Bagaimana Bisa Kita Tahu Bakal Ada Gerhana Matahari?

Gerhana Matahari. Kredit: Getty Images
Info Astronomy - Sebuah peristiwa Gerhana Matahari Total bakal terlihat di langit Indonesia pada 9 Maret 2016. Tapi tahukah Anda bagaimana cara kita dan para astronom untuk bisa mengetahui bakal terjadinya gerhana Matahari (dan gerhana Bulan)? Berikut penjelasannya.

Istilah gerhana biasa digunakan untuk menyebut peristiwa di mana suatu benda memasuki bayangan benda yang lain. Gerhana Matahari terjadi ketika posisi Bulan berada diantara Matahari dan Bumi atau konjungsi, sehingga bayangan Bulan jatuh di permukaan Bumi, sedangkan gerhana Bulan terjadi ketika Bumi berada di antara Matahari dan Bulan atau oposisi sehingga Bulan memasuki bayangan Bumi.

Namun, tidak setiap kunjungsi dan oposisi terjadi gerhana karena kemiringan orbit Bulan yang memotong orbit Bumi terhadap Matahari sebesar 5°.

Jika suatu ketika Bulan berada segaris di antara Matahari dan Bumi atau posisi Matahari minimal berada di sekitar 18.5° dari titik hubung baik sebelah timur maupun sebelah barat, Bulan akan menghalangi cahaya Matahari yang menuju ke permukaan Bumi. Inilah yang menyebabkan terjadinya gerhana Matahari.

Namun, karena piringan Bulan lebih kecil dari piringan Bumi, gerhana Matahari hanya bisa terlihat di daerah tertentu di permukaan Bumi. Dan begitu juga dengan gerhana Bulan, gerhana hanya bisa terjadi ketika Bumi berada dalam satu garis lurus di antara Matahari dan Bulan atau minimal Bulan berada di 16.5° dari titik hubung. Namun gerhana bulan dapat dilihat di seluruh permukaan Bumi yang mengalami malam.

Gerhana Matahari terjadi jika Matahari berada dalam selang 37º yang berpusat di titik node. Karena Matahari di langit bergerak dengan kecepatan ~1º perhari, dibutuhkan kira-kira 37 hari untuk melintasi daerah tersebut. Sedangkan fase Bulan baru terjadi tiap 29,5 hari. Karena itu, ketika Matahari berada dalam selang tersebut, minimal terjadi satu kali fase Bulan baru.

Dengan kata lain, setiap musim gerhana, dipastikan akan terjadi gerhana Matahari. Minimal dalam satu tahun, bisa terjadi 2 kali gerhana Matahari, dan maksimal 5 kali gerhana Matahari.

Akibat gangguan gravitasi pada orbit Bulan, titik nodal tidak tetap posisinya. Titik nodal bergeser ke arah barat dengan periode 18,6 tahun. Dengan kombinasi periodisitas Bulan baru dan jarak Bumi-Bulan maka diperoleh periodisitas gerhana yang disebut dengan periode saros. Gerhana dengan nomor seri saros yang sama mempunyai kemiripan sifat sehingga para astronom menggunakan periode ini untuk meramalkan terjadinya gerhana sampai ribuan tahun ke depan.

Kata saros berasal dari bahasa Babilonia “sharu”, yang mununjukkan pengertian suatu ukuran yang bernilai 3600. Kata ini pertama kali digunakan sebagai istilah periode gerhana oleh Edmon Halley pada tahun 1691. Lama satu Periode saros sekitar 18 tahun 11 bulan yang terdiri atas 14 tahun umum + 4 tahun kabisat + 11.322 hari atau 13 tahun umum + 5 tahun kabisat + 10.322 hari.

Meskipun terkesan rancu dengan makna sebenarnya penggunaan kata saros sebagai periode pegulangan gerhana tetap digunakan sampai sekarang. Dengan perhitungan dan tabel saros para astronom memprediksikan gerhana dari aspek jenis, visibilitas dan kronologis gerhana sejak 2000 SM sampai 3000 M!

Dalam sejarah kuno, para astronom Babilonia telah melakukan observasi dan perhitungan terhadap gerhana dan mencatat bahwa gerhana Matahari dan Bulan terjadi dalam rangkaian dan periode waktu tertentu. Catatan ini ditemukan oleh Thales dan kemudian dijadikan dasar perhitungan gerhana olehnya. Lama waktu dalam satu periode Saros merupakan keselarasan alam antara tiga peride orbit Bulan, yaitu siklus Bulan Sinodik, siklus Bulan Anomalistik dan siklus Bulan Drakonik.

Satu periode sinodik merupakan selang waktu 29, 53059 hari yang dibutuhkan Bulan untuk kembali dari fase Bulan baru ke Bulan baru berikutnya, periode anomalistik merupakan selang waktu 27, 55444 hari yang dibutuhkan Bulan untuk satu kali mengorbit Bumi dan kebali dengan jarak yang sama, sedangkan periode drakonik merupakan interval waktu 27.1222 hari yang dibutuhkan Bulan untuk kembali berada di titik simpul yang sama.

Periode saros (18 tahun 11 hari) adalah 223 kali Bulan sinodis. Gerhana yang dipisahkan oleh 223 Bulan sinodis memiliki karakteristik yang sama karena 223 Bulan sinodis (6585,321 hari) itu kurang lebih sama dengan 242 Bulan drakonis (6585,357 hari). Artinya pada selang satu periode saros, Bulan kembali pada fase yang sama pada titik node yang sama juga.

Sementara itu, 223 Bulan sinodis itu juga kurang lebih sama dengan 239 Bulan anomalistis (6585,537 hari). Ini membuat selang satu periode saros selain mengembalikan Bulan pada fase yang sama pada titik node yang sama, juga mengembalikan Bulan pada jarak yang sama dari Bumi. Karenanya, gerhana yang dipisahkan oleh periode saros akan memiliki karakteristik yang mirip.

Namun, akibat panjang periode saros yang panjang harinya memiliki pecahan (kira-kira 1/3), maka saat gerhana berikutnya yang terpisahkan oleh satu periode saros terjadi, Bumi telah berputar kira-kira 1/3 hari. Karena itu, lintasan gerhana yang berselang satu periode akan bergeser 120º ke arah barat dan waktu gerhana juga akan bertambah 8 jam dari waktu gerhana sebelumnya.

Dan pada siklus saros ketiga (54 tahun 31 hari, atau 19756 hari), gerhana dengan sempurna bisa diamati pada wilayah geografi yang sama dengan waktu dan karakteristik yang sama pula, periode 3 siklus saros ini dikenal istilah Periode Exeligmos.

Para astronom menggunakan periode saros untuk mengelompokkkan gerhana-gerhana menjadi beberapa seri saros. Satu seri saros dapat berlangsung sampai 1226-1550 tahun dengan jumlah gerhana berkisar 70-82 yang terdiri dari gerhana total, pastial, cincin maupun penumbra.

Ada sekitar 204 kelompok seri saros gerhana Matahari dan gerhana Bulan. Untuk gerhana Matahari sistem penomorannya mulai -13 sampai 190 sedang untuk gerhana Bulan sistem penomorannya mulai -20 sampai 186.

Seperti yang disebutkan di atas, gerhana-gerhana yang dipisahkan oleh periode saros dikelompokkan menjadi sebuah seri saros. Sebuah seri saros tidak akan bertahan selamanya, karena satu periode itu lebih pendek 1/2 hari dari 19 tahun gerhana, ia lahir dan mati, dan beranggotakan sejumlah tertentu gerhana. 

Akibatnya, setelah satu periode saros, titik node akan bergeser 0,5º ke arah timur. Karenanya, setelah lewat sejumlah periode saros tertentu, jarak titik node sudah sedemikian jauh dari Matahari/Bulan sehingga tidak memungkinkan lagi terjadinya gerhana. Saat itu terjadi, seri saros yang bersangkutan akan mati, dan seri saros baru akan lahir.

Gerhana Matahari terdekat saat ini adalah pada tanggal 9 Maret 2016, klik infoastronomy.org/gerhanamatahari2016 untuk mengikuti update informasinya.
Bagaimana Bisa Kita Tahu Bakal Ada Gerhana Matahari? Bagaimana Bisa Kita Tahu Bakal Ada Gerhana Matahari? Reviewed by Riza Miftah Muharram on 2/18/2016 10:30:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.