![]() |
| Komet antarbintang 3I/ATLAS ternyata lebih aneh dari yang diperkirakan. Kredit: NASA, ESA, David Jewitt (UCLA); Penyunting Gambar: Joseph DePasquale (STScI) |
InfoAstronomy - Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 2025, komet antarbintang 3I/ATLAS terus membuat para astronom penasaran. Analisis terbaru menggunakan data Teleskop Antariksa James Webb mengungkap sejumlah fakta baru tentang 3I/ATLAS. Temuan ini tidak hanya mengubah cara kita memandang komet tersebut, tetapi juga menantang pemahaman kita tentang komet dan sistem keplanetan lain di galaksi.
Salah satu hasil penelitian terbaru yang paling mengejutkan adalah komet antarbintang ini rupanya berusia jauh lebih tua dari perkiraan sebelumnya, dan ia kini diketahui berasal dari lingkungan sebuah sistem keplanetan yang jauh lebih ekstrem.
Segera setelah penemuannya, analisis awal gerak orbital 3I/ATLAS sudah mengisyaratkan bahwa objek ini kemungkinan lebih tua dari tata surya kita, mungkin berusia sekitar 10 miliar tahun. Data Webb terbaru mendorong angka itu lebih jauh lagi, yakni diperkirakan sudah berusia 12 miliar tahun. Artinya, komet ini jauh lebih tua daripada Matahari. Dan sebagai perbandingan, alam semesta telah berusia 13,7 miliar tahun.
Bagaimana para astronom bisa tahu? Kesimpulan ini tentu tidak dibuat tanpa dasar. Kunci untuk sampai pada kesimpulan itu adalah penelitian terhadap rasio isotop. Setiap unsur kimia ditentukan oleh jumlah proton di dalam inti atomnya. Namun, setiap unsur bisa punya jumlah neutron yang berbeda, dan inilah yang disebut isotop.
Salah satu hasil penelitian terbaru yang paling mengejutkan adalah komet antarbintang ini rupanya berusia jauh lebih tua dari perkiraan sebelumnya, dan ia kini diketahui berasal dari lingkungan sebuah sistem keplanetan yang jauh lebih ekstrem.
Segera setelah penemuannya, analisis awal gerak orbital 3I/ATLAS sudah mengisyaratkan bahwa objek ini kemungkinan lebih tua dari tata surya kita, mungkin berusia sekitar 10 miliar tahun. Data Webb terbaru mendorong angka itu lebih jauh lagi, yakni diperkirakan sudah berusia 12 miliar tahun. Artinya, komet ini jauh lebih tua daripada Matahari. Dan sebagai perbandingan, alam semesta telah berusia 13,7 miliar tahun.
Bagaimana para astronom bisa tahu? Kesimpulan ini tentu tidak dibuat tanpa dasar. Kunci untuk sampai pada kesimpulan itu adalah penelitian terhadap rasio isotop. Setiap unsur kimia ditentukan oleh jumlah proton di dalam inti atomnya. Namun, setiap unsur bisa punya jumlah neutron yang berbeda, dan inilah yang disebut isotop.
Sebagai contoh, hidrogen biasa tidak punya neutron, sementara deuterium adalah hidrogen dengan satu neutron. Dengan mengukur perbandingan antara isotop-isotop ini, para astronom dapat menelusuri kondisi lingkungan tempat objek itu terbentuk dan memperkirakan sejarah evolusinya, karena isotop yang berbeda terbentuk dalam kondisi yang berbeda pula.
![]() |
| Citra James Webb yang menyoroti berbagai molekul di atmosfer komet. Kredit: NASA, ESA, CSA, STScI, Martin Cordiner (CUA, NASA-GSFC); Pengolahan Gambar: Alyssa Pagan (STScI). |
Lalu, apa yang diamati pada 3I/ATLAS? Ternyata, hasil pengamatannya menunjukkan angka yang jauh dari normal. Kandungan deuterium dalam 3I/ATLAS diperkirakan sepuluh kali lebih tinggi dari komet-komet lain pada umumnya yang pernah diketahui. Rasio karbon isotopnya juga mengindikasikan bahwa ia melampaui semua yang pernah terukur dari komet dalam tata surya kita.
"Ini adalah kesempatan langka untuk mempelajari objek purba dari galaksi yang jauh, yang kemungkinan terbentuk lebih dulu dari Matahari dan tata surya kita," kata Martin Cordiner, astrokimiawan dari Goddard Space Flight Center NASA yang memimpin penelitian ini. "Di satu sisi, kita mendapat gambaran langsung tentang masa dan tempat yang sangat jauh itu. Di sisi lain, kita belajar betapa tidak biasanya tata surya kita sendiri."
Komposisi kimiawi 3I/ATLAS juga menunjukkan bahwa komet ini terbentuk di lingkungan yang sangat dingin, dengan suhu di bawah −243°C. Lingkungan tersebut kemungkinan berada di kawasan pembentukan bintang yang sangat aktif. Kawasan dengan kondisi seperti itu kemungkinan besar sudah tidak ada lagi pada masa sekarang. Dengan kata lain, 3I/ATLAS adalah kapsul waktu dari tempat dan era dalam sejarah galaksi kita yang sudah lenyap.
Untuk memberikan gambaran betapa tuanya komet antarbintang ini, planet tertua yang pernah diketahui manusia adalah PSR B1620-26 b, yang dijuluki Planet Methuselah, dan ia 700 juta tahun lebih muda dari 3I/ATLAS. Keduanya berusia lebih dari dua setengah kali usia Bumi.
Sumber & Referensi:
- Belyakov, M., Wong, I., Bolin, B. T., Davis, M. R., Bromley, S. J., Lisse, C. M., & Brown, M. E. (2026). The Volatile Inventory of 3I/ATLAS as seen with JWST/MIRI. The Astrophysical Journal Letters, 1001(1), L11.
- Carpineti, A. (2026, Juni). Interstellar Comet 3I/ATLAS Has An Older, Colder, And More Intense Origin Story, Stretching Back Up To 12 Billion Years. IFLScience.
- Cordiner, M., Roth, N. X., Micheli, M., Villanueva, G., Farnocchia, D., Charnley, S., ... & Thomas, C. A. (2026). Isotopic evidence for a cold and distant origin of the interstellar object 3I/ATLAS. arXiv preprint arXiv:2603.06911.
- Pelisoli, I., & Williams, J. (2025). An observational overview of white dwarf stars. arXiv preprint arXiv:2502.19496.
- Roth, N. X., Cordiner, M., Milam, S., Villanueva, G., Charnley, S., Biver, N., ... & Thomas, C. A. (2026). Isotopic Signature of Organic Molecules from Beyond the Solar System: An Enriched Methane D/H Ratio in the Interstellar Object 3I/ATLAS. arXiv preprint arXiv:2603.20445.
- Sigurdsson, S., Richer, H. B., Hansen, B. M., Stairs, I. H., & Thorsett, S. E. (2003). A young white dwarf companion to pulsar B1620-26: evidence for early planet formation. Science, 301(5630), 193-196.

