Misi ke Mars: Cukup Mengunjungi atau Membangun Koloni?

Planet Mars. Kredit: NASA, ESA
Info Astronomy - Manusia gemar menjelajah, termasuk menjelajah luar angkasa. Salah satu misi penjelajahan luar angkasa yang digadang-gadang akan dilakukan mulai tahun 2020-an adalah misi pendaratan manusia ke Mars. Tapi, mampukah sebenarnya kita?

"Membangun koloni di Mars secara teknis sangat menantang dan mahal," kata Aaron Ridley, dari Universitas Michigan seperti dilansir dari Futurism.com. Dia berpendapat bahwa walaupun Planet Merah sangat "menarik secara ilmiah", namun biaya yang sangat besar untuk menjelajahinya membuat misi ke sana seperti menjadi hal yang tidak mungkin.

Elon Musk, CEO perusahaan luar angkasa swasta SpaceX, sempat berbicara ke seluruh orang yang hadir dalam acara Kongres Astronautik Internasional 2017 di Australia bahwa ia dan SpaceX memiliki rencana besar untuk mengirim manusia ke Mars dalam lima sampai enam tahun dari sekarang.

Musk mengklaim bahwa SpaceX telah mendesain sebuah roket terbaru yang mampu mengangkut hingga 100 orang, lengkap dengan membawa peralatan yang dibutuhkan untuk membangun koloni di Mars. Dia menyatakan bahwa SpaceX akan mengirimkan kargo nirawak ke Mars pada tahun 2022, lalu meluncurkan 100 orang dua tahun kemudian.

Roket terbaru SpaceX tersebut dijuluki sebagai BFR, atau singkatan dari Big F****** Rocket. Roket tersebut nantinya bakal dilengkapi mesin Raptor yang bisa menghasilkan sekitar 500.000 pon daya angkat, menggunakan bahan bakar metana cair dan bukan minyak tanah. Musk mengatakan bahwa mereka akan menggunakan 31 mesin besar pada BFR ini, yang masing-masing mampu menghasilkan 170 ton dorongan.

BFR. Kredit: SpaceX
"Kami tidak akan pergi ke bulan atau Mars karena Bumi yang sudah terlalu banyak penduduk," kata Musk seperti dilansir Space.com. "Ini benar-benar merupakan sebuah misi karena kita memiliki keinginan untuk mengeksplorasi."

Hanya Mengunjungi

Misi ambisius SpaceX tentu menimbulkan pertanyaan; apakah manusia mampu bertahan hidup di Mars nantinya?

Amanda Hendrix, seorang ilmuwan senior di Planetary Science Institute, memiliki pendapat mengenai prospek permukiman permanen manusia di Mars. Hendrix berpikir, alih-alih menetap secara permanen, misi manusia ke Mars sebaiknya hanya mengunjungi, melalukan eksperimen ilmiah, lalu pulang lagi ke Bumi.

"Saya pikir lebih masuk akal untuk pergi ke Mars hanya untuk menguji teknologi dan melakukan eksperimen ilmiah, sebuah kunjungan singkat," katanya seperti dilansir Futurism.com. "Tidak masuk akal untuk membangun pemukiman manusia jangka panjang di Mars, apa lagi Mars cukup berbahaya bagi manusia karena tingkat radiasinya yang tinggi."

Salah satu rintangan terbesar untuk membangun koloni permanen manusia di Mars adalah biaya. Meluncur dan melakukan perjalanan ke Mars akan berbiaya sangat mahal, sekaligus tidak mudah dan penuh risiko.

Teraformasi Mars Apa Kabar?

Keadaan Mars saat ini sangat berbahaya bagi kehidupan manusia. Kita perlu mengubah Mars menjadi lebih laik huni untuk bisa membangun koloni jangka panjang di sana. Salah satu caranya adalah, melakukan teraformasi pada Mars.

Apa itu teraformasi? Teraformasi adalah mengubah keadaan suatu planet menjadi mirip Bumi. Tapi, sayangnya ada kabar buruk bagi misi teraformasi Mars: Planet Merah telah kehilangan lapisan atmosfernya.

Hal tersebut terungkap berkat misi wahana antariksa MAVEN yang dikirim ke orbit Mars. Menurut penelitian itu, sesaat setelah medan magnet global Mars menghilang sekitar 4,2 miliar tahun yang lalu, angin matahari dan ledakan radiasi dari matahari yang kuat telah melucuti sebagian besar atmosfer planet tetangga Bumi tersebut.

Walau begitu, bukan berarti misi teraformasi Mars tidak mungkin dilakukan, masih ada banyak gagasan tentang bagaimana melakukannya. Salah satunya adalah, dengan membuat medan magnet buatan untuk Mars.

Ini mungkin tampak seperti sebuah adegan film fiksi ilmiah, tetapi sebenarnya gagasan ini didasarkan pada sains. Dengan sebuah medan magnet buatan, maka hal tersebut bisa menciptakan atmosfer Mars yang cukup tebal dan ringan, sehingga pada akhirnya bisa melindungi astronot dari sinar kosmik dan radiasi di sana.

Membuat medan magnet buatan untuk Mars. Kredit: NASA/Green et al.
Membuat medan magnet bagi Planet Merah ini sebenarnya relatif "sederhana". Manusia hanya harus menempatkan generator magnet pada titik yang tepat antara Mars dan Matahari, yang mana titik tersebut disebut L1 (Lagrange Point).

Benda apapun yang ditempatkan di L1 akan selalu berada tepat di antara Matahari dan Mars, dan karena angin Matahari bertanggung jawab untuk menipisnya atmosfer Mars, itulah satu-satunya perlindungan buatan yang dibutuhkan untuk membuat Mars memiliki atmosfer yang tebal lagi.

Menurut makalah penelitiannya, medan magnet buatan yang akan ditempatkan pada L1 Mars akan memiliki tingkat magnet sekitar 1 atau 2 Tesla (atau 10.000 hingga 20.000 Gauss), yang berfungsi sebagai perisai aktif terhadap angin Matahari.

Selain medan magnet buatan ini bisa meningkatkan tekanan atmosfer Mars, hal ini juga akan menyebabkan adanya peningkatan suhu di Mars menjadi 4° Celcius, yang sudah lebih dari cukup untuk melelehkan es di daerah kutubnya, membebaskan karbon dioksida dan menciptakan efek rumah kaca yang kuat. Pada akhirnya, air akan kembali melimpah di Mars.

Jadi, sebenarnya ada banyak pilihan bagi manusia untuk menjelajahi Mars di masa depan. Saat ini, menjelajahi Mars mungkin masih terasa tidak mungkin bagi sebagian orang, sementara sebagian lainnya sedang sibuk mempersiapkan teknologi mutakhir untuk menjadi yang terdepan melakukannya.

Bersabarlah, Mars.


Sumber: IQSdirectory.com, Space.com, Futurism, Phys.org.
Misi ke Mars: Cukup Mengunjungi atau Membangun Koloni? Misi ke Mars: Cukup Mengunjungi atau Membangun Koloni? Reviewed by Riza Miftah Muharram on November 24, 2017 Rating: 5

Hype - Jangan Lewatkan!