Mengenal Kerdil Cokelat, Bukan Bintang dan Bukan Planet

Info Astronomy - Selain bintang dan planet, alam semesta juga berisi suatu benda yang kalau dibilang bintang massanya terlalu rendah, tapi kalau dianggap planet ia terlalu besar. Para astronom menyebutnya sebagai kerdil cokelat.

Menurut Northwestern.edu, jumlah massa bintang ketika ia lahir merupakan hal utama yang menentukan nasibnya kelak. Bintang adalah benda semesta yang terlahir dengan massa besar, dan karena itu memiliki gravitasi yang kuat pula. Pada gilirannya, massa yang besar ini dapat menciptakan suhu internal yang tinggi dalam inti bintang.

Nah, suhu tinggi tersebut akhirnya memicu reaksi fusi termonuklir, yang memungkinkan bintang dapat bersinar. Planet, sebaliknya, memiliki massa yang jauh lebih kecil, gravitasi yang lebih lemah dan tidak ada fusi internal di intinya.

Dilansir EarthSky, bintang terbentuk dari runtuhnya gas dan debu di awan antarbintang primordial. Dengan begitu, bintang cenderung memiliki jumlah yang relatif rendah dari apa yang para astronom sebut sebagai logam (unsur yang lebih berat daripada hidrogen dan helium).

Dalam inti bintang, terjadi penggabungan dua atom hidrogen menjadi helium. Proses fusi inilah yang menyebabkan keluaran berupa panas dan energi, sehingga bintang bisa bersinar. Fusi juga menciptakan tekanan keluar untuk melawan tekanan ke dalam yang dilakukan oleh gravitasi sang bintang.

Planet diketahui terbentuk dari sisa-sisa awan gas dan debu antarbintang yang telah membentuk bintang. Segera setelah terbentuk, beberapa bintang masih menyisakan awan debu dan gas itu yang mengelilinginya sebagai cakram, persis seperti cincin Saturnus.

Nah, di dalam cakram yang disebut sebagai cakram protoplanet itu, planet-planet terbentuk dari tabrakan antara debu dan gas di sana, yang seiring waktu menggumpal membentuk bola planet sebesar Merkurius hingga Jupiter.

Lalu, ditemukanlah kerdil cokelat.
Kerdil cokelat diketahui terbentuk dengan runtuhnya materi dalam awan gas dan debu layaknya bintang. Dalam proses pembentukannya itu, kerdil cokelat memiliki massa yang lebih tinggi daripada planet sehingga memiliki gravitasi yang lebih kuat, dan dengan demikian mereka memiliki unsur-unsur yang lebih ringan (hidrogen dan helium).

Satu-satunya kegagalan kerdil cokelat adalah mereka tidak mengumpulkan cukup material dari awan gas dan debu tempat mereka lahihr untuk memulai fusi hidrogen, yang mana yang terjadi pada inti kerdil cokelat hanyalah fusi deuterium. Dengan begitu, kerdil cokelat tidak bersinar layaknya bintang, tetapi terlalu besar untuk dikategorikan sebagai planet.

Kerdil cokelat sendiri pertama kali diusulkan keberadaannya pada tahun 1960 oleh astronom Shiv S. Kumar, yang awalnya menyebut benda-benda ini sebagai kerdil hitam. Lalu, istilah "kerdil cokelat" baru dicetuskan oleh astronom dan peneliti SETI, Jill Tarter dalam disertari gelar Ph.D. miliknya. Dia ingin menentukan batas atas massa maksimum yang bisa dimiliki sebuah benda sebelum memulai fusi hidrogen, dan dengan demikian menjadi bintang sejati.

Kerdil cokelat kini diketahui berada dalam kisaran 30 hingga 226 derajat Celsius, yang membuat mereka hanya memancar dalam inframerah dari spektrum elektromagnetik. Para astronom pun menentukan bahwa kerdil cokelat biasanya didefinisikan sebagai benda apa pun yang memiliki massa di antara mulai 13 hingga 80 kali massa Jupiter.
BERIKAN KOMENTAR ()