Badai Matahari Picu Pembentukan Aurora di Kedua Kutub Bumi

Aurora di Tromsø, Norwegia. 7 September 2017. Kredit: Ole Salomonsen
Info Astronomy - Per tanggal 8 September 2017 pukul 06.00 WIB, suar surya yang diletupkan Matahari dua hari yang lalu telah tiba di Bumi, menciptakan badai geomagnetik dan terbentuknya aurora besar di kedua kutub Bumi.

Dalam peristiwa ini, medan magnet Bumi terkena dampak lontaran massa korona (CME) dari Matahari. Kontak pertama medan magnetik Bumi dengan CME menghasilkan badai geomagnetik kelas G4 yang cukup parah.

Badai geomagnetik sendiri merupakan gangguan pada magnetosfer Bumi yang disebabkan oleh badai Matahari atau partikel bermuatan dari Matahai yang berinteraksi dengan medan magnet Bumi. Peningkatan tekanan badai Matahari awalnya dikompres magnetosfer, lalu berinteraksi dengan medan magnet Bumi dan transfer energi pun meningkat ke magnetosfer.

Kedua interaksi ini menyebabkan peningkatan pergerakan plasma melalui magnetosfer dan peningkatan arus listrik dalam magnetosfer dan ionosfer Bumi kita. Sebuah badai Matahari merupakan pelepasan radiasi elektromagnetik secara tiba-tiba dari permukaan Matahari, sebuah letusan plasma dan medan magnet bermuatan yang bisa mengarah ke mana saja termasuk ke arah Bumi kita.

Peristiwa ini dimulai karena adanya medium plasma di permukaan Matahari yang "terpanggang" hingga jutaan derajat Celsius. Ketika mencapai suhu tertentu, media plasma tersebut akan "pecah" dan meluncurkan berbagai partikelnya (elektron, proton, ion) dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya.

Saat menghentak atmosfer Bumi, "badai" ini akan mengganggu komunikasi radio, radar, internet, dan perangkat lain yang beroperasi dengan menggunakan gelombang bahkan satelit-satelit buatan di orbit Bumi. Ia tidak menimbulkan "badai" dalam arti yang sesungguhnya seperti badai pada saat hujan, angin tornado, dan sebagainya.

Pembentukan Aurora

Badai Matahari tidak berdampak buruk bagi kehidupan di Bumi. Tumbukan medan magnet Bumi dengan badai Matahari kelas X9 yang diletupkan hari Rabu, 6 September 2017 justru menyebabkan terbentuknya aurora yang cantik.

Sumber utama partikel aurora adalah badai Matahari yang menghantam magnetosfer, kemudian terkumpul dan mengandung zona radiasi, serta terperangkap sementara secara magnetis. Karena yang berperan adalah medan magnet, arus partikel bermuatan dari Matahari mengikuti garis-garis gaya magnet yang dihasilkan oleh inti Bumi dan mengalir melalui magnetosfer ke kedua kutub Bumi.

Itulah mengapa aurora tak pernah teramati di langit Indonesia yang notabene berada di wilayah ekuator; sebab aurora hanya terjadi di kedua kutub Bumi saja.

Berikut adalah beberapa foto aurora yang diabadikan para penduduk di lintang tinggi Bumi pada 7-8 September 2017 ini:

Aurora di langit Rovaniemi, Finlandia. 7 September 2017. Kredit: Jani Ylinampa
Aurora di langit Vermont, AS. 8 September 2017. Kredit: Lynn Clauer
Aurora di Tromsø, Norwegia. 7 September 2017. Kredit: Tom Arne Moldenaes
Aurora di Fairbanks, Alaska. 8 September 2017. Kredit: Marketa S Murray

Badai Matahari Picu Pembentukan Aurora di Kedua Kutub Bumi Badai Matahari Picu Pembentukan Aurora di Kedua Kutub Bumi Reviewed by Riza Miftah Muharram on September 08, 2017 Rating: 5

Hype - Jangan Lewatkan!