-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

Para Astronom Temukan Supernova Jenis Baru

Info Astronomy - Saat sedang mengamati langit malam pada Maret 2018, astronom amatir asal Jepang bernama Koichi Itagaki melihat letupan cahaya yang tidak biasa. Dia lantas dengan cepat melaporkan temuannya, mendorong astronom lain untuk mengonfirmasi apa yang ia temukan: Sebuah supernova, berjarak 31 juta tahun cahaya jauhnya dari Bumi.

Tiga jam setelah ledakan supernova itu terjadi, sekelompok tim astronom internasional langsung mengamati dan mengumpulkan data sebanyak-banyaknya. Dan sekarang, setelah bertahun-tahun pengumpulan dan analisis data, tim astronom tersebut mengonfirmasi bahwa supernova yang diamati oleh Itagaki pada tahun 2018, yang dikatalogkan sebagai SN 2018zd, bukan sembarang supernova, melainkan jenis baru supernova: Electron-capture supernova, atau supernova penangkap elektron.
Selama ini, hanya ada dua jenis supernova yang diketahui. Supernova tipe Ia, yang terjadi ketika sebuah katai putih kecil bermassa rendah (kurang dari delapan kali Massa matahari kita) dalam sistem biner menarik materi dari bintang pendampingnya sehingga ia meledak, dan supernova tipe II, yang terjadi dari keruntuhan bintang masif yang massanya lebih dari 10 kali massa Matahari kita.

Adalah astronom bernama Ken'ichi Nomoto dari Universitas Tokyo yang memprediksi adanya supernova tipe ketiga, supernova penangkap elektron, pada tahun 1980. Berdasarkan model penelitiannya, Nomoto dan rekan-rekan astronomnya menjelaskan bahwa kandidat terbaik untuk supernova penangkap elektron adalah bintang raksasa merah. Dalam hipotesis mereka, raksasa merah akan menumpahkan sebagian besar massanya sebelum memicu ledakan yang relatif kecil.

Menggunakan data gambar yang diperoleh dari Teleskop Antariksa Hubble, para astronom menemukan bahwa bintang yang meledak sebagai SN 2018zd memang merupakan jenis bintang raksasa merah tua. Melihat bintang sebelum dan sesudah supernova membantu tim astronom ini memastikan bahwa karakteristiknya cocok dengan apa yang telah diprediksi Nomoto beberapa dekade yang lalu.
Menariknya, temuan ini juga telah memecahkan misteri tentang salah satu objek paling terkenal di langit, Nebula Kepiting. Para astronom percaya bahwa nebula yang satu ini mungkin merupakan sisa dari supernova yang meledak pada tahun 1054 M, serta kemungkinan juga berasal dari supernova penangkap elektron, seperti SN 2018zd.

Supernova penangkap elektron dikatakan sebagai “mata rantai yang hilang” antara supernova tipe Ia dan tipe II. Bintang yang meledak dalam jenis supernova penangkap elektron memiliki massa menengah sekitar 7,5 hingga 10 kali massa Matahari kita, massa yang terlalu besar untuk berakhir sebagai supernova tipe Ia, tetapi masih kurang cukup besar untuk menjadi supernova tipe II.

Lalu, kenapa disebut "penangkap elektron"? Di dalam inti bintang yang akan meledak dalam supernova jenis ini terdapat atom oksigen, neon, dan magnesium. Ketika inti bintang tersebut menjadi terlalu padat, atom neon dan magnesium akan mulai menyerap elektronnya, yang merupakan partikel yang terikat pada nukleus atau inti atom. Penyerapan elektron ini dikenal sebagai reaksi penangkapan elektron.

Elektron biasanya akan menjaga tekanan inti bintang tetap tinggi. Tetapi ketika elektron diserap, tekanan inti bintang akan berkurang secara signifikan. Akhirnya inti bintang tersebut runtuh dan bintang meledak. Boom! Itulah supernova penangkap elektron.

Kini, hipotesis yang dikemukakan oleh Namoto pada tahun 1980 sudah memiliki bukti fenomenanya di dunia nyata. Dengan membaca artikel ini, kamu sudah memperbarui pemahaman mengenai jenis baru supernova.

Temuan ini telah dipublikasikan di Nature Astronomy.