Header Ads

Planet di Zona Laik Huni Belum Tentu Laik Huni

Ilustrasi planet Proxima b. Kredit: ESO/M. Kornmesser
Info Astronomy - Masih ingat dengan penemuan planet yang mengorbit bintang Proxima Centauri beberapa bulan yang lalu? Atau masih merasakan euforia temuan sistem TRAPPIST-1? Kedua sistem planet ini memiliki kesamaan; sama-sama memiliki planet di zona laik huni. Namun ternyata, planet di zona laik huni belum tentu laik huni, lho.

Dalam studi planet asing seperti ini, mungkin tidak ada istilah yang lebih penuh harapan, atau lebih menyesatkan, dari istilah "laik huni". Istilah tersebut mungkin membuat Anda berpikir planet yang dikatakan "laik huni" merupakan planet yang ramah, cocok bagi kehidupan manusia, lengkap dengan udara bersih, serta lansekap yang mirip Bumi.

Faktanya, bagi para astronom, planet laik huni bukan planet yang seperti Anda pikirkan tadi. Kita dapat menglasifikasikan planet Bumi kita sebagai planet laik huni, namun para astronom juga dapat menyematkan istilah "laik huni" tersebut untuk berbagai planet yang mematikan, seperti planet Proxima b.

Sejauh ini, kita tidak benar-benar tahu apa yang planet perlu miliki untuk bisa menunjang kehidupan. Bisa jadi, planet asing yang tidak ramah terhadap kehidupan manusia merupakan planet yang dipenuhi oleh jenis kehidupan lain yang kita bahkan tidak ketahui, yang mungkin lebih asing daripada bentuk kehidupan ekstremofil.

Yang kita ketahui sejauh ini adalah, untuk mendukung jenis kehidupan seperti yang ada di planet Bumi, setiap planet asing harus memiliki air dalam bentuk cair. Karena kita beranggapan di mana ada air pasti ada kehidupan, bukan?

Sayangnya, dengan teknologi yang saat ini manusia miliki, kita tidak memiliki kemampuan untuk benar-benar mendeteksi keberadaan air dalam bentuk cair di permukaan planet manapun selain Bumi. Maka dari itu, para astronom bisanya mendeteksi hal-hal ini dengan cara lain.

Cara lain tersebut adalah dengan mengetahui suhu bintang induk yang diorbiti planet serta jarak orbit planet dari sang bintang induk tersebut. Apabila sebuah planet berjarak terlalu dekat dengan bintang induknya, maka ia mungkin akan begitu panas sehingga air dipermukaannya akan mendidih.

Namun, apabila sebuah planet terlalu jauh dari bintang induknya, maka planet itu bisa menjadi planet es yang padat dan dingin. Dari hal ini, maka lahirlah apa yang disebut sebagai "zona laik huni" atau "zona habitasi", sebuah area di mana jumlah energi dari bintang induk yang mencapai sebuah planet cukup untuk memungkinkan adanya air ada di permukaan dalam bentuk cair.

Tetapi ada beberapa protes dari sekelompok astronom tentang definisi "zona habitasi" ini. Sekelompok astronom itu berpendapat bahwa jarak bukanlah segalanya ketika kita ingin mengetahui suhu pada permukaan planet asing.

Dalam Tata Surya kita contohnya, baik Venus dan Mars sering dianggap berada di zona laik huni Matahari bersama dengan Bumi. Namun faktanya, Venus memiliki atmosfer asam sulfat tebal sehingga ia mengalami efek rumah kaca berlebihan; suhu permukaannya begitu terik, sekitar 460° C di siang hari.

Lain halnya dengan Mars, sang Planet Merah saat ini diketahui memiliki atmosfer yang sangat tipis sehingga air dalam bentuk cair hanya dapat muncul sebentar di sebuah anak sungai asin pada hari-hari terpanas dalam setahun.

Mempelajari atmosfer planet asing di luar Tata Surya jelas lebih sulit. Sejauh ini, kita hanya mampu meneliti sejumlah kecil atmosfer planet raksasa gas, dan masih kesulitan meneliti planet asing yang berbatu mirip Bumi, apa lagi yang dikatakan berada dalam zona laik huni.

Selain itu, atmosfer sebuah planet asing juga bukanlah satu-satunya hal yang dapat dipertimbangkan untuk mengetahui sebuah planet menjadi laik huni atau tidak. Dalam banyak kasus, kita tidak tahu pasti apakah planet memiliki permukaan berbatu, atau permukaannya hanya gas seperti Jupiter.

Dalam kasus planet Proxima b yang mengorbit bintang Proxima Centauri, dikatakan bahwa planet itu setidaknya memiliki massa 1,3 kali massa Bumi, sebuah planet yang begitu besar sehingga membuatnya berada di antara planet berbatu ataupun planet gas raksasa.

Petimbangan lain untuk mengetahui sebuah planet berpotensi laik huni atau tidak adalah dengan meneliti bintang induknya. Dalam penelitian Proxima b, bintang Proxima Centauri yang menjadi bintang induknya diketahui merupakan bintang katai merah, yang suhunya jauh lebih dingin dan ukurannya lebih kecil dari Matahari.

Hal itu berarti zona laik huni pada sistem Proxima Centauri terletak sangat dekat dengan sang bintang, begitu dekat sehingga interaksi gravitasi antara bintang induk dengan planet Proxima b telah membuat sang planet terkunci gravitasi; hanya satu sisinya saja terus-menerus menghadap ke bintang induk, sementara sisi lainnya mengalami malam hari abadi.

Dengan kondisi planet seekstrem Proxima b, dapat kita pahami bahwa sisi siang harinya mungkin akan sangat panas dan mendidih, sementara sisi malamnya sebeku es Antartika. Lebih buruk lagi, Proxima Centauri adalah bintang yang aktif melontarkan radiasi UV, yang berarti bahwa ia akan mengirimkan suar raksasa ke segala arah dengan frekuensi yang mengkhawatirkan dan tak ramah bagi kehidupan.

Dengan begitu, saat ini kita hanya bisa berspekulasi dan mencari planet yang laik huni dengan harapan bisa belajar lebih banyak tentang asal-usul planet kita sendiri, bukan untuk mengunjungi planet tersebut. Dan mungkin suatu hari nanti, kita akan menemukan tanda-tanda kehidupan luar Bumi dari penelitian-penelitian ini.

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.

Diberdayakan oleh Blogger.