Dirgahayu Indonesia: Astronomi di 70 Tahun Indonesia

Observatorium Bosscha. Dok: Info Astronomy
Info Astronomy - Seperti kebudayaan-kebudayaan lain di dunia, masyarakat asli Indonesia sudah sejak lama menaruh perhatian pada langit. Sayangnya, keterbatasan pengetahuan pada masa lampau membuat kebanyakan pengamatan dilakukan untuk keperluan astrologi.

Pada tingkatan praktis, pengamatan langit digunakan dalam pertanian dan pelayaran. Dalam masyarakat Jawa misalnya dikenal pranatamangsa, yaitu peramalan musim berdasarkan gejala-gejala alam, dan umumnya berhubungan dengan tata letak bintang di langit.

Nama-nama asli daerah untuk penyebutan obyek-obyek astronomi juga memperkuat fakta bahwa pengamatan langit telah dilakukan oleh masyarakat tradisional Indonesia sejak lama. Lintang Waluku adalah sebutan masyarakat Jawa tradisional untuk menyebut tiga bintang dalam sabuk Orion dan digunakan sebagai pertanda dimulainya masa tanam.

Gubuk Penceng adalah nama lain untuk rasi bintang Crux (Salib Selatan) dan digunakan oleh para nelayan Jawa tradisional dalam menentukan arah selatan. Lain halnya dengan Joko Belek, adalah sebutan untuk Planet Mars, sementara lintang kemukus adalah sebutan untuk komet. Sebuah bentangan "jalur susu" raksasa dengan fitur gelap di tengahnya disebut sebagai Bima Sakti.

Masa Penjajahan
Pelaut-pelaut Belanda pertama yang mencapai Indonesia pada akhir abad-16 dan awal abad-17 adalah juga astronom-astronom ulung, seperti Pieter Dirkszoon Keyser dan Frederick de Houtman

Lebih 150 tahun kemudian setelah era penjelajahan tersebut, misionaris Belanda kelahiran Jerman yang menaruh perhatian pada bidang astronomi, Johan Maurits Mohr, mendirikan observatorium pertamanya di Batavia pada 1765. James Cook, seorang penjelajah Inggris, dan Louis Antoine de Bougainville, seorang penjelajah Perancis, bahkan pernah mengunjungi Mohr di observatoriumnya untuk mengamati transit Planet Venus pada 1769.

Ilmu astronomi modern makin berkembang setelah pata tahun 1928, atas kebaikan Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang pengusaha perkebunan teh di daerah Malabar, dipasang beberapa teleskop besar di Lembang, Jawa Barat, yang menjadi cikal bakal Observatorium Bosscha, sebagaimana dikenal pada masa kini.

Penelitian astronomi yang dilakukan pada masa kolonial diarahkan pada pengamatan bintang ganda visual dan survei langit di belahan selatan ekuator Bumi, karena pada masa tersebut belum banyak observatorium untuk pengamatan daerah selatan ekuator.

Pasca Kemerdekaan Indonesia
Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan, bukan berarti penelitian astronomi terhenti, karena penelitian astronomi masih dilakukan dan mulai adanya rintisan astronom pribumi. Untuk membuka jalan kemajuan astronomi di Indonesia, pada tahun 1959, secara resmi dibuka Pendidikan Astronomi di Institut Teknologi Bandung.

Pendidikan Astronomi di Indonesia secara formal dilakukan di Departemen Astronomi, Institut Teknologi Bandung. Departemen Astronomi berada dalam lingkungan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) dan secara langsung terkait dengan penelitian dan pengamatan di Observatorium Bosscha. Ini adalah satu-satunya pendidikan formal astronomi di Asia Tenggara.

Lembaga negara yang terlibat secara aktif dalam perkembangan astronomi di Indonesia adalah Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Selain pendidikan formal, terdapat wadah informal penggemar astronomi, seperti Himpunan Astronomi Amatir Jakarta, serta tersedianya planetarium di Taman Ismail Marzuki, Jakarta yang selalu ramai dipadati pengunjung.

Satelit-satelit Indonesia
Melalui LAPAN dan beberapa perusahaan swasta, setidaknya Indonesia telah memiliki 18 satelit yang telah diluncurkan ke orbit Bumi. Satelit-satelit tersebut dapat di lihat di sini. Yang terbaru, satelit LAPAN-A2, bakal meluncur dari Sriharikota di India pada rentang waktu antara 25 – 30 September 2015.

LAPAN-A2 akan diluncurkan bersama satelit Astrosat milik India pada misi PSLV-C30/Astrosat. LAPAN-A2 akan beroperasi di orbit near equatorial dan mampu melintasi wilayah Indonesia sebanyak 14 kali setiap hari. Dengan begitu, satelit ini diharapkan mampu memantau seluruh wilayah darat dan laut Indonesia.

Satelit berbobot 78 kilogram ini membawa misi pemantauan, komunikasi serta pengembangan kemampuan dan kemandirian. Satelit ini mampu observasi permukaan bumi memakai kamera video, kamera digital serta peralatan sistem identifikasi otomatis (AIS) untuk pemantauan kemaritiman.

Selain itu, LAPAN-A2 dibekali sistem komunikasi untuk mitigasi bencana menggunakan radio amatir melalui voice repeater dan automatic packet reporting system (APRS), bekerjasama dengan Organisasi Amatir Radio Indonesia (Orari).

Generasi satelit eksperimental LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional), baik LAPAN-A1 hingga LAPAN-A3 merupakan wujud pengembangan kemampuan dan kemandirian bangsa di bidang iptek keantariksaan. Bekal yang didapat dari kedua satelit tersebut akan berguna untuk pembangunan satelit semi-operasional pada generasi LAPAN-A4 dan LAPAN-A5.

Perkembangan Astronomi Indonesia
Perkembangan astronomi di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat, dan mendapat pengakuan di tingkat Internasional, seiring dengan semakin banyaknya pakar astronomi asal Indonesia yang terlibat dalam kegiatan astronomi di seluruh dunia, serta banyaknya siswa SMU yang memenangi Olimpiade Astronomi Internasional maupun Olimpiade Astronomi Asia Pasifik.

Demikian juga dengan adanya salah seorang putra terbaik bangsa dalam bidang astronomi di tingkat Internasional, yaitu Profesor Bambang Hidayat yang pernah menjabat sebagai vice president IAU (International Astronomical Union).

Di masa depan, perkembangan astronomi di Indonesia akan membutuhkan kerjasama aktif antara astronom profesional dan astronom amatir untuk menghasilkan hasil ilmiah sekaligus edukasi aktif pada masyarakat.

Dirgahayu Indonesia! Merdeka!
Dirgahayu Indonesia: Astronomi di 70 Tahun Indonesia Dirgahayu Indonesia: Astronomi di 70 Tahun Indonesia Reviewed by Riza Miftah Muharram on 8/17/2015 08:00:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.