Gabung menjadi member BelajarAstro KLUB yuk! Cek benefitnya~

Saran pencarian

Mengenal Mikronova, Jenis Baru Ledakan Bintang di Alam Semesta

Supernova mungkin merupakan istilah astronomi yang sudah cukup familiar, bahkan bagi yang masih awam. Namun, tahukah kamu kalau para astronom baru saj
Ilustrasi. Kredit: ESO/M. Kornmesser, L. Calçada

Info Astronomy - Supernova mungkin merupakan istilah astronomi yang sudah cukup familiar, bahkan bagi yang masih awam. Namun, tahukah kamu kalau para astronom baru saja menemukan jenis ledakan bintang baru? Perkenalkan, mikronova.

Menggunakan data pengamatan dari Very Large Telescope (VLT) milik European Southern Observatory (ESO) yang terletak di Gurun Atacama, Chile, para astronom telah mengamati jenis ledakan bintang baru yang disebut sebagai mikronova. Menurut para astronom, satu ledakan mikronova bisa menghabiskan materi bintang sebanyak 3,5 miliar kali Piramida Giza hanya dalam beberapa jam!

"Untuk pertama kalinya, kami telah menemukan dan mengidentifikasi sebuah fenomena yang disebut mikronova,” kata Simone Scaringi, astronom di Durham University di Inggris yang memimpin studi tentang mikronova ini, diterbitkan kemarin (20/4) di jurnal Nature.

"Fenomena ini telah menantang pemahaman kita tentang bagaimana ledakan termonuklir pada bintang dapat terjadi. Sebelumnya, kami berpikir bahwa kami telah memahami ledakan bintang, tetapi penemuan ini membuat kami belajar hal yang sangat baru dan belum pernah diamati sebelumnya."

Mikronova adalah fenomena ledakan bintang yang cukup ektsrem, tetapi terjadi dalam skala kecil (itulah kenapa disebut "mikro"). Fenomena ini kurang energik daripada ledakan bintang yang dikenal sebagai nova, yang telah diketahui para astronom selama berabad-abad terakhir.

Meski begitu, baik mikronova dan nova, kedua jenis ledakan ini sama-sama terjadi pada katai putih, sisa-sisa mayat bintang bermassa rendah yang mati dengan massa sebesar Matahari kita, tetapi diameternya sekecil Bumi.

Sebelumnya, mari kita mengenal nova.

Ketika bintang bermassa rendah, salah satunya Matahari, kehabisan bahan bakarnya untuk mengalami reaksi fusi hidrogen menjadi helium, mereka akan mulai membakar helium dan membengkak ukurannya menjadi sangat besar. Dan ketika heliumnya juga habis, hanya tersisa karbon di inti bintang tersebut.

Pada titik itu, bintang bermassa rendah yang kehabisan helium ini tidak cukup panas untuk membakar karbon. Runtuh lah bintang tersebut oleh gravitasinya sendiri karena reaksi fusi yang telah berhenti sehingga tidak lagi bisa menopang sang bintang.

Runtuhnya bintang bermassa rendah akan memampatkan intinya menjadi sangat kecil, sampai seukuran Bumi, tetapi amat sangat padat, sehingga gravitasinya begitu kuat. Objek inilah yang dikenal sebagai katai putih.

Nah, karena gravitasinya yang kuat, katai putih, jika berada dalam sistem bintang biner, dapat mencuri materi dari bintang pendampingnya, yang sebagian besar adalah hidrogen. Saat materi yang ditransfer dari bintang pendamping ke katai putih ini jatuh ke permukaan katai putih yang sangat panas, maka akan memicu atom hidrogen untuk melebur menjadi helium secara eksplosif.

Dalam fenomena nova, ledakan termonuklir ini terjadi di seluruh permukaan bintang. Ledakan nova semacam itu akan membuat seluruh permukaan katai putih terbakar dan bersinar terang selama beberapa pekan.

Mikronova adalah ledakan serupa dengan nova, hanya saja skalanya lebih kecil dan terjadi lebih cepat, hanya berlangsung beberapa jam. Mikronova terjadi pada katai putih dengan medan magnet yang kuat, yang menyalurkan materi yang ditransfer dari bintang pendamping dalam sistem biner menuju kedua kutub magnet bintang.

Saat hal itu terjadi, reaksi fusi hidrogen pun terpicu secara lokal, tepatnya di kedua kutub katai putih.


Fusi hidrogen di kedua kutub katai putih ini menyebabkan ledakan secara mikro, yang memiliki kekuatan sekitar sepersejuta ledakan nova. Namun, jangan salah, ledakan mikronova masih dapat membakar sekitar 20.000 triliun kilogram materi katai putih!

Scaringi dan rekan-rekannya pertama kali menemukan ledakan mikronova misterius ini ketika mereka sedang menganalisis data dari Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) milik NASA.

"Melalui data astronomi yang dikumpulkan oleh TESS, kami menemukan sesuatu yang tidak biasa: kilatan cahaya optik yang terang yang berlangsung hanya selama beberapa jam. Setelah pencarian lebih lanjut, kami menemukan beberapa sinyal serupa," kata Nathalie Degenaar, astronom di Universitas Amsterdam, Belanda, salah satu anggota tim Scaringi.

Tim astronom ini mengamati tiga mikronova dengan TESS: dua berasal dari katai putih yang telah diketahui, tetapi yang ketiga memerlukan pengamatan lebih lanjut dengan instrumen X-shooter pada VLT untuk mengonfirmasi status katai putihnya.

Penemuan mikronova menambah daftar ledakan bintang yang diketahui selain supernova, hipernova (ledakan yang lebih besar dari supernova), dan kilonova (ledakan yang terjadi akibat tabrakan bintang neutron).

Sumber:
  • Scaringi, S., Groot, P.J., Knigge, C. dkk. (2022). Localized thermonuclear bursts from accreting magnetic white dwarfs. Nature 604, 447–450.
  • Acciari, V. A., Ansoldi, S., Antonelli, L. A., Arbet Engels, A., Artero, M., Asano, K., ... & Pihet, M. (2022). Proton acceleration in thermonuclear nova explosions revealed by gamma rays. Nature Astronomy, 1-9.
Ada perlu? Hubungi saya lewat riza@belajarastro.com

Posting Komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.