Memotret Cakrawala Peristiwa dari Lubang Hitam

Gargantua, gambaran lubang hitam terbaik dari film Interstellar (2014). Kredit: Warner Bros
Info Astronomy - Lubang hitam, seperti namanya, kenampakannya hitam dan sangat gelap. Lubang hitam mengonsumsi segala sesuatu yang melintasi event horizon (cakrawala peristiwa) mereka, termasuk cahaya, membuat mereka mustahil untuk dipotret. Namun, April 2017 ini, sekelompok astronom akan mencoba memotretnya.

Disebut Event Horizon Telescope, instrumen pemotretan cakrawala peristiwa lubang hitam terbaru terdiri dari jaringan teleskop radio yang terletak di seluruh planet Bumi, termasuk di Kutub Selatan, AS, Chile, dan pegunungan Alpen.

Dilansir ScienceAlert.com, jaringan teleskop radio di seluruh dunia ini akan diaktifkan antara tanggal 5 hingga tanggal 14 April 2017. Event Horizon Telescope akan bekerja menggunakan teknik yang dikenal sebagai very-long baseline interferometry (VLBI), yang berarti jaringan teleskop ini akan fokus dalam mengumpulkan gelombang radio yang dipancarkan oleh objek tertentu di luar angkasa.

Dalam "memotret" lubang hitam, Event Horizon Telescope akan fokus pada gelombang radio dengan panjang gelombang 1,3 mm (230 GHz), yang nantinya akan memberikan para astronom kesempatan terbaik untuk menerobos awan gas dan debu yang menghalangi pandangan lubang hitam dari Bumi.

Dan karena ada begitu banyak teleskop radio yang akan digunakan dalam pengamatan ini, resolusi citra yang nantinya didapatkan oleh para astronom adalah 50 microarcsecond, atau setara dengan melihat jeruk secara utuh di permukaan Bulan dari Bumi.

Resolusi seluar biasa ini begitu penting karena target pertama dalam pengamatan dan pemotretan cakrawala peristiwa ini adalah pada lubang hitam supermasif yang berada di pusat galaksi kita, yang disebut Sagitarius A* (baca: Sagitarius A-star).

Sepanjang sejarah umat manusia, kita belum pernah secara langsung mengamati lubang hitam supermasif Sagitarius A*, namun para astronom telah mengetahui kalau lubang hitam supermasif itu ada karena ia secara aktif mempengaruhi orbit dari bintang-bintang di dekatnya.

Berdasarkan perilaku orbit bintang-bintang di dekatnya ini, para astronom memperkirakan bahwa lubang hitam supermasif Sagitarius A* mungkin berukuran sekitar 4 juta kali lebih masif dari Matahari, tetapi dengan diameter cakrawala peristiwa yang hanya 20 juta km.

Terletak pada jarak sekitar 26.000 tahun cahaya dari Bumi, membuat lubang hitam supermasif Sagitarius A* menjadi target yang cukup ideal.

Nantinya, Event Horizon Telescope bakal mengamati lingkungan sekitar sekitar lubang hitam supermasif Sagitarius A*. Para astronom yang tergabung dalam proyek ini memprediksi lubang hitam akan terlihat seperti cincin cahaya terang di sekitar gumpalan gelap.

Cahaya tersebut dipancarkan oleh gas dan partikel debu yang melesat dalam kecepatan tinggi sebelum mereka tercabik-cabik dan dikonsumsi oleh sang lubang hitam. Sementara gumpalan gelap itu merupakan si lubang hitam supermasif Sagitarius A*.

Tapi jika Einstein benar, yang akan kita lihat nanti lebih seperti cahaya sabit dari cincin karena efek Doppler. Jika Anda pernah menonton film Interstellar (2014), maka seperti itulah nantinya pemandangan lubang hitam yang akan diamati lewat Event Horizon Telescope.

Lalu, apa yang terjadi jika kita melihat sesuatu yang lain? Doeleman, astronom dari Harvard-Smithsonian Centre for Astrophysics mengatakan, sesuatu yang lain itu kemungkinan akan mengguncang dunia fisika, meruntuhkan teori-teori yang sudah ada menjadi teori baru dengan bukti tersebut.

Mengingat semua data yang nantinya akan dikumpulkan Event Horizon Teleskop perlu diproses, diperkirakan citra lubang hitam supermasif Sagitarius A* baru akan dirilis tahun 2018 mendatang. Itupun dengan asumsi pengamatan April ini sukses dilakukan.
Memotret Cakrawala Peristiwa dari Lubang Hitam Memotret Cakrawala Peristiwa dari Lubang Hitam Reviewed by Riza Miftah Muharram on Februari 17, 2017 Rating: 5

Hype - Jangan Lewatkan!