Header Ads

Perseid, Masihkah Menjadi Favorit Tahun Ini?

Baca Juga

Hujan meteor Perseid tahun 2016 di langit Turki. Kredit: Tunç Tezel (TWAN)
Info Astronomy - Sebuah peristiwa hujan meteor bakal hiasi langit malam pada akhir pekan ini. Perseid namanya, yang memiliki titik radian di rasi bintang Perseus yang berada di langit utara. Tapi, bagaimana prospek pengamatan Perseid tahun ini?

Terjadi ketika Bumi melewati aliran puing-puing bekas komet Swift-Tuttle, hujan meteor merupakan peristiwa yang cukup aman untuk diamati karena meteor-meteor yang muncul hanya berukuran sebutir pasir hingga sebesar bola kasti saja. Seluruh meteor akan habis terbakar di atmosfer sebelum menumbuk Bumi.

Sebagian besar puing-puing dari komet Swift-Tuttle ini diketahui berumur ribuan tahun, walaupun ada beberapa di antaranya masih merupakan puing-puing muda yang menguap dari sang komet pada tahun 1862.

Lalu, mengapa komet Swift-Tuttle meninggalkan puing-puing di bekas jalur orbitnya? Jadi, komet merupakan semacam salju kotor. Ia terbentuk dari es dan batuan. Ketika mendekati Matahari, es-nya menguap sementara batu-batuannya berhamburan. Batu-batuan itulah yang menjadi puing-puing yang memasuki atmosfer Bumi sebagai meteor.

Komet Swift-Tuttle sendiri (bernama resmi 109P/Swift-Tuttle) adalah sebuah komet dengan diameter 25 km dan merupakan komet periodik dengan masa periode orbital 133 tahun. Komet ini ditemukan secara independen oleh astronom Lewis Swift pada tanggal 16 Juli 1862 dan oleh Horace Parnell Tuttle pada tanggal 19 Juli 1862.

Sayang, tahun 2017 ini, hujan meteor Perseid tampaknya tidak akan seramai tahun 2016. Meskipun memiliki intensitas 150 meteor per jam, puncak Perseid yang jatuh setiap tanggal 12 Agustus untuk tahun ini bertepatan dengan fase Bulan cembung akhir.

Cahaya dari Bulan yang masih begitu terik akan membuat intensitas Perseid bisa menurun drastis hingga hanya 20-30 meteor per jam, itu pun bila mengamati di langit yang gelap gulita dan bebas polusi cahaya buatan. Cahaya Bulan cembung yang cenderung masih sangat terang diperkirakan akan membuat meteor-meteor redup tak teramati.

Bulan cembung yang terbit pukul 21.10 waktu setempat pada tanggal 12 Agustus membuat ia akan terus teramati sepanjang malam. Hal ini tentunya akan sangat mengganggu bila kita ingin mengamati hujan meteor. Sebab, salah satu syarat pengamatan hujan meteor adalah langit yang benar-benar gelap tanpa ada gangguan cahaya, termasuk cahaya Bulan.

Walau begitu, ada sedikit harapan. Yakni, hujan meteor Perseid diketahui sering menghasilkan meteor-meteor yang lebih terang dibanding hujan meteor lainnya. Rata-rata meteor Perseid mampu mencapai magnitudo -1,4 atau hampir seterang Sirius, bintang paling terang di langit malam.

Terangnya meteor-meteor Perseid diduga karena ukuran dari serpihan-serpihan komet Swift Tuttle yang lebih besar dan pergerakannya yang lebih cepat ketika memasuki atmosfer Bumi.

Bila Anda ingin tetap melakukan pengamatan nanti, utamakan mencari lokasi yang bebas polusi serta memiliki medan pandang luas ke segala arah, terutama arah utara. Sehingga kemungkinan terlihatnya meteor pun akan semakin besar.

Karena pergerakan meteor-meteor Perseid sangat cepat, bahkan bisa mencapai lebih dari 60 km per detik, maka pengamatan wajib dilakukan dengan cukup mata telanjang saja. Menggunakan teleskop atau binokuler akan menyempitkan medan pandang Anda, sehingga penggunaan teleskop ataupun binokuler tidak dianjurkan.

Oh iya, gunakan jaket, bawa camilan, dan ajak juga kucing dan teman-teman Anda. Selamat berburu meteor!


Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.

Diberdayakan oleh Blogger.