Akankah Pluto Dianggap Sebagai Planet Lagi?

Pluto. Kredit: NASA/JHUAPL/SwRI
Info Astronomy - Pluto, seperti yang kamu tahu, "diturunkan" statusnya dari planet ke planet kerdil oleh Persatuan Astronomi International (IAU) pada 2006, setelah mereka mendefinisikan ulang kriteria baru untuk planet. Tapi, sejak keputusan kontroversial itu, pendukung setia Pluto banyak yang tak setuju.

Pendukung setia Pluto yang paling menonjol adalah Alan Stern dan David Grinspoon, seorang astrobiologis yang juga peneliti utama misi New Horizons ke Pluto. Mereka bahkan sempat menulis artikel di Washington Post yang bertajuk "Make Pluto Great Again" (atau artinya mari buat Pluto dianggap sebagai planet lagi).

Definisi IAU tahun 2006 mengharuskan objek langit untuk memenuhi tiga syarat utama bila ingin dianggap planet. Pertama, objek itu harus mengorbit Matahari. Kedua, harus memiliki gravitasi yang cukup untuk membuat dirinya berbentuk bulat (atau hampir bulat).

Ketiga, objek langit itu harus membersihkan lingkungan di sekitar orbitnya bebas dari benda-benda langit lain, seperti asteroid misalnya. Nah, karena Pluto dikelilingi dengan segerombol objek Sabuk Kuiper yang mirip dengan dirinya, itulah mengapa ia tidak sesuai dengan definisi baru IAU dan pada akhirnya diklasifikasikan ulang sebagai planet kerdil.

Stern dan Grinspoon menulis bahwa definisi itu "dirancang dengan terburu-buru" dan mengandung "banyak kecacatan". Bagaimanapun, menurut definisi itu, berarti Bumi bukanlah planet karena memiliki banyak asteroid di lingkungannya yang belum dibersihkan.

Lebih jauh lagi, definisi ini tidak mempertimbangkan keberadaan eksoplanet, planet-planet yang mengorbit bintang selain Matahari yang tak terhitung jumlahnya. Semakin banyak eksoplanet yang kita temukan, semakin tampak bahwa definisi IAU tidak beres, begitu menurut Stern dan Grinspoon.

Sebaliknya, Stern dan Grinspoon berpendapat bahwa istilah "planet" harus didasari oleh sifat geofisika intrinsik sebuah benda langit, bukan hanya dari sifat orbitalnya saja.

"Kami menggunakan 'planet' untuk mendeskripsikan objek langit dengan kualitas tertentu," jelas Stern dan Grinspoon, dilansir IFLScience. "Misalnya ketika kami melihat objek langit seperti Pluto, dengan banyak fitur di permukaannya seperti pegunungan es, gletser nitrogen, bahkan langit biru dengan lapisan kabut, kami rasa itu cukup untuk menyebutnya sebagai 'planet'."

Dalam argumennya, Alan Stern lebih lanjut mengatakan bahwa IAU terutama terdiri dari non-ahli, yakni para astronom yang lebih fokus mempelajari lubang hitam dan galaksi. Menurutnya, sebuah organisasi dengan ilmuwan keplanetan mungkin lebih tepat.

Entah status Pluto akan dikembalikan sebagai planet atau tidak, satu hal yang lebih pasti, perdebatan mengenai status Pluto ini masih akan terus berlanjut.
BERIKAN KOMENTAR ()