-->
Merasa artikel-artikel di InfoAstronomy.org menarik dan bermanfaat untukmu? Dukung kami dengan klik di sini.

ID2299: Galaksi yang Tak Mampu Lagi Membentuk Bintang

Info Astronomy - Tidak hanya manusia yang bisa mengalami kematian, sebuah galaksi pun bisa dianggap mati ketika mereka tidak mampu lagi membentuk bintang-bintang baru karena kehabisan gas dan debu. Perlahan, galaksi-galaksi yang mati itu akan berubah warna menjadi merah karena bintang-bintang mudah kebiruannya meledak dalam supernova.

Fenomena kematian galaksi ini akan terjadi pada semua galaksi di alam semesta. Meski begitu, para astronom belum pernah melihat dengan jelas seperti apa awal dari proses galaksi yang akan mati, sampai penelitian terbaru ini akhirnya muncul.

Dalam sebuah penelitian yang makalah ilmiahnya diterbitkan di Nature Astronomy, sekelompok astronom internasional memperkenalkan kita pada galaksi ID2299, berjarak sekitar 9 miliar tahun cahaya dari Bumi. Galaksi yang satu ini dikenal sebagai "Galaksi Starburst" karena mampu membentuk bintang 550 kali lebih cepat dari pada yang bisa dilakukan galaksi kita, Bimasakti.

Namun, pada saat yang sama sang galaksi membentuk bintang, ia juga kehilangan gas dan debu secara cepat. Bayangkan saja, setiap tahunnya, galaksi ini kehilangan material pembentuk bintang dengan jumlah setara dengan 10.000 Matahari ke ruang antargalaksi, yang mana fenomena tersebut telah membuatnya tampak memiliki "ekor".
Kehilangan material tersebut telah membuat 46% dari semua gas dan debu pembentuk bintang pada galaksi ini lenyap. Dalam beberapa puluh juta tahun lagi, sang galaksi akan benar-benar kehabisan material pembentuk bintang dan menjadi galaksi mati seutuhnya.

Hal ini cukup mencengangkan para astronom mengingat saat ini "baru" 4,5 miliar tahun setelah Big Bang, era di mana galaksi-galaksi di alam semesta seharusnya masih mampu menghasilkan bintang-bintang baru. Tampaknya, pemahaman kita tentang evolusi galaksi harus diubah.

"Ini adalah pertama kalinya kami mengamati galaksi pembentuk bintang masif di alam semesta yang akan mati karena pelepasan material pembentuk bintang secara besar-besaran," kata penulis utama penelitian ini, Dr. Annagrazia Puglisi, dari Universitas Durham di Inggris, seperti dilansir laman ALMA Observatory.

Apa penyebab dari kematian galaksi ini yang begitu cepat? Menurut Dr. Puglisi dan rekan-rekannya, penyebabnya adalah tabrakan dengan galaksi lain. Tabrakan dan merger galaksi sering kali memberikan kehidupan baru bagi galaksi, membawa gas dan debu baru yang dapat memicu pembentukan bintang yang intens.

Pengamatan dan penelitian terhadap galaksi ini sendiri dilakukan dengan menggunakan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA), yang saat ini masih merupakan teleskop radio terbesar di dunia. Tim astronom ini berharap dapat menggunakan ALMA sekali lagi untuk mempelajari galaksi ini dan ekor gasnya secara lebih rinci.

Dr. Puglisi dan rekan-rekannya juga berharap untuk bisa mengamati galaksi ID2299 dalam panjang gelombang cahaya tampak dengan instrumen teleskop generasi mendatang seperti Extremely Large Telescope yang dijadwalkan pembangunannya rampung pada tahun 2025 mendatang.