Zona Habitasi: Cara Astronom Menentukan Kelaikhunian Planet Asing

Ilustrasi zona habitasi. Kredit: CosmosQuest
Info Astronomy - Hanya ada satu planet sejauh ini yang kita tahu memiliki kehidupan, yakni sebuah planet bernama Bumi. Planet kita memiliki semua kondisi yang tepat untuk berbagai spesies, termasuk manusia, hidup di permukaannya. Tapi, apakah planet lain di luar Tata Surya kita ada yang berkehidupan juga?

Yang pasti, para astronom saat ini masih tidak tahu jawabannya, tetapi mereka tetap mencari planet yang berpotensi laik huni atau bahkan berpenghuni menggunakan beberapa kriteria. Idealnya, para astronom ingin menemukan planet-planet asing seperti Bumi. Dengan kata lain, para astronom lebih suka berburu planet seukuran Bumi yang mengorbit pada jarak yang tepat dari bintang mereka, yang disebut zona habitasi atau zona laik huni.

Bagian terpenting dari penelitian ini adalah, kita harus mengetahui dari mana awal zona laik huni sebuah bintang bermula, dan sampai mana zona tersebut berakhir.

Zona laik huni adalah sabuk di sekitar sebuah bintang di mana bila ada planet di sana, suhu permukaannya cukup ideal untuk keberadaan air dalam bentuk cair, yang mana kita ketahui bersama bahwa air adalah unsur penting bagi kehidupan seperti yang kita kenal. Bumi terletak dalam zona habitasi bintang kita, Matahari. Di luar zona ini, sebuah planet mungkin akan terlalu dingin dan beku, sementara bila terletak di antara bintang dan zona ini, kemungkinan planet akan terlalu panas dan beruap.

Tapi perlu dicatat juga, tidak semua planet yang berada ideal di zona habitasi memiliki kehidupan asing cerdas seperti manusia di permukaannya. Bisa jadi kehidupan di planet tersebut hanya berupa mikroba, makhluk air, atau hanya tumbuhan yang belum pernah kita lihat sebelumnya.

Untuk menentukan lokasi zona habitasi sebuah bintang, yang pertama harus dipelajari adalah berapa banyak total radiasi yang dipancarkan bintang tersebut ke area sekitarnya. Bintang yang berukuran lebih besar dari Matahari kita cenderung lebih panas, dan memproduksi radiasi yang sangat besar, sehingga zona habitasi mereka lebih jauh dari zona habitasi Matahari.

Demikian pula, bintang yang berukuran lebih kecil dari Matahari memiliki sabuk zona habitasi yang juga kecil dan lebih sempit dari Matahari kita. Sebagai contoh, planet mirip Bumi yang disebut Kepler-62F, ditemukan oleh Kepler mengorbit di tengah zona habitasi bintang induknya yang kecil dan dingin, sehingga sang planet mengorbit lebih dekat ke bintangnya dibandingkan Bumi mengorbit Matahari. Planet Kepler-62F hanya butuh 267 hari untuk menyelesaikan revolui, dibandingkan dengan 365 hari untuk Bumi.

Mengetahui tepatnya seberapa jauh zona habitasi sebuah bintang juga tergantung pada unsur-unsur kimia. Misalnya, seberapa mampu molekul di atmosfer sebuah planet asing akan dapat menyerap sejumlah energi dari cahaya bintang induknya, serta berapa banyak energi ini terjebak di permukaan sang planet tersebut.

Tapi sebelum Anda membeli real estate di sebuah planet yang berada di zona laik huni, perlu diingat juga ada faktor-faktor lain yang menentukan apakah di planet tersebut ada tanaman hijau subur dan pantai. Letusan dari permukaan bintang yang disebut flare juga harus diketahui karena dapat mendatangkan malapetaka di planet tersebut.

Flare dapat mengikis atmosfer sebuah planet, yang bahkan misalnya sudah berada di zona laik huni. Hal ini terutama berlaku untuk bintang yang berukuran lebih kecil dari Matahari kita, mereka cenderung lebih hiperaktif melontarkan flare.
Zona Habitasi: Cara Astronom Menentukan Kelaikhunian Planet Asing Zona Habitasi: Cara Astronom Menentukan Kelaikhunian Planet Asing Reviewed by Riza Miftah Muharram on 11/11/2016 02:45:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.