Hujan Meteor Leonid versus Hujan Air

Hujan meteor. Kredit: Brad Goldpaint
Info Astronomy - November ini, seperti pada November di tahun-tahun sebelumnya, hujan meteor Leonid akan memuncak. Sayangnya, November juga bertepatan dengan musim penghujan. Hal itupun membuat hujan meteor Leonid akan berhadapan dengan hujan air. Kira-kira, siapa pemenangnya?

Yang jelas, pemenangnya baru bisa kita ketahui pada 18 November mendatang, saat hujan meteor Leonid mencapai puncaknya. Leonid sendiri merupakan salah satu hujan meteor terbaik karena memiliki intensitas yang cukup tinggi saat puncaknya. Ditambah lagi, pengamatan tahun ini tidak akan terganggu Bulan karena satu-satunya satelit alami Bumi kita tersebut masuk fase bulan baru.

Bisa diamati mulai pukul 02.00 dini hari waktu setempat daerah Anda, Leonid yang berasal dari puing-puing komet 55P/Tempel–Tuttle ini diperkirakan akan teramati sekitar 20 meteor per jam, dengan catatan Anda mengamatinya di daerah dengan tingkat polusi cahaya rendah.

Hujan meteor ini bisa disaksikan di seluruh Indonesia. Namun, lokasi terbaik untuk menonton hujan meteor selalu merupakan di area pedesaan. Lokasi pengamatan yang cukup jauh dari perkotaan yang berkilauan polusi cahaya adalah hal wajib untuk bisa melihat meteor.

Saat malam tiba, Anda mungkin tidak sabar untuk melihat meteor. Tapi ingat bahwa peristiwa hujan meteor paling baik diamati setelah tengah malam. Tidur sianglah bila sempat agar pengamatan hujan meteor tidak terhalang rasa kantuk. Setelah tengah malam, berbaringlah dengan nyaman dan saksikan meteor-meteor melesat cepat.

Titik radian hujan meteor Leonid. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Hujan meteor mendapatkan namanya dari sebuah titik radian di langit di mana mereka tampak memancar. Untuk hujan meteor Leonid, maka titik radiannya ada di rasi bintang Leo si Singa. Dengan begitu, meteor-meteor akan tampak memancar keluar dari sekitar rasi bintang tersebut, tepatnya dekat bintang Algieba.

Walakin, Anda tidak perlu terus-menerus atau menemukan titik radian hujan meteor Leonid, sebab meteor-meteor bisa teramati di wilayah selebar 30 derajat atau lebih dari titik radiannya. Meteor-meteor akan melesat dari egala arah.

Tidak butuh teleskop atau teropong untuk mengamatinya. Cukup siapkan kopi hangat, pakai jaket, dan Anda bisa berbaring sambil mengamati langit. Jangan lupa ajak teman atau minimal kucing agar pengamatan tidak sendirian.

Selamat berburu meteor... semoga hujan air kalah alias langit cerah!


Sumber: EarthSky, Space.com, Stardate.org.
Hujan Meteor Leonid versus Hujan Air Hujan Meteor Leonid versus Hujan Air Reviewed by Riza Miftah Muharram on November 08, 2017 Rating: 5

Hype - Jangan Lewatkan!