Akses artikel Premium dengan Astronomi+, mulai berlangganan.

Saran pencarian

TRAPPIST-1e: Planet Paling Menjanjikan untuk Kehidupan di Luar Tata Surya

Kalau kamu diminta mencari planet yang tingkat kemiripannya hampir mendekati Bumi, planet TRAPPIST-1e harus menjadi pilihan pertama dalam daftarmu.
Kalau mencari kehidupan luar Bumi, planet TRAPPIST-1e harus berada di urutan pertama karena cukup menjanjikan. Kredit: Science Photo Library

InfoAstronomy - Sekitar 40 tahun cahaya jauhnya dari Bumi di arah rasi bintang Aquarius, ada sebuah planet yang sudah lama membuat para astronom tidak bisa berpaling. Ia dikatalogkan sebagai TRAPPIST-1e, salah satu kandidat planet laik huni paling serius yang pernah ditemukan di luar tata surya kita.

Planet ini pertama kali diumumkan penemuannya pada tahun 2017 berdasarkan hasil kerja tim internasional yang menggunakan teleskop milik European Southern Observatory bersama jaringan observatorium lain di seluruh dunia.

Dari penemuan itu, diketahui bahwa bintang induknya, TRAPPIST-1, ternyata diorbiti oleh tujuh planet berbatu sekaligus, tiga di antaranya berada di zona laik huni. Dan dari ketiga planet di zona laik huni itu, TRAPPIST-1e dianggap yang paling stabil secara iklim. Dengan kata lain, sistem TRAPPIST-1 ini adalah saingan tata surya kita yang punya 8 planet.

Perbandingan ukuran orbit tata surya kita dengan sistem TRAPPIST-1. Kredit: NASA/ESA/CSA

Alasan para ilmuwan begitu tertarik bukan tanpa dasar. Secara fisik, planet ini terasa seperti kembaran Bumi yang sedikit lebih kecil. Radiusnya sekitar 0,92 kali Bumi, massanya sekitar 0,77 kali Bumi, dan gravitasi permukaannya hampir tidak berbeda jauh dengan yang kita rasakan setiap hari. Hal yang membuatnya istimewa bukan hanya ukurannya, tapi posisinya. TRAPPIST-1e mengorbit tepat di zona di mana suhu secara teoritis memungkinkan air cair bertahan di permukaannya.

Memang, bintang induknya jauh lebih kecil dan lebih redup dari Matahari, sehingga zona laik huninya berada sangat dekat dengan sang bintang. Saking dekatnya planet TRAPPIST-1e dengan bintang induknya, ia menyelesaikan satu orbit mengitari bintang TRAPPIST-1 hanya dalam 6,1 hari. Sebagai perbandingan, Bumi butuh 365 hari untuk sekali mengitari Matahari.

Meski jaraknya dekat dan periode revolusinya singkat, beberapa model iklim justru menunjukkan hasil yang menggembirakan: planet ini berpotensi memiliki samudra air cair secara global, dan bahkan atmosfer yang tipis pun mungkin cukup untuk menjaga suhu tetap stabil dan memungkinkan siklus air seperti di Bumi.

Tentu ada tantangan yang tidak bisa diabaikan. Bintang katai merah seperti TRAPPIST-1 dikenal sering melepaskan suar, semburan radiasi berenergi tinggi yang bisa berbahaya bagi atmosfer planet-planet yang mengitarinya. Selain itu, TRAPPIST-1e kemungkinan mengalami penguncian gravitasi, kondisi di mana satu sisi planet selalu menghadap bintang sementara sisi lainnya terendam dalam kegelapan abadi. 

Tanpa medan magnet yang cukup kuat, radiasi dari bintang juga bisa perlahan mengikis atmosfer planet hingga habis. Namun para ilmuwan tidak menutup kemungkinan bahwa atmosfer yang cukup tebal bisa mendistribusikan panas secara merata ke seluruh permukaan, mengurangi ekstremitas kedua sisi tersebut.

Itulah mengapa TRAPPIST-1e kini menjadi salah satu target utama teleskop antariksa James Webb. Teleskop paling canggih yang pernah diluncurkan manusia itu sedang memelajari atmosfer planet-planet dalam sistem TRAPPIST-1, mencari jejak uap air, karbon dioksida, metana, atau tanda-tanda kimia lain yang bisa mengisyaratkan keberadaan kehidupan.

Sumber & Referensi:
  • Clement, M. S., Quintana, E. V., & Stevenson, K. B. (2025). On the local formation of the TRAPPIST-1 exoplanets. The Astronomical Journal, 169(1), 16.
  • Espinoza, N., Allen, N. H., Glidden, A., Lewis, N. K., Seager, S., Cañas, C. I., ... & van der Marel, R. P. (2025). JWST-TST DREAMS: NIRSpec/PRISM Transmission Spectroscopy of the Habitable Zone Planet TRAPPIST-1 e. The Astrophysical Journal Letters, 990(2), L52.
  • Hochman, A., De Luca, P., & Komacek, T. D. (2022). Greater climate sensitivity and variability on TRAPPIST-1e than Earth. The Astrophysical Journal, 938(2), 114.
  • Krissansen-Totton, J., Garland, R., Irwin, P., & Catling, D. C. (2018). Detectability of biosignatures in anoxic atmospheres with the James Webb Space Telescope: A TRAPPIST-1e case study. The Astronomical Journal, 156(3), 114.
  • Mak, M. T., Sergeev, D. E., Mayne, N., Banks, N., Eager-Nash, J., Manners, J., ... & Kohary, K. (2024). 3D simulations of TRAPPIST-1e with varying CO2, CH4, and haze profiles. Monthly Notices of the Royal Astronomical Society, 529(4), 3971-3987.
  • Pidhorodetska, D., Fauchez, T. J., Villanueva, G. L., Domagal-Goldman, S. D., & Kopparapu, R. K. (2020). Detectability of molecular signatures on TRAPPIST-1e through transmission spectroscopy simulated for future space-based observatories. The Astrophysical Journal Letters, 898(2), L33.
  • Sergeev, D. E., Lewis, N. T., Lambert, F. H., Mayne, N. J., Boutle, I. A., Manners, J., & Kohary, K. (2022). Bistability of the atmospheric circulation on TRAPPIST-1e. The Planetary Science Journal, 3(9), 214.
  • Wang, B., Ye, S., Varela, J., & Luo, X. (2025). Magnetohydrodynamic simulations preliminarily predict the habitability and radio emission of TRAPPIST-1e. Astronomy & Astrophysics, 701, A264.
Riza adalah astronom amatir yang telah menulis konten astronomi sejak tahun 2012. Riza secara aktif menjadi mentor kelas astronomi di BelajarAstro.com. Hubungi lewat riza@belajarastro.com.

Posting Komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.