Akses artikel Premium dengan Astronomi+, mulai berlangganan.

Saran pencarian

Tak Ada yang Lebih Genting dari Rusaknya Hutan di Planet Bumi

Makan gratis mungkin enak di awal, tapi apa gunanya jika hutan, sumber kehidupan di planet Bumi, rusak dan hancur?
Bumi adalah satu-satunya planet yang diketahui memiliki hutan, yang rusak. Kredit: Nusantara Atlas

InfoAstronomy - Setiap malam kita mendongak ke langit dan dibuat takjub oleh luasnya alam semesta. Kita melihat adanya miliaran bintang, galaksi-galaksi raksasa, dan lubang hitam yang menyembunyikan banyak misteri. Semua itu terasa luar biasa. Namun ada satu keajaiban yang jauh lebih dekat, dan justru sering luput dari perhatian kita.

Hutan.

Di tengah miliaran galaksi dan triliunan bintang, satu-satunya hutan yang benar-benar kita ketahui sejauh ini keberadaannya ada di bawah kaki kita sendiri, di planet Bumi. Ribuan planet ekstrasurya, planet-planet yang mengitari bintang lain selain Matahari, memang sudah ditemukan. Atmosfer planet-planet yang berjarak ratusan tahun cahaya itu sudah mulai bisa dideteksi. Tanda-tanda biologis sudah mulai dicari dari kejauhan. Namun, belum ada satu bukti pun tentang daun yang berfotosintesis, pohon yang menyerap karbon, atau ekosistem kompleks seperti yang menutupi sebagian besar permukaan planet kita.

Jika kehidupan kompleks memang jarang muncul, hutan mungkin termasuk salah satu fenomena paling langka di alam semesta.

Coba kita mulai bandingkan angka-angkanya. Galaksi Bimasakti diperkirakan mengandung sekitar 100 hingga 400 miliar bintang, jumlah yang terasa mustahil untuk dibayangkan. Namun, jumlah pohon di Bumi diperkirakan mencapai 3 triliun, lebih banyak dari bintang di galaksi kita sendiri. Dengan kata lain, ketika kamu berjalan di dalam hutan, kamu sedang dikelilingi oleh makhluk hidup yang secara total jumlahnya mengalahkan bintang-bintang Bimasakti!

Dari sudut pandang astronomi, keberadaan hutan adalah keajaiban berantai. Bintang-bintang generasi pertama harus lahir, hidup, lalu mati dalam supernova yang menyebarkan unsur-unsur berat ke seluruh ruang angkasa. Unsur-unsur seperti karbon, oksigen, nitrogen, dan fosfor kemudian menjadi bahan pembentuk generasi bintang dan planet berikutnya, termasuk tata surya kita.

Bumi terbentuk 4,5 miliar tahun lalu, kehidupan muncul, fotosintesis berkembang, tumbuhan merayap ke daratan, hingga akhirnya hutan pertama pun berdiri. Setiap pohon yang ada hari ini adalah titik akhir dari rantai peristiwa kosmis yang membutuhkan waktu miliaran tahun untuk berlangsung.

Kalau makhluk cerdas dari peradaban lain pernah melintas di tata surya kita, mungkin bukan gedung pencakar langit yang akan menarik perhatian mereka. Bukan jalan raya, bukan kota-kota yang berpendar di malam hari, bukan dapur-dapur makan bergizi. Salah satu hal yang mungkin menarik perhatian mereka adalah sesuatu yang jauh lebih langka: sebuah planet biru yang ditutupi hutan, dengan atmosfer kaya oksigen yang dihasilkan oleh fotosintesis, lengkap dengan jaringan kehidupan yang begitu kompleks dan saling terhubung.

Itulah yang selama ini dicari para astronom ketika mengarahkan teleskop ke bintang-bintang jauh. Hutan merupakan tanda-tanda paling jelas dari planet mirip Bumi. Jika sebuah planet ditemukan memiliki hutan, bisa dibilang ia adalah planet yang hidup.

Ironisnya, sementara teleskop-teleskop itu mencari planet dengan hutan belantara seperti Bumi, kita sedang perlahan mengurangi salah satu hal yang membuat Bumi berbeda dari semua planet yang pernah kita temukan.

Kita belum tahu apakah ada hutan di planet lain, kita juga belum tahu apakah kehidupan kompleks itu umum atau justru sangat langka di alam semesta. Akan tetapi, kita tahu satu hal dengan pasti: hutan di Bumi ada. Dan sayangnya sebagian hutan itu terus menghilang setiap hari.

Mungkin pertanyaan terpenting saat ini bukan lagi apakah kehidupan ada di luar sana, tetapi ada satu pertanyaan yang lebih mendesak: mengapa kita begitu mudah merusak satu-satunya sumber kehidupan yang sudah kita temukan?

Di tengah miliaran galaksi dan triliunan bintang, satu-satunya hutan yang benar-benar kita ketahui keberadaannya ada di bawah kaki kita. Di sini. Di Bumi.

Sumber & Referensi:
  • Armstrong, A. (2015). Forest ecology: three trillion trees. Nature Plants, 1(10), 15154.
  • Goldman, E., Sims, M., Carter, S., & World Resources Institute. (2025). Global Forest Watch's 2024 tree cover loss data explained. Global Forest Watch.
  • Jiang, J. H., Rosen, P. E., Liu, C. X., Wen, Q., & Chen, Y. (2024). Analysis of habitability and stellar habitable zones from observed exoplanets. Galaxies, 12(6), 86.
  • Madhusudhan, N. (2025). Habitability and biosignatures. arXiv preprint arXiv:2503.22990.
  • Parenteau, N., Ulses, A. G., Metz, C., Kiang, N. Y., Coelho, L. F., Schwieterman, E., ... & Arney, G. (2026). Habitable Worlds Observatory Living Worlds Working Group: Surface Biosignatures on Potentially Habitable Exoplanets. arXiv preprint arXiv:2601.08883.
  • Schwieterman, E. W., Kiang, N. Y., Parenteau, M. N., Harman, C. E., DasSarma, S., Fisher, T. M., ... & Lyons, T. W. (2018). Exoplanet biosignatures: a review of remotely detectable signs of life. Astrobiology, 18(6), 663-708.
Riza adalah astronom amatir yang telah menulis konten astronomi sejak tahun 2012. Riza secara aktif menjadi mentor kelas astronomi di BelajarAstro.com. Hubungi lewat riza@belajarastro.com.

Posting Komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.