Kalender Hijriah dan Fase Bulan

Fase-fase Bulan. Kredit: Fred Espenak, AstroPixels.com
Info Astronomy - Bulan, satu-satunya satelit alami yang mengelilingi Bumi, memiliki peran penting dalam kalender Hijriah. Setiap hari dalam penanggalan ini menandakan satu lokasi Bulan dalam berevolusi terhadap Bumi, sehingga menjadi dasar dalam perhitungan kalender Hijriah.

Bulan diketahui berotasi terhadap porosnya dalam periode sekitar 27,3 hari. Ia pun juga diketahui berevolusi terhadap Bumi selama 27,3 hari. Efek dari perputaran yang kala periodenya sama ini membuat permukaan Bulan yang terlihat dari Bumi tidak berubah dari waktu ke waktu, alias yang itu-itu saja.

Nah, fase Bulan atau perubahan bentuk Bulan terjadi akibat perubahan sudut dari garis yang menghubungkan Matahari-Bumi-Bulan sewaktu Bulan mengorbit Bumi. Bulan memiliki banyak fase, yang umum kita ketahui di antaranya adalah Bulan baru, sabit, dan purnama.

Perubahan dalam bentuk fase ini diakibatkan oleh kondisi pencahayaan dari Matahari yang berbeda. Jumlah yang berbeda dari sinar Matahari, tercermin oleh Bulan ke Bumi. Karena Bulan terus berputar mengelilingi Bumi, maka dari itu munculah bentuk yang berbeda.

Seperti misalnya saat fase Bulan kuartal awal, Bulan akan tampak separuh karena ia berada 90 derajat dari Matahari di langit Bumi. Dengan begitu, dalam pandangan kita dari Bumi, Bulan akan tampak separuh saja, separuh lainnya yang membelakangi Matahari akan tampak gelap.

Berbeda dengan fase Bulan Purnama, di mana Bulan berada 180 derajat dari Matahari di langit Bumi. Hal itu tentu membuat seluruh permukaan Bulan yang menghadap ke Bumi tersinari sepenuhnya oleh Matahari. Kadang kala, posisi ini bisa menyebabkan gerhana Bulan, sayangnya tidak selalu terjadi saat purnama karena orbit Bulan miring 5 derajat dalam mengelilingi Bumi.

Geometri bagaimana fase Bulan bisa terbentuk. Kredit: Istimewa

Pergerakan Bulan

Setidaknya, diketahui ada dua macam pergerakan Bulan. Pertama adalah gerak sideris, yakni periode yang dibutuhkan Bulan untuk berputar 360 derajat mengelilingi Bumi, lamanya 27,3 hari. Yang kedua adalah gerak sinodis, yakni periode yang dibutuhkan antara satu Bulan baru ke fase Bulan baru berikutnya, lamanya 29,5 hari atau tepatnya 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik.

Ada perbedaan sekitar 2 hari dalam dua gerakan Bulan ini. Hal ini disebabkan karena Bumi juga berevolusi terhadap Matahari pada arah yang sama, sehingga untuk mencapai konjungsi berikutnya, Bulan memerlukan tambahan waktu. Dari kedua gerak tersebut, yang umum digunakan dalam penentuan kalender Hijriah adalah gerak sinodis.

Arah revolusi Bulan terhadap Bumi sama dengan arah revolusi Bumi terhadap Matahari, yaitu dari barat ke timur. Akibat dari revolusi Bulan ini dan kombinasinya dengan revolusi Bulan mengelilingi Matahari, penduduk Bumi dapat menyaksikan berbagai macam fase Bulan seperti yang telah disinggung di atas sebelumnya.

Setiap awal bulan kaleder Hijriah, selalu terjadi peristiwa yang dikenal sebagai konjungsi (ijtimak), di mana Matahari, Bulan dan Bumi berada dalam satu garis bujur yang sama dilihat dari arah timur maupun barat. Peristiwa penting inilah yang menjadi patokan awal bulan baru, meskipun tidak semua aliran atau komunitas Muslim menjadikan konjungsi sebagai tanda dimulainya awal bulan dalam kalender Hijriah.

Kalender Hijriah

Penanggalan yang mengikuti fase Bulan lumrah disebut dengan kalender lunar. Namun, mayoritas kalender lunar adalah kalender yang bukan murni mendasarkan perhitungan tanggalnya pada fase Bulan saja, melainkan juga memperhitungkan pergantian musim yang dipengaruhi oleh peredaran Bumi terhadap Matahari. Kalender sejenis ini disebut sebagai kalender lunisolar.

Satu dari sedikit kalender yang murni mendasarkan perhitungannya pada fase bulan adalah kalender Hijriah dan kalender Jawa Islam. Bila jumlah hari dalam kalender solar atau lunisolar berkisar antara 354 hari sampai 384 hari pertahunnya, maka dalam kalender lunar murni, jumlah hari pertahunnya tetap 354 hari.

Hilal, penanda awal bulan baru dalam kalender Hijriah. Kredit: Anthony Ayiomamitis
Kalender Hijriah memiliki kesamaan dengan kalender Gregorian; memiliki 12 bulan dalam satu tahun. Dengan berdasarkan gerak sinodis Bulan, hal itu membuat dalam waktu 12 bulan di kalender Hijriah maka akan mencapai sekitar 354,367 hari.

Namun sebenarnya, perputaran Bulan yang hakiki selama satu tahun adalah 354,367 hari, berbeda 0,367 hari dari jumlah hari dalam 12 bulan kalender Hijriah. Untuk menyiasati hal ini, maka peredaran sinodis Bulan yang 29 menit 12 jam 44 menit 2,8 detik tadi angka 2,8 detiknya diabaikan karena sangat kecil sehingga tidak berarti.

Dengan demikian, rata-rata hari dalam satu tahun kalender Hijriah adalah 29,5 hari x 12 = 354 hari 44 menit x 12 = 528 menit. Dengan kata lain, alam setahun ada 354 hari 528 menit. Tapi berhubung manusia tidak mungkin menggunakan kalender dengan jumlah hari 0,5, maka untuk menyiasatinya lagi bilangan pecahan 29,5 hari dalam periode sinodis dikalikan dengan 2 sehingga menjadi 59 hari (hitungan 2 bulan).

30 hari diberikan kepada bulan-bulan ganjil dalam kalender Hijriah, sementara 29 hari diberikan kepada bulan-bulan genap. Sehingga, dalam satu tahun ada 6 bulan yang berjumlah 30 hari dan 6 bulan yang berjumlah 29 hari. Apabila dijumlahkan, maka akan didapatkan angka 354 hari.

Itulah sedikit tentang kalender hijriah dan fase Bulan. Selamat tahun baru Islam 1439 Hijriah!


Sumber: Live Science, NASA.
Iklan mengganggu? Hubungi kami!
Kalender Hijriah dan Fase Bulan Kalender Hijriah dan Fase Bulan Reviewed by Riza Miftah Muharram on September 21, 2017 Rating: 5

Hype - Jangan Lewatkan!