Hiperion: Supergugus Galaksi Terbesar yang Pernah Ditemukan

Ilustrasi Hiperion. Kredit: ESO/L. Calçada & Olga Cucciati
Info Astronomy - Menggunakan Very Large Telescope, sekelompok astronom berhasil menemukan sekumpulan besar galaksi, atau supergugus galaksi, yang diperkirakan telah terbentuk sekitar 2,3 miliar tahun setelah Big Bang. Supergugus galaksi itu pun kini menjadi objek terbesar yang pernah ditemukan di jagat raya.

Bagaimana tidak, massa struktur ini hampir mencapai 5.000.000.000.000.000 kali dari massa Matahari, atau hampir 10.000 kali lebih masif dari massa galaksi kita, Bimasakti. Para astronom yang menemukannya menamakan supergugus galaksi ini sebagai Hiperion, nama yang diambil dari tokoh mitologi Yunani yang merupakan ayah dari Matahari.

Supergugus galaksi sendiri memang merupakan struktur terbesar di alam semesta. Mereka merupakan sekumpulan galaksi yang terikat bersama-sama oleh gravitasi. Sebuah supergugus galaksi bisa memiliki diameter ratusan hingga jutaan tahun cahaya.

Memang, sudah banyak supergugus galaksi seukuran Hiperion ini yang telah ditemukan, tetapi para astronom dibuat terkejut menemukan bahwa Hiperion merupakan struktur yang terbentuk di alam semesta awal. Ia terbentuk segera setelah alam semesta dimulai.

"Ini adalah pertama kalinya struktur besar seperti (Hiperion) itu berhasil diidentifikasi pada pergeseran merah yang tinggi, lebih dari 2 miliar tahun setelah Big Bang," tutur salah satu astronom dalam studi ini, Olga Cucciati, dilansir ESO. "Adalah sebuah kejutan bisa melihat struktur besar ini berevolusi ketika alam semesta relatif muda."

Terletak di arah rasi bintang Sextans dalam pandangan dari Bumi, Hiperion diidentifikasi dengan menganalisis sejumlah besar data yang diperoleh dari VIMOS Ultra-Deep Survey yang dipimpin oleh Olivier Le Fèvre dari Aix-Marseille Université. VIMOS Ultra-Deep Survey menyediakan peta 3D yang berisi distribusi lebih dari 10.000 galaksi di alam semesta awal.

Tim astronom ini menemukan bahwa Hiperion memiliki struktur yang sangat kompleks, mengandung setidaknya 7 daerah dengan kepadatan tinggi yang saling terhubung melalui filamen galaksi. Masing-masing dari 7 daerah berkepadatan tinggi tersebut diketahui memiliki massa sekitar 2,7 x 10^14 kali massa Matahari.

ScienceAlert mencatat, Hiperion juga dianggap mirip dengan supergugus galaksi yang berjarak lebih dekat ke Bumi (supergugus galaksi rumah kita, Virgo, yang diperkirakan mengandung lebih dari 47.000 galaksi), meskipun strukturnya sedikit berbeda.

"Supergugus galaksi (Virgo) yang lebih dekat dengan Bumi cenderung memiliki distribusi massa yang jauh lebih terkonsentrasi dengan fitur struktural yang jelas," kata astronom Brian Lemaux dari Universitas California. "Tapi di Hiperion, massa didistribusikan jauh lebih seragam."

Mengingat ukurannya yang sudah begitu besar padahal masih berusia muda, Hiperion diperkirakan masih akan terus berkembang menjadi sesuatu yang lebih besar lagi.

"Memahami Hiperion dan membandingkannya dengan struktur serupa di alam semesta lokal dapat memberikan wawasan tentang bagaimana alam semesta berkembang di masa lalu dan akan berkembang ke masa depan," Cucciati menyimpulkan. "Mengungkap struktur kosmis raksasa ini membantu kita mengungkap sejarah alam semesta."

Penelitian tim ini akan muncul dalam jurnal Astronomy & Astrophysics, dan dapat dibaca pra-cetaknya di arXiv.
BERIKAN KOMENTAR ()