Header Ads

Cuaca di Planet Asing Mirip Jupiter Berhasil Diteliti

Ilustrasi. Kredit: NAOJ
Info Astronomy - Tanda-tanda adanya pergerakan angin kencang berhasil terdeteksi di planet gas ekstrasurya HAT-P-7b, sebuah planet yang 40% lebih besar dari Jupiter dan mengorbit sebuah bintang yang dua kali lebih besar dari Matahari.

Penelitian ini dilakukan oleh astronom Dr. David Armstrong dan koleganya dari University of Warwick, Inggris. Planet HAT-P-7b sendiri sebenarnya sudah ditemukan sejak tahun 2008 oleh tim astronom Jepang yang dipimpin oleh ilmuwan NAOJ Norio Narita, namun kali ini para astronom berhasil mengamati pola cuacanya.

Mengorbit bintang kerdil putih kekuningan bernama HAT-P-7 (juga dikenal sebagai GSC 03547-01402 ataupun Kepler-2), planet dan bintangnya ini berjarak sekitar 1.044 tahun cahaya jauhnya dari Bumi kita di konstelasi Cygnus.

Dalam penelitiannya, Dr. Armstrong dan koleganya menemukan bahwa planet HAT-P-7b memiliki perubahan gerak angin di atmosfernya dalam skala yang besar, bahkan kemungkinan angin tersebut sekelas tornado besar di Bumi.

Dr. Armstrong meneliti pola cuaca di planet HAT-P-7b menggunakan data dari Teleskop Antariksa Kepler, mereka memantau variasi dalam intensitas cahaya dari planet raksasa selama ia mengorbit bintang induknya.

"Menggunakan Kepler kami mampu mempelajari cahaya yang dipantulkan dari atmosfer HAT-P-7b, dan lantas menemukan bahwa atmosfer planet tersebut berubah dari waktu ke waktu," kata Dr Armstrong dalam jurnal penelitiannya yang diterbitkan di jurnal Nature Astronomy.

Perubahan pada atmosfer planet ini diduga disebabkan oleh angin kencang di wilayah ekuator planet, yang mendorong pergerakan awan yang lebih cepat dari pesawat jet. Awan pada atmosfer planet HAT-P-7b sendiri memiliki tampilan menakjubkan, yang diperkirakan terbentuk dari korundum, mineral yang membentuk batu rubi dan safir.

Sayangnya, planet HAT-P-7b tidak bisa dihuni oleh manusia karena sistem planet yang memiliki suhu dan cuaca yang begitu ekstrem tersebut. Planet ini juga terkunci gravitasi bintang induknya, yang berarti hanya satu sisi planet ini yang selalu menghadap bintang, sementara sisi lainnya selalu membelakangi bintang induknya.

Dengan dikonfirmasinya penelitian ini, membuat Dr. Armstrong dan koleganya menjadi tim astronom pertama yang mendeteksi cuaca di sebuah planet gas raksasa di luar Tata Surya kita.

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.

Diberdayakan oleh Blogger.