Header Ads

New Horizons 2.0: Misi Selanjutnya ke Pluto

Baca Juga

Gambar Pluto terdekat yang diambil wahana antariksa New Horizons, Juli 2015. Kredit: NASA/SwRI/JHUAPL
Info Astronomy - Pada Juli 2015 silam, wahana antariksa New Horizons sukses terbang lintas dekat Pluto, memberikan kita pandangan pertama dari jarak dekat terhadap planet kerdil di tepian Tata Surya tersebut. Tapi, kini banyak yang mulai berpikir bahwa terbang lintas saja tidak cukup. Sekelompok ilmuwan berpendapat bahwa kita harus kembali ke Pluto, dan kali ini kita perlu menempatkan wahana antariksa di orbitnya.

Sekelompok ilmuwan tersebut termasuk Alan Stern, penyidik ​​utama misi New Horizons. Mereka semua berkumpul di sebuah lokakarya di Houston untuk membicarakan tentang misi kedua ke Pluto yang akan meneliti sang planet kerdil lebih mendalam karena wahana antariksa yang dikirim bakal mengitarinya (tidak hanya lewat saja seperti New Horizons).

Lokakarya ini telah dilangsungkan selama dua tahun sejak foto pertama Pluto dikirim dari New Horizons. Gambar-gambar tersebut mengungkapkan bahwa Pluto adalah dunia yang aktif secara geologis. Pluto bahkan memiliki dataran tinggi yang dilapisi es nitrogen dan pegunungan yang mencapai ketinggian 3,35 kilometer.

Dan berdasarkan gambar dan data yang dikumpulkan oleh wahana antariksa New Horizons dua tahun lalu, bahkan ada spekulasi bahwa Pluto memiliki samudra air dalam bentuk cair di bawah permukaannya, meskipun sang planet kerdil berada pada jarak sekitar 5,9 miliar kilometer dari Matahari.

"Pluto telah memukau semua orang," kata Stern seperti dilansir The Verge. "Sudah dua tahun dan percakapan antara ilmuwan tentang misi selanjutnya ke Pluto terus bergema. Kita harus kembali."

Stern dan para ilmuwan lainnya ingin mendapatkan lebih banyak ilmu pengetahuan dari Pluto, dan mereka mengatakan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan mengirimkan kembali wahana antariksa ke sana yang akan mengorbit selama beberapa tahun.

"Jika kita mengirim wahana antariksa pengorbit, kita bisa memetakan 100 persen planet kerdil ini, sehingga lebih banyak data dan ilmu yang didapatkan," kata Stern. "Dan kita bisa melihat bagaimana keadaan di Pluto berubah dari waktu ke waktu saat ia berputar pada porosnya."

Sejauh ini memang belum ada rencana pasti untuk misi mengirim wahana antariksa pengorbit ke Pluto. Lokakarya ini dimaksudkan agar pembicaraan dimulai secara resmi tentang apa yang ilmuwan inginkan dari eksplorasi lanjutan ke Pluto.

Namun, Stern dan para ilmuwan lainnya menginginkan sebuah wahana antariksa pengorbit yang akan bertahan setidaknya tiga sampai empat tahun di Pluto dan bergerak di sekitar sistem Pluto seperti wahana antariksa Cassini yang telah menjelajahi Saturnus selama 13 tahun terakhir.

Wahana antariksa pengorbit itu juga tampaknya bakal dilengkapi dengan instrumen ilmiah yang berbeda dari yang dimiliki New Horizons, seperti misalnya akan dilengkapi instrumen yang bisa langsung "mencicipi" atmosfer Pluto untuk membantu menentukan adanya cairan di bawah permukaan atau tidak.

Selain itu, wahana antariksa pengorbit ini juga bakal dilengkapi instrumen yang mampu memancarkan laser inframerah ke Pluto yang dapat digunakan untuk mengetahui perbedaan ketinggian pada permukaan Pluto.

Pluto membutuhkan kurang lebih 248 tahun Bumi untuk sekali mengorbit Matahari, yang berarti bagian permukaannya tidak menghadap ke arah Matahari untuk waktu yang sangat lama. Instrumen laser ini bisa digunakan untuk menyelidiki tempat-tempat di permukaan Pluto yang sulit dilihat saat mereka tertutup kegelapan.

Tentu saja, memasukkan New Horizons 2.0 ke orbit Pluto akan menjadi tugas yang lebih sulit daripada mengirim wahana antariksa yang hanya terbang lintas dekat terhadap planet kerdil ini. Wahana antariksa pengorbit tersebut memerlukan tambahan propelan untuk membantu memperlambat dirinya saat mulai mendekati sistem Pluto, dan itu akan membutuhkan tangki propelan yang lebih besar daripada yang dimiliki New Horizons.

Tapi Stern berpendapat bahwa wahana antariksa pengorbit tersebut bisa menggabungkan penggerak ion seperti misi Dawn yang kini bertugas mengorbit Ceres di sabuk asteroid, yang jauh lebih hemat bahan bakar daripada metode propulsi luar angkasa konvensional yang menggunakan pembakaran bahan kimia.

Selain itu, jenis sistem komunikasi yang jauh berbeda akan dibutuhkan untuk wahana antariksa pengorbit di Pluto. Sebagai contoh, data yang dikirimkan New Horizons dua tahun silam saja membutuhkan waktu satu hingga tiga bulan untuk tiba di stasiun pemancar di Bumi. Dengan begitu, wahana antariksa pengorbit ini harus dilengkapi metode baru untuk mengirim semua data dan informasi ke Bumi pada waktu yang lebih singkat.

Kapan wahana antariksa pengorbit ini akan dimulai misinya? Jawabannya tergantung dari pihak NASA untuk mau menyisihkan budget-nya untuk kembali ke Pluto atau tidak.


Sumber: Space.com, Futurism.

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.

Diberdayakan oleh Blogger.