Header Ads

Wajib Lihat! Inilah Jadwal Peristiwa Langit Agustus 2017

Baca Juga

Bentangan Bimasakti di langit malam. Kredit: Pexels.com
Info Astronomy - Kita akhirnya tiba juga di bulan Agustus, bulan yang bagus untuk memotret galaksi Bimasakti. Pada Agustus ini, kita juga berkesempatan mengamati gerhana Bulan, planet-planet tata surya, dan hujan meteor. Kapan dan bagaimana cara mengamatinya? Kami telah susun jadwalnya di bawah ini!

3 Agustus 2017: Konjungsi Saturnus dengan Bulan

Di awal Agustus ini, kita dapat menyaksikan munculnya planet Saturnus yang seolah tampak bersebelahan dengan Bulan karena keduanya berada di titik konjungsi satu sama lain. Bulan yang telah berusia 11 hari akan berada sekitar 3°25' dari Saturnus dalam pandangan dari Bumi.

Untuk mengamatinya, pasangan benda langit ini bisa diamati mulai pukul 18.30 waktu setempat daerah Anda, ketika keduanya berada pada ketinggian 57° di atas cakrawala tenggara daerah Anda. Keduanya kemudian akan mencapai titik tertinggi di langit pada pukul 20.25 waktu setempat, yakni di ketinggian 74° di atas cakrawala selatan.

Baik Saturnus maupun Bulan akan terus bisa diamati sampai sekitar pukul 02.05 waktu setempat, saat mereka terbenam di 8° di atas cakrawala barat. Bulan akan bersinar dengan magnitudo -12,3 dan Saturnus dengan magnitudo 0,1. Dalam pandangan mata telanjang, Saturnus hanya akan tampak bagai bintang kuning terang keemasan, Anda butuh teleskop untuk bisa melihat cincinnya.

Konjungsi Saturnus dengan Bulan. 3 Agustus 2017. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org

7-8 Agustus 2017: Gerhana Bulan Parsial

Akan ada gerhana Bulan parsial yang terlihat dari seluruh Indonesia pada 7-8 Agustus 2017. Gerhana akan dimulai pada pukul 22.51 WIB (7 Agustus 2017), saat Bulan pertama kali memasuki daerah bayangan Bumi yang disebut penumbra. Akibatnya, kecerahan Bulan akan mulai sedikit redup.

Gerhana parsial akan berlangsung dari pukul 00.23 WIB sampai 02.18 WIB, sementara puncak gerhana akan terjadi pada pukul 01.21 WIB, ketika 24% permukaan Bulan yang menghadap ke Bumi akan berada dalam bayangan umbra Bumi sehingga tampak gelap.

Gerhana Bulan parsial ini sangat mudah dilihat dengan mata telanjang tanpa bantuan alat optik. Namun, binokuler atau teleskop akan memberikan pemandangan luar biasa bila Anda menggunakannya. Tidak seperti gerhana Matahari, gerhana Bulan sepenuhnya aman untuk dilihat tanpa perlu menggunakan filter.

Wajah Bulan saat puncak gerhana Bulan parsial terjadi. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Saat puncak gerhana terjadi, Bulan akan berada ketinggian 67° di atas cakrawala barat. Gerhana Bulan sendiri terjadi karena Bumi memotong orbit antara Bulan dan Matahari, sehingga mengaburkan cahaya Matahari yang diterima Bulan hingga akhirnya menghasilkan bayangan ke permukaan Bulan. Bayangan bulat Bumi pada permukaan Bulan saat puncak gerhana sudah cukup membuktikan bawah Bumi ini bulat.

Baca informasi lengkap gerhana Bulan parsial ini di Buletin Astronomi Juli 2017

13 Agustus 2017: Hujan Meteor Perseid

Pernahkah Anda melihat peristiwa langit berupa hujan meteor? Pada 13 Agustus 2017, hujan meteor Perseid akan mencapai puncaknya. Intensitas pada puncak hujan meteor ini akan mencapai 80 meteor per jam. Namun, intensitas ini hanya berlaku bagi pengamatan yang dilakukan di kondisi langit yang sangat gelap tanpa polusi cahaya dan cuaca cerah.

Bila Anda mengamatinya di daerah perkotaan atau lokasi dengan tingkat pencemaran polusi cahaya yang tinggi, maka intensitasnya akan berkurang hingga hanya mencapai 10 meteor per jam saja. Polusi cahaya membuat meteor-meteor redup dan kecil tak akan jelas terlihat.

Ilustrasi hujan meteor Perseid. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Sayangnya, pada Perseid tahun ini, puncaknya bertepatan dengan Bulan cembung yang berusia 21 hari, yang cahayanya akan semakin membuat intensitas kemunculan meteor-meteor pada hujan meteor Perseid akan menurun.

Walau begitu, bagi Anda yang ingin mengamatinya, Anda bisa mulai pengamatan pada pukul 04.00 dini hari waktu setempat. Menghadaplah ke arah utara karena titik radian hujan meteor ini berada di asensio rekta 03h00m, deklinasi +58°, 20° di atas cakrawala utara.

Hujan meteor Perseid berasal dari puing-puing yang ditinggalkan oleh komet Swift-Tuttle. Setiap tanggal 13 Agustus, orbit Bumi membawanya menerjang jalur bekas komet ini sehingga puing-puingnya memasuki atmosfer Bumi lalu terbakar menjadi meteor.

19 Agustus 2017: Konjungsi Venus dengan Bulan

Konjungsi Venus dengan Bulan. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Sebelum Matahari terbit pada 19 Agustus 2017, kita bisa mengamati Bulan sabit tipis yang ditemani planet Venus terang di langit timur. Pada momen konjungsi ini, Bulan dan Venus hanya akan terpisah 2° satu sama lain dalam pandangan dari Bumi.

Kita bisa mengamatinya mulai pukul 05.00 dini hari waktu setempat. Dalam pandangan mata telanjang, Venus akan muncul bagaikan bintang yang paliiiiiiing terang dan tidak berkelap-kelip. Bulan akan bersinar dengan magnitudo -10,1 sementara Venus dengan magnitudo -4. Keduanya bakal berada di depan rasi bintang Gemini.

22 Agustus 2017: Gerhana Matahari Total

Jika tahun lalu di Indonesia, maka gerhana Matahari total tahun ini akan teramati di Amerika Serikat. Selain negara adidaya itu, tak ada lagi lokasi lain yang bisa mengamatinya, termasuk Indonesia. Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang berkesempatan mengamati gerhana Matahari total ini.

Alasan utama mengapa gerhana Matahari total ini tidak bisa diamati di Indonesia adalah karena terjadi saat Indonesia sudah malam hari. Karena Bumi yang bulat, Indonesia sedang membelakangi Matahari saat gerhana terjadi.

Gerhana Matahari total terjadi ketika seluruh wajah Bulan menghalangi Matahari sehingga menyebabkan daerah yang dilintasi jalur gerhana akan menjadi gelap gulita sesaat. Puncak gerhana Matahari total ini terjadi pukul 01.26 WIB dengan durasi totalitas mencapai 2 menit 40 detik.

25 Agustus 2017: Konjungsi Jupiter dengan Bulan

Inilah saat yang bagus untuk menemukan planet Jupiter! Bulan yang telah berusia 4 hari pasca-gerhana Matahari total akan tampak berada sejauh 3°17' dari Jupiter dalam pandangan dari Bumi kita.

Konjungsi Jupiter dengan Bulan. Kredit: Stellarium/InfoAstronomy.org
Bila ingin mengamatinya, tengoklah langit barat satu jam setelah Matahari terbenam pada 25 Agustus 2017. Anda akan menemukan Bulan sabit tipis dan adanya objek bagai bintang terang kekuningan yang cahayanya tidak berkelap-kelip yang merupakan planet Jupiter. Kedua benda langit ini bisa terus diamati hingga 3 jam 7 menit setelah Matahari terbenam atau pada sekitar pukul 21.00 waktu setempat.

Anda butuh teleskop untuk bisa melihat Jupiter lebih jelas lengkap dengan garis-garis atmosfernya. Pada momen konjungsi, Bulan akan bersinar dengan magnitudo -10,7 dan Jupiter dengan magnitydo -1,8. Keduanya bakal berada di depan rasi bintang Virgo.

Nah, itulah peristiwa-peristiwa langit yang akan terjadi sepanjang Agustus 2017 ini. Mana peristiwa yang paling Anda tunggu-tunggu?

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.

Diberdayakan oleh Blogger.