Kau yang Berasal dari Bintang

Mengamati diri sendiri, bintang. Kredit: Martin Marthadinata
Info Astronomy - Semua memiliki awal dan akhir, begitupun alam semesta. Dengan mengamati alam semesta yang terus mengembang hingga saat ini, para ilmuwan yakin jika dahulu alam semesta saling berdekatan. Bahkan diduga alam semesta pernah menyatu dalam suatu inti tunggal.

Namun, pada titik itu alam semesta masih tak terdefinisikan. Alam semesta baru terlahir oleh suatu dentuman besar yang menghasilkan energi, massa, ruang, dan waktu. Massa yang terbentuk dari dentuman besar hanya materi dasar berupa atom-atom ringan dengan mayoritas hidrogen dan sedikit helium.

Dari atom-atom ringan itu tidak banyak senyawa yang bisa terbentuk selain senyawa unsur masing-masing atom. Belum ada oksigen untuk bersenyawa dengan hidrogen membentuk air yang menyusun tubuh kita. Belum ada kalsium untuk membentuk tulang belulang kita. Belum ada karbon yang hampir selalu ada pada tiap senyawa organik kompleks dalam tubuh kita.

Untuk bisa membentuk atom-atom yang lebih berat, maka atom-atom ringan harus bergabung jadi satu. Penggabungan inti atom ini bisa terjadi dalam reaksi fusi nuklir. Namun, reaksi fusi nuklir tidak mungkin terjadi dalam situasi normal.

Inti atom mengandung proton yang bermuatan positif dan akan saling tolak-menolak jika disatukan. Untuk melawan gaya tolak-menolak itu, maka antar-atom harus bergerak cepat kemudian bertabrakan. Dan untuk bisa bergerak cepat, dibutuhkan suhu yang sangat panas sebagai pemacu energi kinetik antar-atom.

Dan menakjubkan, reaksi fusi nuklir yang sangat rumit itu bisa berjalan alami.

Dengan konsentrasi hidrogen yang tinggi pada masa awal alam semesta, atom-atom hidrogen akan dengan mudah berkumpul membentuk suatu awan hidrogen. Awan hidrogen yang telah berkumpul akan memiliki massa dan gravitasi sehingga bisa menarik lebih banyak hidrogen lain dan menjadi makin besar.

Seiring peningkatan massa dan gravitasi pada awan hidrogen, maka tekanan pada inti pun meningkat. Dan dengan meningkatnya tekanan inti maka suhu pada inti pun makin tinggi. Semakin lama awan hidrogen kian besar dan suhu inti kian panas. Hingga akhirnya.. Voila! Suhu inti cukup panas untuk melangsungkan fusi nuklir!

Dengan berlangsungnya fusi nuklir ini, maka atom-atom ringan akan bersatu menjadi atom yang lebih berat seraya menghasilkan energi. Pada tahap ini, awan hidrogen telah berubah menjadi bintang yang menghasilkan energi dan cahaya secara independen.

Jadi, bintang akan terus bersinar selama fusi nuklir terus berlangsung. Karena fusi nuklir ini pula beberapa hidrogen akan bersatu membentuk helium. Kemudian hidrogen dan helium yang telah terbentuk tadi akan bersatu membentuk litium. Begitu seterusnya sehingga terbentuk berbagai unsur atom baru.

Namun, bintang tidak akan bersinar selamanya.

Akibat fusi nuklir, jumlah atom ringan akan terus berkurang karena berubah menjadi atom yang lebih berat. Semakin berat suatu atom, maka jumlah proton pada inti pun bertambah. Dengan bertambahnya muatan pada inti atom, maka energi yang dibutuhkan untuk menggabungkan antar-atom menjadi semakin besar.

Misalnya saja, untuk menggabung antar-helium, dibutuhkan energi yang lebih besar bila dibanding menggabung antar-hidrogen. Dan untuk menggabung antar-litium, dibutuhkan energi yang lebih besar dibanding menggabung antar-helium.

Sayangnya, suhu bintang tidak bisa bertambah untuk memenuhi kebutuhan energi fusi yang semakin besar ini. Jadi akan ada suatu masa di mana akhirnya bintang tidak punya cukup energi untuk "memaksa" antar-atom untuk bergabung.

Ketika itu terjadi, maka terjadilah kematian bagi si bintang. Ketika itu, inti bintang akan mengalami keruntuhan massa karena tidak ada lagi fusi nuklir yang bisa mengimbangi tekanan gravitasinya. Akibatnya, inti dan selubung bintang akan berpisah. Selubung bintang akan terlontar menyebarkan atom-atom baru yang telah terbentuk ke seluruh penjuru semesta.

Dari atom-atom baru itu, kemudian terbentuk pula senyawa-senyawa baru yang dahulu tidak mungkin terbentuk. Dengan terbentuknya oksigen maka bersama hidrogen bisa terbentuk air yang menyusun mayoritas tubuh manusia. Dengan terbentuknya kalsium maka tulang belulang manusia bisa menjadi kuat. Dengan terbentuknya natrium maka bersama oksigen dan hidrogen bisa terbentuk garam yang menjaga kadar keasaman tubuh manusia. Dan begitu banyak unsur dan senyawa lainnya.

Tubuh kita yang begitu kaya oleh senyawa-senyawa sederhana hingga organik kompleks membutuhkan begitu banyak unsur dari berbagai nomor atom yang berbeda-beda. Dan keragaman unsur atom yang menyusun tubuh kita hanya bisa dihasilkan oleh bintang melalui proses fusi nuklir pada intinya.

Dengan kata lain, tubuh kita sejatinya tersusun dari materi pada bintang melalui proses yang sangat panjang. Kita sebelum berasal dari Bumi, lebih dulu berasal dari bintang.

Kita terlahir dari bintang, bersinarlah layaknya bintang.


Artikel ini pertama kali dipublikasikan di Kalastro.id pada Oktober 2016. Baca artikel originalnya di sini.
Kau yang Berasal dari Bintang Kau yang Berasal dari Bintang Reviewed by Info Astronomy on Oktober 18, 2017 Rating: 5

Hype - Jangan Lewatkan!