Wajib Lihat! Inilah Jadwal Peristiwa Langit November 2017

Kredit foto: Pexels.com
Info Astronomy - Pada November ini, sebagian besar wilayah Indonesia mungkin sudah memasuki musim penghujan. Walau begitu, masih ada peristiwa-peristiwa langit yang sayang untuk dilewatkan. Seperti di antaranya ada Supermoon dan tiga peristiwa hujan meteor. Mari simak jadwal lengkapnya!

4 November 2017: Supermoon

Dalam astronomi, istilah supermoon dikenal sebagai Bulan purnama perigee. Ini adalah peristiwa ketika Bulan berada pada jarak terdekat dengan Bumi dalam orbitnya. Pada 4 November 2017, Bulan purnama bisa disebut sebagai Supermoon karena berada di jarak terdekatnya dengan Bumi.

Walau begitu, Supermoon 4 November 2017 bukanlah yang paling super untuk tahun ini. Sebab, Bulan purnama akan benar-benar berada pada jarak paling dekat dengan Bumi dalam setahun baru akan terjadi pada 3 Desember 2017 mendatang.

Hal ini membuat Bulan purnama pada 4 November 2017 menjadi Supermoon terdekat kedua, dengan jarak Bulan dengan Bumi diperkirakan akan mencapai 364.000 kilometer jauhnya. Kenampakan Bulan purnama pada 4 November 2017 akan berdiameter sudut 32'48", cukup besar dibandingkan Bulan purnama biasa, tapi masih lebih kecil dibanding Supermoon "sejati" yang terjadi pada 3 Desember 2017 mendatang.

Perbandingan diameter sudut Bulan saat di perigee dan apogee. Kredit: Timeanddate.com

5 November 2017: Hujan Meteor Taurid Selatan

Setelah dibuka dengan Supermoon, di malam berikutnya akan memuncak hujan meteor Taurid Selatan, yang memiliki titik radian di arah selatan dari rasi bintang Taurus. Hujan meteor ini masuk dalam kategori hujan meteor minor, yakni dengan intensitas sedikit yang biasanya hanya menghasilkan tidak lebih dari sekitar 10 meteor per jam.

Puncaknya akan dimulai menjelang tengah malam tanggal 4 November dan akan berakhir menjelang terbit fajar pada tanggal 5 November 2017.

Sayangnya, prospek pengamatan untuk tahun ini kurang bagus. Bulan masih di fase purnama, dan letaknya di langit bahkan dekat dengan titik radian hujan meteor ini. Dengan begitu, cahaya Bulan yang terang akan membuat langit menjadi terang pula sehingga dapat meredupkan meteor-meteor kecil yang sejatinya sudah redup.

11 November 2017: Fase Bulan Kuartir Akhir

Fase Bulan ini akan membuat Bulan tampak separuh, yang menandakan memasuki 7 hari terakhir dalam satu bulan hijriah. Pada fase ini, Bulan akan terbit mulai tengah malam, dan akan dominan di langit saat dini hari. Bulan bahkan bisa diamati saat Matahari sudah terbit.

Pada saat mencapai kuartir akhir, jarak Bulan dari Bumi akan mencapai sekitar 375.000 km. Bulan akan berada di rasi bintang Leo, deklinasi +15°12', dengan diameter sudut mencapai 31'50".

12 November 2017: Hujan Meteor Taurid Utara

Bila pada 5 November kemarin titik radiannya di sebelah selatan rasi bintang Taurus, maka pada 12 November ini hujan meteor Taurid lainnya akan muncul dari titik radian di sebelah utara rasi bintang Taurus; Taurid Utara.

Titik radian duo hujan meteor Taurid. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Hujan meteor Taurid Utara akan mencapai tingkat maksimumnya pada tanggal 12 November 2017 mulai pukul 21.00 waktu setempat daerah Anda, saat titik radiannya sudah berada lebih tinggi dari 30 derajat dari cakrawala timur.

Sama seperti Taurid Selatan, intensitas hujan meteor ini hanya akan mencapai sekitar 10 meteor per jam. Asal-usul hujan meteor ini juga sama dengan Taurid Selatan, yakni dari puing-puing komet 2P/Encke yang diterjang Bumi dalam orbitnya melewati bekas jalur komet tersebut sehingga masuk ke atmosfer kita.

Bulan akan berumur 24 hari pada saat aktivitas puncak hujan meteor Taurid Utara terjadi, sehingga ia tidak akan menyebabkan gangguan bagi Anda yang ingin melakukan pengamatan. Cukup pastikan cuaca cerah dan berbaringlah menatapi langit.

15 November 2017: Konjungsi Mars dengan Bulan

Rendah di langit timur saat dini hari menjelang subuh, kita dapat melihat Bulan sabit yang cantik ditemani Planet Merah. Kedua benda langit ini akan terpisah sejauh 3° satu sama lain, membuatnya menjadi objek foto yang tampaknya Instagram-able.

Konjungsi Bulan dengan Mars, 15 November 2017. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Mulailah pengamatan sekitar pukul 04.30 waktu setempat daerah Anda. Nantinya, Anda akan melihat Bulan dan Mars yang berada setinggi 20 derajat dari cakrawala timur. Karena jarak Mars yang jauh dari Bumi (sekitar 55 juta km), Anda hanya akan melihat Mars bagaikan bintang merah tak berkelap-kelip di arah selatan Bulan sabit tipis.

Bulan akan bersinar dengan magnitudo -10,2 dan planet Mars akan bersinar dengan magnitudo 1,8. Keduanya akan berada di rasi bintang Virgo. Sayangnya, pasangan benda langit ini akan terlalu jauh terpisah untuk muat dalam satu bidang pandang teleskop, namun Anda masih bisa mengamatinya dengan mata telanjang atau melalui teropong kecil.

18 November 2017: Hujan Meteor Leonid

Ini adalah hujan meteor terakhir yang akan terjadi di bulan November, Leonid. Yang juga merupakan salah satu hujan meteor terbaik karena memiliki intensitas yang cukup tinggi saat puncaknya. Ditambah lagi, pengamatan tahun ini tidak akan terganggu Bulan karena satu-satunya satelit alami Bumi kita tersebut masuk fase bulan baru.

Bisa diamati mulai pukul 02.00 dini hari waktu setempat daerah Anda, Leonid yang berasal dari puing-puing komet 55P/Tempel–Tuttle yang memasuki atmosfer Bumi ini diperkirakan akan teramati sekitar 20 meteor per jam, dengan catatan Anda mengamatinya di daerah dengan tingkat polusi cahaya rendah.

Titik radian hujan meteor Leonid. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Titik radian hujan meteor Leonid akan berada pada asensio rekta 10h10m, deklinasi 22° U, seperti yang ditunjukkan pada peta langit di atas. Semua meteor akan muncul ke luar dari titik radian ini. Dengan begitu, menemukan titik radian Leonid akan membuat kesempatan melihat lesatan meteor lebih besar.

Tidak butuh teleskop atau teropong untuk mengamatinya. Cukup siapkan kopi hangat, pakai jaket, dan Anda bisa berbaring sambil mengamati langit. Jangan lupa ajak teman atau minimal kucing agar pengamatan tidak sendirian.

18 November 2017: Fase Bulan Baru

Bulan akan melakukan konjungsi terhadap Matahari di tanggal ini, sehingga ia akan hilang dalam cahaya Matahari yang menyilaukan selama beberapa hari ke depan. Fase ini, secara astronomis, dikenal sebagai fase Bulan baru.

Di fase Bulan baru, konfigurasi Bumi, Bulan dan Matahari akan berada dalam segaris lurus yang kasar, dengan Bulan di tengah, muncul di depan silau Matahari. "Yang kasar" di sini artinya Bumi-Bulan-Matahari tidak benar-benar segaris lurus, melainkan Bulan masih berada sejauh 5 derajat dari Matahari, sehingga gerhana Matahari tidak akan terjadi.

Setelah fase Bulan baru, Bulan akan terbit dan terbenam satu jam kemudian setiap harinya, membuatnya akan terlihat di sore hari hingga senja menyapa dalam fase Bulan sabit.

21 November 2017: Formasi Segaris Lurus Bulan-Saturnus-Merkurius

Formasi Bulan-Saturnus-Merkurius. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Temukanlah Bulan sabit tipis yang rendah di langit barat sekitar setengah jam setelah Matahari terbenam, maka Bulan akan memandu Anda untuk menemukan dua planet tata surya; Saturnus dan Mekurius!

Pada 21 November 2017, ketiga benda langit ini akan tampak membentuk formasi garis lurus, mirip seperti formasi bintang Alnilam, Alnitak, dan Mintaka pada Sabuk Orion. Pastikan arah pandangan ke barat Anda tidak terhalang pegunungan atau bangunan tinggi, sebab ketiganya akan begitu rendah.

Merkurius, yang akan tampak berada sejauh 11 derajat dari Bulan sabit, akan berkedudukan sekitar 12 derajat dari cakrawala barat pada pukul 18.30 waktu setempat daerah Anda. Sementara Saturnus yang akan tampak sejauh 4 derajat dari Bulan akan bertengger di ketinggian 17 derajat dari cakrawala barat.

Ketiganya bisa diamati dengan mata telanjang, namun karena jarak Merkurius dan Saturnus yang jauh, masing-masing 160 juta dan 1,6 miliar km dari Bumi, maka keduanya hanya akan tampak bagaikan bintang kuning terang yang tidak berkelap-kelip apabila Anda mengamatinya lewat mata telanjang saja.

27 November 2017: Fase Bulan Kuartir Awal

Bila sudah masuk fase ini, berarti Bulan sudah berusia 7 hari, kedudukannya di langit Bumi juga sudah berada sejauh 90 derajat dari Matahari sehingga ia akan tampak separuh. Secara astronomis, fase kuartir awal akan dicapai Bulan pada pukul 00.03 WIB, namun kita sudah bisa melihatnya di langit atas kepala saat Matahari terbenam.


28 November 2017: Konjungsi Saturnus dengan Merkurius

Sebelum langit benar-benar gelap karena Matahari terbenam, jangan lupa untuk buru-buru mengamati langit barat pada tanggal 28 November 2017. Sebab, kita bisa menyaksikan planet Saturnus dan Merkurius yang akan tampak bersebelahan sejauh sekitar 2 derajat satu sama lain.

Dengan magnitudo masing-masing mencapai 0,3 dan +1,2, Saturnus dan Merkurius akan tampak bagaikan sepasang bintang namun cahayanya tidak berkelap-kelip. Gunakan teleskop untuk mengamati Saturnus lengkap dengan cincinnya maupun untuk mengamati Merkurius.

Konjungsi Saturnus dengan Merkurius. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Nah, itulah peristiwa-perstiwa langit yang akan terjadi sepanjang November 2017. Semoga cuaca selalu mendukung saat kita melakukan pengamatan ya.

Selamat mengamati dan... jangan berhenti di Anda. Viralkan!
Wajib Lihat! Inilah Jadwal Peristiwa Langit November 2017 Wajib Lihat! Inilah Jadwal Peristiwa Langit November 2017 Reviewed by Riza Miftah Muharram on November 01, 2017 Rating: 5

Hype - Jangan Lewatkan!