![]() |
| Sebagai bintang induk tata surya kita, rupanya Matahari dulunya terbentuk di area dekat pusat galaksi. Kredit: Shutterstock |
InfoAstronomy - Lewat serangkaian pengamatan dan penelitian, para astronom menemukan bukti kuat bahwa Matahari kita kemungkinan tidak terbentuk di lokasi tempatnya berada saat ini, melainkan kemungkinan menjadi bagian dari migrasi besar-besaran bintang-bintang yang bergerak menjauhi wilayah pusat Galaksi Bimasakti sekitar 4 hingga 6 miliar tahun lalu.
Temuan ini memberikan wawasan baru mengenai sejarah galaksi kita, pembentukan struktur batang (bar) di pusat Bimasakti, serta perjalanan luar biasa yang mungkin telah membawa tata surya ke lingkungan yang memungkinkan kehidupan akhirnya muncul di Bumi.
Temuan ini memberikan wawasan baru mengenai sejarah galaksi kita, pembentukan struktur batang (bar) di pusat Bimasakti, serta perjalanan luar biasa yang mungkin telah membawa tata surya ke lingkungan yang memungkinkan kehidupan akhirnya muncul di Bumi.
Menelusuri Masa Lalu Bimasakti
Seperti halnya para arkeolog yang merekonstruksi sejarah Bumi melalui artefak dan fosil, para astronom menggunakan pendekatan yang disebut arkeologi galaksi (galactic archaeology) untuk menyusun kembali sejarah bintang dan galaksi.Selama beberapa dekade terakhir, para astronom telah menduga bahwa Matahari lahir jauh lebih dekat ke pusat Bimasakti dibandingkan posisinya sekarang. Bukti dari komposisi kimia Matahari dan bintang-bintang yang serupa telah lama mendukung gagasan ini. Namun, satu pertanyaan besar masih belum terjawab: bagaimana Matahari bisa berpindah sejauh itu?
Jawabannya tampak sulit karena adanya salah satu struktur terbesar di Bimasakti, yaitu batang raksasa yang membentang di pusat galaksi.
![]() |
| Ilustrasi bentuk galaksi Bimasakti dengan struktur batang memanjang di pusatnya. Kredit: NASA |
Batang Pusat Bimasakti
Bimasakti memiliki struktur berbentuk batang yang memanjang sekitar 10.000 hingga 15.000 tahun cahaya dari pusat galaksi. Struktur ini bukan sekadar kumpulan bintang, melainkan bertindak sebagai mesin gravitasi raksasa yang mengatur pergerakan bintang-bintang di seantero galaksi kita.
Lingkungan di sekitar batang ini sangat aktif dan penuh gejolak. Bintang-bintang baru terus terbentuk, bintang tua terus mati, dan ledakan supernova terjadi jauh lebih sering dibandingkan wilayah luarnya. Tingkat radiasi yang tinggi serta seringnya interaksi antarbintang membuat kawasan ini jauh lebih berbahaya dibandingkan lingkungan yang lebih tenang di pinggiran Bimasakti, seperti posisi tata surya kita saat ini.
Para astronom juga mengetahui bahwa batang galaksi menghasilkan fenomena gravitasi yang disebut penghalang korotasi (corotation barrier). Efek gravitasi ini membuat bintang sangat sulit bermigrasi keluar dari wilayah pusat galaksi. Karena itulah, dugaan bahwa Matahari pernah melakukan migrasi yang sangat jauh dari pusat galaksi ke posisinya saat ini menjadi sebuah teka-teki.
Lingkungan di sekitar batang ini sangat aktif dan penuh gejolak. Bintang-bintang baru terus terbentuk, bintang tua terus mati, dan ledakan supernova terjadi jauh lebih sering dibandingkan wilayah luarnya. Tingkat radiasi yang tinggi serta seringnya interaksi antarbintang membuat kawasan ini jauh lebih berbahaya dibandingkan lingkungan yang lebih tenang di pinggiran Bimasakti, seperti posisi tata surya kita saat ini.
Para astronom juga mengetahui bahwa batang galaksi menghasilkan fenomena gravitasi yang disebut penghalang korotasi (corotation barrier). Efek gravitasi ini membuat bintang sangat sulit bermigrasi keluar dari wilayah pusat galaksi. Karena itulah, dugaan bahwa Matahari pernah melakukan migrasi yang sangat jauh dari pusat galaksi ke posisinya saat ini menjadi sebuah teka-teki.
Menyelidiki Perjalanan Matahari
Untuk memecahkan misteri tersebut, Asisten Profesor Daisuke Taniguchi dari Tokyo Metropolitan University dan Asisten Profesor Takuji Tsujimoto dari National Astronomical Observatory of Japan memimpin dua penelitian yang berfokus pada bintang-bintang yang sangat mirip dengan Matahari.Alih-alih hanya mempelajari Matahari, mereka meneliti para saudara kembar Matahari atau solar twins, yaitu bintang-bintang yang memiliki suhu, gravitasi permukaan, dan komposisi kimia yang hampir identik dengan Matahari.
Penelitian ini memanfaatkan data dari satelit Gaia milik European Space Agency (ESA), salah satu misi astronomi paling ambisius yang pernah dilakukan. Gaia telah mengukur posisi, jarak, dan pergerakan sekitar 2 miliar bintang dan objek langit lainnya dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi melalui teknik yang disebut astrometri, yaitu pengukuran posisi bintang secara berulang selama lebih dari satu dekade.
Dari kumpulan data yang sangat besar tersebut, para peneliti berhasil menyusun katalog berisi 6.594 solar twins, sekitar 30 kali lebih banyak dibandingkan sampel yang digunakan dalam penelitian sebelumnya. Tak hanya itu, penelitian ini juga memanfaatkan data dari Two Micron All Sky Survey (2MASS).
Katalog yang jauh lebih besar ini memungkinkan para astronom menentukan usia bintang dengan tingkat ketelitian yang belum pernah dicapai sebelumnya. Mereka juga mengoreksi bias seleksi pengamatan, yaitu kecenderungan teleskop lebih mudah mendeteksi bintang yang lebih terang dibandingkan bintang yang lebih redup.
Saat usia seluruh solar twins dianalisis, ditemukan bahwa usia mereka hampir sama persis pada rentang usia 4 hingga 6 miliar tahun. Matahari kita sendiri yang berusia sekitar 4,6 miliar tahun. Hal yang lebih menarik lagi, banyak dari bintang-bintang ini saat ini mengorbit Bimasakti pada jarak yang hampir sama dengan Matahari.
Sekarang, Matahari dan tata surya berada sekitar 26.000 tahun cahaya dari pusat Bimasakti, tepatnya di Lengan Orion-Cygnus atau Orion Spur, yaitu salah satu lengan spiral kecil galaksi Bimasakti.
Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa Matahari kemungkinan terbentuk pada jarak sekitar 10.000 tahun cahaya lebih dekat ke pusat galaksi dibandingkan lokasinya sekarang. Posisi awal tersebut menempatkannya sangat dekat dengan wilayah batang pusat Bimasakti.
Kombinasi usia yang sama dan lokasi orbit saat ini menunjukkan bahwa keberadaan Matahari di tempat sekarang bukanlah suatu kebetulan, akan tetapi kemungkinan berpindah bersama ribuan bintang lain dalam migrasi besar menuju wilayah luar galaksi.
![]() |
| Ilustrasi jalur migrasi yang dilakukan Matahari bersama para solar twins. Kredit: NAOJ |
Melarikan Diri Sebelum Batang Galaksi Terbentuk
Para astronom mengusulkan bahwa kunci dari berhasilnya Matahari bersama solar twins melakukan migrasi dari area pusat galaksi terletak pada sejarah pembentukan Bimasakti.
Saat ini, batang galaksi memang bertindak sebagai penghalang gravitasi yang mencegah bintang bergerak keluar dari wilayah pusat galaksi. Namun, struktur tersebut kemungkinan belum terbentuk sepenuhnya ketika Matahari lahir.
Menurut penelitian terbaru ini, batang pusat Bimasakti kemungkinan terbentuk sekitar 4 hingga 6 miliar tahun lalu. Selama proses pembentukannya, batang tersebut diduga memicu pembentukan bintang dalam jumlah besar sekaligus menyebabkan migrasi massal bintang ke arah luar.
Karena batang saat itu masih berkembang, penghalang korotasi belum terbentuk sepenuhnya. Hal ini memungkinkan ribuan bintang, termasuk Matahari yang masih muda, lolos dari wilayah pusat galaksi sebelum penghalang gravitasi tersebut menjadi efektif.
Distribusi usia solar twins tidak hanya menunjukkan kapan migrasi besar ini kemungkinan terjadi, tetapi juga memberikan petunjuk mengenai rentang waktu pembentukan batang pusat Bimasakti.
Saat ini, batang galaksi memang bertindak sebagai penghalang gravitasi yang mencegah bintang bergerak keluar dari wilayah pusat galaksi. Namun, struktur tersebut kemungkinan belum terbentuk sepenuhnya ketika Matahari lahir.
Menurut penelitian terbaru ini, batang pusat Bimasakti kemungkinan terbentuk sekitar 4 hingga 6 miliar tahun lalu. Selama proses pembentukannya, batang tersebut diduga memicu pembentukan bintang dalam jumlah besar sekaligus menyebabkan migrasi massal bintang ke arah luar.
Karena batang saat itu masih berkembang, penghalang korotasi belum terbentuk sepenuhnya. Hal ini memungkinkan ribuan bintang, termasuk Matahari yang masih muda, lolos dari wilayah pusat galaksi sebelum penghalang gravitasi tersebut menjadi efektif.
Distribusi usia solar twins tidak hanya menunjukkan kapan migrasi besar ini kemungkinan terjadi, tetapi juga memberikan petunjuk mengenai rentang waktu pembentukan batang pusat Bimasakti.
Pindah ke Lingkungan Galaksi yang Lebih Aman
Jika skenario ini benar, Matahari berhasil meninggalkan salah satu wilayah paling berbahaya di Bimasakti dan akhirnya menetap di lingkungan galaksi yang jauh lebih tenang.Dibandingkan wilayah pusat galaksi yang padat, lingkungan Matahari saat ini mengalami lebih sedikit perlintasan dekat antarbintang, tingkat radiasi yang lebih rendah, serta lebih sedikit peristiwa dahsyat seperti ledakan supernova di sekitar tata surya.
Menurut para astronom, lingkungan yang lebih tenang ini kemungkinan menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan biosfer Bumi berkembang. Dengan kata lain, perpindahan Matahari mungkin menjadi salah satu langkah penting yang memungkinkan kehidupan muncul dan berevolusi, sehingga manusia akhirnya bisa meneliti hal ini dan kamu bisa membaca artikel hasil penelitiannya ini.
Sudut Pandang Baru
Selain menjelaskan kemungkinan migrasi Matahari, penelitian ini juga memberikan gambaran baru mengenai evolusi Bimasakti.Dengan melacak pergerakan ribuan solar twins, para astronom mulai menyusun kembali kronologi perkembangan galaksi, termasuk pembentukan batang pusat dan redistribusi besar-besaran bintang di cakram galaksi.
Sementara itu, para peneliti yang menggunakan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA) di Cile baru-baru ini berhasil menghasilkan citra beresolusi tinggi dari kompleks awan molekul raksasa di jantung Bimasakti.
![]() |
| Kompleks awan molekul raksasa di jantung Bimasakti hasil pengamatan ALMA. Kredit: ALMA(ESO/NAOJ/NRAO)/S. Longmore dkk. |
Pengamatan pada panjang gelombang radio milimeter tersebut memperlihatkan detail baru dari wilayah gas yang sangat kacau, tempat bintang-bintang masif mengorbit lubang hitam supermasif di pusat galaksi.
Temuan ini memberikan gambaran lebih jelas mengenai lingkungan ekstrem yang mungkin pernah ditinggalkan Matahari miliaran tahun lalu.
Sumber & Referensi:
- Choi, C. Q. (2026, Maret). A mass stellar migration billions of years ago may have helped life get started on Earth. SPACE.
- Taniguchi, D., de Laverny, P., Recio-Blanco, A., Tsujimoto, T., & Palicio, P. A. (2026). Solar twins in Gaia DR3 GSP-Spec: I. Building a large catalog of solar twins with ages. Astronomy & Astrophysics, 707, A260.
- Thompson, M. (2026, Maret). The Sun's Great Escape. UniverseToday.
- Tokyo Metropolitan University. (2026, Maret). Our Sun may have escaped the Milky Way’s center with thousands of twin stars. ScienceDaily.
- Tsujimoto, T., Taniguchi, D., Recio-Blanco, A., Palicio, P. A., & de Laverny, P. (2026). Solar twins in Gaia DR3 GSP-Spec: II. Age distribution and its implications for the Sun’s migration. Astronomy & Astrophysics, 707, L11.
- Vigil, A. B. (2026, Maret). The Sun’s galactic migration may have made life on Earth possible. Astronomy.
- Whitt, K. K. & Anderson, P. S. (2026, Maret). Our sun might be a migrant from the inner Milky Way. EarthSky.



