Wajib Lihat! Inilah Jadwal Peristiwa Langit Desember 2017

Kredit foto: Pexels.com
Info Astronomy  - Akhirnya, tiba juga kita di bulan penghujung tahun 2017. Desember ini, walaupun sudah masuk musim hujan, masih ada beberapa peristiwa langit yang dapat diamati. Mulai dari supermoon sampai hujan meteor. Penasaran? Berikut jadwal lengkapnya!

3 Desember 2017: Bulan Purnama

Desember akan dibuka dengan peristiwa Bulan purnama. Ini adalah Bulan purnama terakhir untuk tahun 2017. Bulan purnama bulan ini akan berada pada jarak terdekatnya ke Bumi, atau dalam astronomi disebut sebagai perigee.

Ini berarti Bulan purnama nantinya akan tampak sedikit lebih besar dan lebih terang daripada Bulan purnama lainnya yang terjadi sepanjang tahu ini, meski tidak terlalu jelas perbedaannya bila Anda hanya melihatnya dengan mata telanjang.

Fase Bulan purnama secara astronomis terjadi pada 3 Desember 2017 pukul 22.48 WIB, sementara Bulan baru mencapai titik perigee pada 4 Desember 2017 pukul 15.46 WIB. Pada saat mencapai perigee, Bulan akan berada pada jarak 357.000 km dari Bumi, dan muncul dengan diameter sudut 33,41 detik busur, sehingga bisa disebut sebagai supermoon.

6 Desember 2017: Konjungsi Saturnus dengan Merkurius

Planet Saturnus dan Merkurius akan berada pada titik asensio rekta yang sama, dengan keduanya yang akan terpisah sejauh 1°21' satu sama lain. Namun sayangnya, di langit Indonesia pasangan benda langit ini cukup sulit untuk diamati. Sebab mereka akan mencapai titik tertinggi di langit pada siang hari dan tidak akan lebih tinggi dari 7° di atas cakrawala saat senja.

Lihat gambar di bawah:

Letak Saturnus dan Merkurius yang rendah di langit barat, 6 Desember 2017. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Pada saat konjungsi, planet Saturnus akan bersinar dengan magnitudo 0,4 dan Merkurius dengan magnitudo 1,3. Keduanya akan berada di rasi bintang Sagitarius. Pasangan benda langit ini akan terlalu luas terpisahkan untuk muat dalam satu bidang pandang teleskop, namun akan terlihat dengan mata telanjang atau melalui binokuler.

10 Desember 2017: Fase Bulan Kuartir Akhir

Bulan akan mencapai fase kuartir akhir pada pukul 14.53 WIB di tanggal ini. Sehingga ia akan terbit sekitar tengah malam dan akan tampak sampai dengan tengah hari.

Kita bisa melihat Bulan kuartir akhir mulai pukul 23.54 waktu setempat daerah masing-masing, atau sekitar 5 jam 37 menit sebelum Matahari terbit. Kala itu, Bulan akan berada di arah timur.

Bulan lalu akan mencapai ketinggian 73° di atas cakrawala sekitar pukul 05.11 waktu setempat daerah Anda.

14 Desember 2017: Konjungsi Bulan dengan Planet Mars

Inilah kesempatan terbaik untuk menemukan planet Mars, sebab Bulan akan memandu Anda untuk menemukannya di langit malam. Mars, dalam pandangan mata telanjang, akan tampak bagaikan bintang merah terang yang tidak berkelap-kelip.

Konjungsi Bulan-Mars, 14 Desember 2017. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Pengamatan bisa mulai dilakukan pada pukul 03.15 dini hari. Pada saat itu, Bulan dan Mars akan berada di atas 10° dari cakrawala timur, dengan Mars yang akan berada sejauh 4° di arah atas Bulan yang sudah berusia 25 hari.

Pada saat konjungsi, Bulan akan bersinar dengan magnitudo -10,7 dan Mars dengan magnitudo 1,6. Keduanya berada di rasi bintang Virgo.

13-14 Desember 2017: Hujan Meteor Geminid

Inilah hujan meteor penutup setiap tahunnya, Geminid. Memuncak setiap tanggal 14 Desember, hujan meteor ini seringakali menampilkan begitu banyak meteor terang hingga fireball. Lalu, bagaimana dengan prospek pengamatan tahun ini?

Hujan meteor sendiri memang merupakan peristiwa periodik. Terjadi saat Bumi melewati arus puing-puing yang ditinggalkan oleh komet dan asteroid. Saat puing-puing tersebut bertemu dengan Bumi, mereka akan masuk ke atmosfer lalu terbakar di ketinggian sekitar 70 sampai 100 km, muncul sebagai "bintang jatuh" atau meteor. Untuk Geminid, meteornya berasal dari asteroid 3200 Phaethon.

Tingkat maksimum kemunculan meteor yang diperkirakan untuk Geminid adalah sekitar 100 meteor per jam (ZHR). Namun, intensitas ini mengasumsikan langit area pengamatan Anda sangat gelap bebas dari gemerlap polusi cahaya kota. Dalam praktiknya, jumlah meteor yang mungkin Anda lihat bisa jadi lebih rendah dari ini.

Titik radian hujan meteor Geminid. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Pengamatan hujan meteor ini bisa dilakukan mulai tanggal 13 Desember 2017 pukul 23.00 waktu lokal. Saat itu, titik radian hujan meteor ini akan berada pada ketinggian sekitar 35° dari cakrawala timur laut persis seperti gambar di atas.

Hujan meteor Geminid bisa terus diamati hingga menjelang Matahari terbit. Bulan akan berusia 26 hari pada saat aktivitas puncak hujan meteor ini, sehingga cahayanya tidak akan menjadi gangguan besar untuk meredupkan meteor-meteor yang melesat.

Tidak butuh teleskop, cukup dengan mata telanjang. Untuk melihat banyak meteor, Anda tidak perlu secara terus-menerus menatap ke arah titik radian, tapi bisa juga ke 30 sampai 40° dari titik radian itu. Hal ini disebabkan karena nantinya meteor-meteor bisa muncul dari segala penjuru langit. Semoga cuaca cerah!

15 Desember 2017: Konjungsi Bulan dengan Jupiter

Bulan dan Jupiter bakal tampak berdekatan satu sama lain, dengan Bulan akan berada pada 4°14' ke utara dari Jupiter. Bulan akan berumur 26 hari.

Konjungsi Bulan-Jupiter, 15 Desember 2017. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Di langit Indonesia, pasangan benda langit ini akan terbit di langit fajar, yakni sekitar pukul 02.57 waktu lokal, atau sekitar 2 jam 37 menit sebelum Matahari terbit. Namun, pengamatan disarankan dilakukan pukul 04.00 dini hari waktu lokal, ketika keduanya berada di atas 10 derajat dari cakrawala timur.

Bulan akan bersinar dengan magnitudo -10,3 dan Jupiter dengan magnitudo -1,8, keduanya berada di rasi bintang Libra.

18 Desember 2017: Fase Bulan Baru

Di tanggal ini, kita tidak akan melihat Bulan, sebab ia akan berkonjungsi dengan Matahari sehingga terjadi fase Bulan baru. Dalam penanggalan hijriyah, fase ini menandakan bergantinya bulan. Bulan baru sendiri secara astronomis terjadi pukul 13.32 WIB.

Setelah beberapa hari pascafase Bulan baru, Bulan akan terbit dan terbenam satu jam kemudian setiap harinya, sehingga ia nantinya bakal terlihat di sore hari sebagai Bulan sabit tipis yang terbenam segera setelah Matahari terbenam.

21 Desember 2017: Solstis Desember

Apa itu solstis? Solstis adalah untuk mendandakan pergerakan semu Matahari akibat rotasi Bumi yang miring sekitar 23,5 derajat. 21 Desember nanti akan menjadi hari terpanjang di tahun 2017 untuk belahan Bumi selatan, mereka akan memasuki pertengahan musim panas.

Ilustrasi bagaimana solstis Desember terjadi. Kredit: Timeanddate.com
Solstis adalah hari dalam setahun ketika Matahari mencapai titik paling selatan di langit, tepatnya di rasi bintang Kaprikornus yang berada pada deklinasi 23,5° lintang selatan. Dengan begitu, orang-orang di belahan Bumi utara akan mengalami siang hari yang lebih sebentar.

Solstis Desember secara astronomis akan terjadi pukul 23.16 WIB.

26 Desember 2017: Fase Bulan Kuartir Awal

Seminggu setelah fase Bulan baru, Bulan akan memasuki fase kuartir awal. Ia akan berada di langit atas kepala saat Matahari terbenam dan lalu akan terbenam saat menjelang tengah malam.

Di Indonesia, Bulan kuartir awal akan terlihat jelas mulai pukul 18.21 waktu lokal saat senja, yakni ketika Bulan berada di ketinggian 82° di atas cakrawala barat laut. Bulan kemudian akan terbenam ke barat sekitar 5 jam 52 menit setelah Matahari terbenam, atau sekitar pukul 23.58 waktu lokal. Fase Bulan kuartir awal adalah saat yang bagus untuk melihat kawah-kawah di permukaan Bulan.

Nah, itulah peristiwa-peristiwa langit yang akan terjadi pada Desember 2017 ini. Selamat mengamati.

Clear skies!
Wajib Lihat! Inilah Jadwal Peristiwa Langit Desember 2017 Wajib Lihat! Inilah Jadwal Peristiwa Langit Desember 2017 Reviewed by Riza Miftah Muharram on Desember 01, 2017 Rating: 5

Hype - Jangan Lewatkan!