalah 6,4°. Analisa data astronomi posisi Bulan menunjukkan juga bahwa bila jarak Bulan-Matahari kurang dari 6,4°, pada saat magrib umumnya masih berada di bawah ufuk.

Data kesaksian hilal global juga menunjukkan bahwa tidak ada kesaksian kenampakan hilal bila beda tinggi Bulan-Matahari kurang dari 4°. Hal ini beralasan, karena bila terlalu dekat dengan ufuk, cahaya senja masih cukup terang sehingga akan mengganggu visibilitas hilal.

Atas dasar analisa data astronomi tersebut, diusulkan kriteria baru: jarak Bulan-Matahari minimal 6,4° dan beda tinggi Bulan-Matahari minimal 4 derajat. Kriteria itu adalah batas minimal agar hilal cukup tebal untuk mengalahkan gangguan cahaya senja. Sayangnya, kriteria belum bisa ditetapkan oleh MUI pada saat Munas 2015 di Surabaya.

Upaya lain yang dilakukan oleh Kementerian Agama adalah menindaklanjuti keinginan forum negara-negara MABIMS (Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) untuk mengubah kriteria lamanya.

Kriteria lama MABIMS adalah tinggi bulan minimal 2° dan jarak Bulan-Matahari minimal 3° atau umur bulan minimal 8 jam. Namun, ada pertemuan teknis MABIMS pada Agustus 2016 akhirnya dirumuskan usulan perubahan kriteria MABIMS. Usulan kriteria baru MABIMS tersebut adalah tinggi bulan minimal 3° dan jarak Bulan-Matahari minimal 6,4°.

Dengan merujuk pada kriteria baru MABIMS di atas, dapat diistimalkan atau digenapkan bahwa Ramadan 1438 H hanya berlangsung 29 hari. Ketinggian Bulan pada 24 Juni 2017 sudah memenuhi kriteria baru MABIMS sehingga 1 Syawal 1438 H bisa ditetapkan pada 25 Juni 2017.

Walau begitu, metode rukyat masih dibutuhkan untuk mengonfirmasi kenampakan hilal pada 24 Juni 2017. Penetapan resmi 1 Syawal 1438 H pun masih harus menunggu hasil musyawarah pemerintah dalam sidang isbat yang nantinya bakal dilakukan.

Selamat menyambut Idulfitri!


Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.

Diberdayakan oleh Blogger.