Header Ads

Mengamati Alam Semesta Sama Seperti Melihat ke Masa Lalu

Bintang Alpha Centauri. Kredit: ESA/NASA/Hubble
Info Astronomy - Alam semesta seperti semacam jendela waktu yang ajaib, yang memungkinkan kita untuk mengintip ke masa lalu. Semakin jauh kita melihat di alam semesta, semakin jauh pula kita melihat kembali ke masa lalu. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Sederhana sebenarnya, hal ini bisa terjadi karena kecepatan cahaya. Ketika kita melihat benda-benda yang jaraknya sangat jauh dari kita, cahaya dari benda yang sedang kita amati tersebut cahayanya dari masa lalu, sehingga apa yang kita lihat pada benda itu sekarang bukan keadaannya saat ini, melainkan beberapa waktu lalu (tergantung kapan cahaya itu dipancarkan olehnya).

Sebagai contoh, Alpha Centauri, yang merupakan sistem bintang terdekat dengan Bumi kita (selain Matahari). Sistem bintang ini berada pada jarak sekitar sekitar 4 tahun cahaya dari Bumi, yang mana berarti cahaya yang kita lihat pada Alpha Centauri saat ini merupakan cahayanya 4 tahun yang lalu. Bila ada hal yang terjadi pada bintang tersebut detik ini, kita baru mengetahuinya pada 4 tahun mendatang.

Bahkan, cahaya dari Matahari membutuhkan waktu sekitar 8 menit untuk mencapai kita di Bumi, sehingga ketika Anda melihat ke Matahari, Anda sebenarnya melihat keadaan Matahari 8 menit yang lalu! (Peringatan: Tidak dianjurkan untuk melihat Matahari secara langsung setelah membaca artikel ini karena dapat merusak mata Anda akan silaunya.)

Contoh lainnya adalah, jarak rata-rata antara Bumi ke Mars adalah sekitar 14 menit cahaya. Jadi nantinya ketika kita sedang menonton liputan langsung dari pendaratan manusia di Mars, liputan langsung itu tidaklah benar-benar langsung. Kru astronot itu telah mendarat 14 menit sebelumnya.

Mau yang lebih jauh? Ada galaksi Andromeda di langit yang bisa kita lihat dengan mata telanjang. Jarak rata-rata galaksi Andromeda adalah 2,5 juta tahun cahaya dari Bumi. Itu artinya, ketika kita melihat galaksi Andromeda saat ini, berarti kita sedang melihat kondisi galaksi Andromeda 2,5 juta tahun yang lalu.

Tapi, seberapa jauh kita bisa melihat ke masa lalu dengan mengamati benda-benda di alam semesta? Diketahui, beberapa objek paling terang di langit adalah quasar, yang terbentuk dari cakram akresi pada lubang hitam supermasif yang aktif memakan materi di inti tiap-tiap galaksi.

Quasar yang paling dekat dari Bumi berjarak sekitar 2,5 miliar tahun cahaya jauhnya. Bumi terbentuk sekitar 4,5 miliar tahun yang lalu, sehingga saat kita melihat cahaya dari quasar tadi, cahaya tersebut bahkan sudah ada sebelum Bumi terbentuk. Menariknya, jika Anda berada di quasar itu dan memiliki teleskop kuat untuk melihat Matahari, Anda tidak akan menemukan Bumi.

Waktu terlampau yang bisa kita amati di alam semesta adalah pada sekitar 100.000 tahun setelah Big Bang, yakni ketika materi dan radiasi di alam semesta masih begitu padat yang bahkan cahaya juga masih "tergabung" dalam kepadatan itu. Ini berarti cahaya yang dipancarkan ketika alam semesta berusia kurang dari 100.000 tahun tidak bisa "pergi ke mana pun", dan karenanya tidak dapat kita amati saat ini.

Jadi, apa persamaan antara astronomi dengan arkeologi? Jawabannya adalah, orang yang mempelajarinya sama-sama bisa melihat ke masa lalu!


Sumber: Cornell University, UniverseToday.com, Space.com.

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.

Diberdayakan oleh Blogger.