Hujan Meteor Quadrantid Mencapai Puncaknya di Awal Januari 2018

Titik radian hujan meteor Quadrantid. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Info Astronomy - Empat hari setelah tahun baru, hujan meteor Quadrantid akan mencapai aktivitas puncaknya. Namun, tahun 2018 ini akan menjadi tahun yang sulit untuk melihat hujan meteor Quadrantid, sebab puncaknya akan terjadi setelah fase Bulan purnama 2 Januari 2018.

Bahkan, Bulan purnama pada 2 Januari 2018 akan menjadi supermoon, Bulan purnama terbesar dan paling terang di tahun 2018, sehingga terangnya Bulan akan cenderung mengalahkan meteor-meteor Quadrantid yang kecil, kecuali meteor-meteor yang tampak paling terang.

Menurut pengamat meteor Robert Lunsford dari American Meteor Society, Quadrantid sebenarnya terjadi mulai 22 Desember sampai 17 Januari, dengan puncaknya setiap 4 Januari. Itu berarti, meteor-meteor Quadrantid paling banyak muncul saat puncaknya, dan di luar waktu puncak intensitasnya akan lebih rendah.

Dilansir panduan pengamatan langit Januari 2018 yang dirilis oleh tim misi Teleskop Antariksa Hubble NASA, hujan meteor Quadrantid tahun 2018 akan mencapai intensitas hingga 40 meteor per jam dalam semalam pada tanggal 4 Januari medatang. Namun, intensitas itu hanya berlaku untuk pengamatan di area dengan kondisi langit gelap dan cuaca cerah.

Hujan meteor Quadrantid sendiri tidak terlalu dikenal seperti Geminid atau Orionid. Hal ini disebabkan karena meteor-meteor Quadrantid cenderung muncul redup. Namun, kadangkala Quadrantid bisa menghasilkan bola api dengan ekor raksasa yang bersinar terang di langit.

Untuk menemukan hujan meteor ini, Anda perlu mencari rasi bintang Bootes, yang mana rasi bintang tersebut merupakan titik radiannya. Cara termudah untuk menemukannya adalah dengan menghadap ke utara, temukan Big Dipper di Ursa Mayor, dan titik radiannya ada di beberapa derajat dari sana (lihat gambar di atas).

Meteor-meteor akan banyak tampak dari titik radian ini hingga 30-40 derajat sekitarnya. Jadi, untuk bisa mendapatkan banyak meteor, carilah Bootes, ya!

Hujan meteor Quadrantid sendiri berasal dari debris atau puing-puing asteroid 2003 EH1, yang kemungkinan merupakan "komet punah". Ahli meteorologi NASA Bill Cooke mengatakan, "Itu (2003 EH1) awalnya adalah sebuah komet, namun kemudian 'punah' (tidak ada ciri-ciri komet lagi padanya)." Dengan kata lain, sudah tidak ada lagi es dan volatil pada mantan komet tersebut karena telah menguap seluruhnya.

Komet itupun kini menjadi asteroid. Asteroid 2003 EH1 memiliki perihelion (jarak terdekat dengan Matahari) yang berada di dalam orbit Bumi. Dalam mengorbit Matahari, material permukaan asteroid ini mengelupas akibat dari radiasi Matahari, sehingga meninggalkan jejak debris di sepanjang jalur orbitnya.

Nah, setiap 22 Desember sampai 17 Januari, Bumi kita melintasi bekas jalur orbit asteroid ini, sehingga menyebabkan debris asteroid tadi tertarik gravitasi Bumi lalu masuk dan terbakar di atmosfer sebagai meteor. Karena jumlahnya banyak, maka disebut sebagai "hujan meteor".

Hujan meteor Quadrantid wajib diamati dengan mata telanjang. Penggunaan teropong maupun teleskop tidak akan berguna untuk hujan meteor. Sebab keduanya hanya akan menyempitkan pandangan langit, sementara pengamatan hujan meteor butuh medan pandang yang luas.

Jadi, cukup berbaring saja di kursi santai sambil menatap langit (jangan mendongak, nanti pegal). Adaptasikan mata Anda pada gelapnya langit malam sekitar 20-30 menit untuk bisa menemukan meteor pertama Anda. Jaket dan kopi panas mungkin dibutuhkan.

Selamat berburu meteor!


Sumber: American Meteor SocietyHubble Site, EarthSky.org.
Hujan Meteor Quadrantid Mencapai Puncaknya di Awal Januari 2018 Hujan Meteor Quadrantid Mencapai Puncaknya di Awal Januari 2018 Reviewed by Riza Miftah Muharram on Desember 28, 2017 Rating: 5

Hype - Jangan Lewatkan!