Header Ads

Hilal 1 Ramadan Kemungkinan Terlihat Sore Ini

Bulan sabit muda atau hilal. Kredit: Astroadventures.net
Info Astronomy - Keteraturan peredaran Bulan dalam mengelilingi Bumi, dan Bumi bersama dengan Bulan mengelilingi Matahari memungkinkan manusia untuk mengetahui penentuan waktu. Salah satunya adalah untuk mengetahui awal bulan dalam kalender Hijriah.

Penentuan kapan awal bulan Hijriah sangat penting bagi umat Islam dalam penentuan kalender mereka, seperti untuk menentukan kapan 1 Ramadan, kapan Idulfitri, dan kapan Iduladha. Dilansir dari siaran pers Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), berikut ini kami jabarkan informasi hilal saat Matahari terbenam pada Jumat, 26 Mei 2017 sebagai penentu awal 1 Ramadan.

Konjungsi

Konjungsi geosentrik (atau konjungsi saja) adalah peristiwa ketika bujur ekliptika Bulan sama dengan bujur ekliptika Matahari dengan pengamat diandaikan berada di pusat Bumi. Peristiwa konjungsi Bulan dengan Matahari pada Mei ini secara astronomis terjadi pada hari Kamis, 26 Mei 2017 pukul 02.44 WIB (atau pukul 03.44 WITA dan 04.44 WIT).

Konjungsi ini terjadi yaitu ketika nilai bujur ekliptika Matahari dan Bulan tepat sama 66,776 derajat. Periode sinodis Bulan sendiri terhitung sejak konjungsi sebelumnya hingga konjungsi yang akan datang ini adalah 29 hari 7 jam 28 menit.

Waktu terbenam Matahari dinyatakan ketika bagian atas piringan Matahari tepat di horizon teramati. Di wilayah Indonesia pada tanggal 26 Mei 2017, waktu terbenam Matahari paling awal terjadi pada pukul 17.26 WIT di Merauke, Papua dan paling akhir terjadi pada pukul 18.49 WIB di Sabang, Aceh.

Dengan memperhatikan waktu konjungsi dan Matahari terbenam, dapat dikatakan konjungsi terjadi sebelum Matahari terbenam tanggal 26 Mei 2017 di wilayah Indonesia. Maka, bagi yang menerapkan rukyat dalam penentuan awal bulan Ramadan 1438 H, secara astronomis pelaksanaan rukyat Hilalnya dilakukan setelah Matahari terbenam tanggal 26 Mei 2017.

Sementara itu, bagi yang menerapkan hisab dalam penentuan awal bulan Ramadan 1438 H, perlu diperhitungkan kriteria-kriteria hisab saat Matahari terbenam tanggal 26 Mei 2017 tersebut.

Ketinggian Hilal

BMKG telah merilis peta ketinggian Hilal untuk pengamat di Indonesia untuk tanggal 26 Mei 2017, yang mana dapat dilihat pada gambar di bawah ini. Ketinggian Hilal di Indonesia saat Matahari terbenam pada 26 Mei 2017 berkisar antara 6,81 derajat di Jayapura, Papua sampai dengan 8,36 derajat di Tua Pejat, Sumatera Barat.

Kredit: BMKG.go.id
Dari peta hilal di atas, dapat diketahui bahwa Hilal sudah cukup tinggi saat Matahari terbenam sore nanti, 26 Mei 2017. Dengan begitu, Hilal atau Bulan sabit muda pasca-konjungsi dapat teramati dengan mudah dengan menggunakan teleskop.

"Posisi hilal pada awal Ramadan sudah cukup tinggi di Indonesia, di atas 7 derajat, elongasi (sudut antara bulan dan matahari-red) lebih dari 6,4 derajat, jadi ada potensi untuk bisa dirukyat (aktivitas mengamati visibilitas hilal) lebih mudah," tutur Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof Thomas Djamaluddin, dilansir dari Detik.com.

Walau begitu, perhitungan ilmiah secara astronomis yang dilakukan BMKG dan LAPAN ini harus dimusyawarahkan dalam Sidang Itsbat pada sore ini karena ada metode yang harus rukyat alias melihat Bulan sabit muda secara visual dulu baru bisa menetapkan 1 Ramadan.

Kemungkinan besar, 1 Ramadan akan ditetapkan jatuh pada petang ini selepas azan Magrib (karena pergantian hari dalam kalender Hijriah adalah dari terbenamnya Matahari). Untuk itu, kami dari InfoAstronomy.org mengucapkan selamat bersuka cita menyambut Ramadan 1438 H.


Sumber: BMKG, LAPAN.

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.

Diberdayakan oleh Blogger.