Ini Kata Kepala LAPAN Terkait 'Suara dari Langit'

Ilustrasi. Kredit: Zoomniverse
Info Astronomy - Belum lama ini, media massa dan media sosial kembali geger dengan beredarnya video berisi suara misterius yang dilabeli ‘suara dari langit’ oleh sebagian besar masyarakat. Video tersebut beredar dengan cepat melalui internet dan menimbulkan pertanyaan dari masyarakat “Dari manakah sumber suara tersebut?”

Wacana yang mengelilingi video tersebut bermacam-macam, mulai dari wacana religius yang mengaitkan dengan tanda hari kiamat, sampai wacana pseudosains terkait keberadaan makhluk luar angkasa.

Menanggapi wacana yang beredar dan keingintahuan masyarakat, Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) Prof. Dr. Thomas Djamaluddin mengajak masyarakat untuk mengedepankan aspek ilmiah ketimbang terjebak dalam pseudosains atau pengetahuan semu.

“Ini tidak terlalu terkait dengan kompetensi LAPAN tetapi lebih terkait ke arah edukasi publik tentang sains. Bagaimana masyarakat perlu diedukasi untuk berpikir secara logis,” ujar Thomas.

Dalam hal ini, LAPAN ikut memberikan edukasi publik supaya keingintahuan masyarakat tidak terbawa pada hal yang tidak logis dan tidak ilmiah. Yang harus dijelaskan kepada masyarakat, Thomas mengimbuhkan, suara hanya bisa merambat melalui medium, salah satunya udara.

“Di luar Bumi itu tidak ada atmosfer, artinya tidak mungkin suara tersebut berasal dari luar Bumi apalagi suaranya sekeras itu. Semestinya suara itu berasal dari Bumi,” kata Thomas.

Mengenai kemungkinan suara tersebut berasal dari dalam Bumi, Thomas menjelaskan bahwa untuk suara dengan frekuensi yang terdengar oleh telinga pasti ada getaran yang sumbernya dari dalam Bumi. “Sementara, dari video-video yang diunggah tidak tampak adanya getaran. Jadi kemungkinan dari dalam Bumi bisa diabaikan,” tegas Thomas.

Dari segi ilmiah, Thomas menambahkan, terdapat istilah ‘The Hum’ yang merupakan gelombang suara dengan frekuensi rendah yang tidak bisa didengar oleh telinga manusia. Biasanya penamaan ‘The Hum’ sering dikaitkan dengan lokasi-lokasi yang sering teridentifikasi adanya suara-suara frekuensi rendah, misal ‘Bristol Hum’ karena terjadi di Bristol, Inggris.

“Di Bristol seringkali ada suara dengung yang kemudian menjadi bahan penelitian karena itu betul-betul fenomena. Ada beberapa analisis, yang terakhir berdasarkan analisis geofisika, bahwa tampaknya kasus Bristol Hum itu terkait dengan interaksi antara laut dan dasar laut yang menimbulkan gelombang seismic mikro yang menghasilkan suara gelombang rendah,” Thomas menjelaskan.

Sementara, video yang baru-baru ini beredar tidak tergolong suara dengan gelombang frekuensi rendah, tetapi tergolong gelombang akustik yang bisa terdengar telinga manusia.

“Ini yang kemudian menjadi pertanyaan, apakah benar fenomena alam atau mungkin bukan fenomena alam. Bisa saja suara tersebut berasal dari perangkat buatan manusia, misalkan cerobong asap, peralatan mesin atau mungkin memang sengaja dibuat suara seperti itu untuk tujuan penelitian, misalnya Radio Accoustic Sounding System (RASS),” kata Thomas.

RASS adalah sistem pemantauan atmosfer dengan gelombang akustik. RASS merupakan bagian dari perangkat radar atmosfer yang dioperasikan LAPAN di Loka Pengamatan Dirgantara Kototabang, Sumatera Barat.

Saat RASS dioperasikan, Thomas menambahkan, akan timbul suara keras yang berulang-ulang seperti harimau mengaum. “Artinya kalau ada orang awam di daerah sekitar RASS dioperasikan, kemudian mereka merekam dan mengunggahnya ke media sosial, itu bisa jadi bagian yang menambah suara aneh, padahal itu untuk tujuan penelitian.” jelas Thomas.
Ini Kata Kepala LAPAN Terkait 'Suara dari Langit' Ini Kata Kepala LAPAN Terkait 'Suara dari Langit' Reviewed by Riza Miftah Muharram on 6/01/2015 03:50:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.