Hari Asteroid, Keantariksaan, dan Persatuan Umat Manusia

Ilustrasi. Kredit: NASA/JPL-Caltech
Info Astronomy - Sebagian besar dari kita pasti pernah menonton film Armageddon (1998), film yang mengangkat kisah mengenai skenario akhir peradaban di Bumi yang diakibatkan oleh adanya asteroid.

Film tersebut dipenuhi oleh ketegangan dan teror, lantaran tidak hanya sukses menceritakan tentang potensi asteroid yang dapat memusnahkan kehidupan di Bumi, tetapi juga berhasil dalam menyampaikan sebuah konsep yang begitu mengerikan di mana umat manusia dihadapi oleh ancaman yang begitu dahsyat namun tidak memiliki protokol atau panduan yang komprehensif dalam mengatasinya.

Tentu saja film Armageddon hanya merupakan film fiksi, namun setelah selesai menonton, beberapa dari kita pasti ada yang pernah berpikir, "Bagaimana jika suatu saat di masa depan ancaman asteroid seperti dalam film Armageddon menjadi nyata? Apakah umat manusia siap dalam menghadapinya?"

Kerusakan akibat tragedi asteroid di Tunguska. Kredit: Wikimedia Commons
Rupanya, dalam dunia nyata, beberapa negara sudah memikirkan hal itu, beberapa negara di dunia seperti Amerika Serikat dan Luksemburg telah sadar bahwa ancaman asteroid adalah ancaman yang nyata, bukan hanya sekedar daya tarik dari sebuah film fiksi.

Karena hal itu pula, United Nations Committee on the Peaceful Uses of Outer Space (UNCOPUOS) dengan kewenangan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) pada tahun 2016 meresmikan sebuah hari peringatan akan bahayanya asteroid, yakni Hari Asteroid, yangkini  diperingati setiap tanggal 30 Juni.

Tanggal tersebut dipilih bukan tanpa alasan, melainkan dipilih berdasarkan tragedi asteroid besar yang pernah menimpa Tunguska, Siberia pada 30 Juni 1908. Meskipun para peneliti beranggapan bahwa asteroid yang jatuh di Tunguska tidak sebetulnya "jatuh" pada Bumi, melainkan meledak di ketinggian 5-10 kilometer di atas permukaan Bumi, tragedi Tunguska dianggap sebagai tragedi asteroid paling dahsyat yang pernah ada selama peradaban manusia.

Tunguska saat ini. Kredit: Tunguska.ru
Hingga saat ini, negara-negara di dunia sudah mulai memperingati Hari Asteroid, ditambah dengan adanya keorganisasian Hari Asteroid yang bekerja langsung dibawah kendali UNCOPUOS, pengetahuan masyarakat dunia terhadap hari peringatan tersebut semakin berkembang.

Peringatan terhadap Hari Asteroid pun makin beragam, mulai dari seminar dan diskusi mengenai bahaya nyata yang dihadapi oleh umat manusia dengan adanya ribuan asteroid yang berlalu lintas di dekat Bumi setiap harinya, hingga hal yang paling sederhana, yaitu dengan turut menyebarkan di media sosial mengenai apa Hari Asteroid itu sendiri.

Terlepas dari deskripsi dan sejarah mengenai Hari Asteroid, terdapat satu manfaat penting yang dapat dengan mudah luput dari kesadaran orang-orang akan Hari Asteroid, yaitu potensinya sebagai pemersatu umat manusia.

Bagaimana bisa demikian? Mungkin, jika secara sekilas ide untuk menjadikan Hari Asteroid sebagai katalis atau pemicu dari pemersatu umat manusia tampak mustahil, namun hal tersebut justru sebaliknya jika kita mengingat peristiwa sejarah seperti Perang Dunia ke-2 dan mosi Global War on Terror yang digalakkan oleh Amerika Serikat pada tahun 2001 terhadap ancaman terorisme.

Peristiwa-peristiwa tersebut memiliki kesamaan yang unik, yaitu keduanya sama-sama memanfaatkan adanya ancaman dari suatu hal yang begitu hebatnya terhadap keselamatan dari masing-masing negara di dunia sebagai motivasi untuk beraliansi, konsep ini kemudian disebut sebagai Common Enemy Theory (Allport, 1954).

Common Enemy Theory ini merupakan teori yang tepat untuk digunakan dalam menjadikan isu Hari Asteroid sebagai kunci dari persatuan dan perdamaian umat manusia, lantaran Hari Asteroid ini diperingati dengan alasan demi keselamatan umat manusia.

Asteroid dan benda-benda antariksa lainya yang berlalu-lalang di sekitar Bumi memiliki potensi sebagai musuh bersama umat manusia, dan bukan berarti tidak mungkin jika di masa depan cerita fiksi seperti film Armageddon dapat terjadi bagi planet Bumi yang kita cintai ini, dan jika memang masa itu datang dan planet Bumi selamat dari adanya ancaman asteroid, masyarakat dunia akan berhutang besar pada Hari Asteroid yang jatuh pada setiap tanggal 30 Juni.

Memang di negara kita Indonesia, pembicaraan mengenai isu-isu keantariksaan masih sangat minim, keantariksaan masih selalu diidentikan dengan studi eksak seperti fisika dan teknik penerbangan, padahal sesungguhnya di era informasi ini isu keantariksaan telah menjadi sebab dan akibat dari aktivitas keseharian umat manusia.

Menurut saya, yang sempat mengenyam studi ilmu sosial dan ilmu politik, sudah saatnya Indonesia turut serta dengan masyarakat internasional dalam menjadikan topik-topik keantariksaan sebagai isu yang penting bagi kehidupan manusia, negara-negara lain seperti Tiongkok, Jepang, Singapura, India dan Brunei sudah lebih dahulu terjun dalam mempelajari permasalahan-permasalahan keantariksaan.

Sudah saatnya umat manusia melepaskan kepentingan-kepentingan egoistik, sekarang adalah saatnya kita melihat manusia sebagai suatu spesies, bukan sebagai individu, dan Hari Asteroid merupakan salah satu alasan agar kita menjadi umat yang saling menjaga dan menghormati satu sama lain.

Penulis: Mohammed Dean Syahreza
Red: Riza Miftah Muharram
Hari Asteroid, Keantariksaan, dan Persatuan Umat Manusia Hari Asteroid, Keantariksaan, dan Persatuan Umat Manusia Reviewed by Redaksi on 7/03/2018 05:24:00 PM Rating: 5

Hype - Jangan Lewatkan!