Bagaimana Proses Pembentukan Planet Jupiter?

Ilustrasi perbandingan ukuran planet Bumi dengan Jupiter. Kredit: NASA/JPL-Caltech/Wikimedia Commons
Info Astronomy - Berbeda dengan Bumi yang merupakan planet bebatuan, planet Jupiter merupakan planet gas raksasa. Namun, seperti planet lain di Tata Surya, Jupiter terbentuk dari proses yang disebut akresi inti. Planet besar seperti Jupiter terbentuk tepat setelah Matahari terbentuk, lalu berdampak pada pembentukan planet-planet kecil di Tata Surya.

Sekitar 4,6 miliar tahun yang lalu, Tata Surya hanyalah kumpulan dari awan debu dan gas yang dikenal sebagai nebula surya. Kemudian nebula surya ini runtuh ke dalam gravitasinya sendiri dan mulai berputar menjadi struktur cakram, membentuk Matahari di pusat nebula.

Dengan munculnya Matahari, material-material nebula surya yang tersisa mulai mengumpul dan memadat. Partikel-partikel kecil saling bertaut, terikat oleh gaya gravitasi, menjadi partikel yang lebih besar.

Ketika Matahari mulai aktif, ia meletupkan angin surya yang membawa elemen ringan, seperti hidrogen dan helium. Angin surya ini "terhembus" ke partikel-partikel besar yang telah terbentuk tadi, yang merupakan proto-planet, sehingga membentuk planet berbatu, yakni Merkurius, Venus, Bumi dan Mars.

Tapi sayangnya, semakin jauh sebuah partikel besar dari cakram akresi tadi terletak dari Matahari, semakin kecil pula dampak dari angin surya sehingga tidak mendapatkan elemen ringan. Hal inilah yang membuat partikel-partikel besar yang berada lebih jauh dari orbit Mars membentuk sebuah planet raksasa gas seperti Jupiter.

Jupiter terdiri hampir sepenuhnya hidrogen, dengan sekitar 10 persen volumenya terdiri dari helium. Walau beberapa unsur lain selain hidrogen dan helium ditemukan pada atmosfer Jupiter, tapi tetap saja sebagian besar massanya dipegang oleh dua elemen dasar tersebut.

Dalam Tata Surya kita, planet yang pertama kali terbentuk adalah planet gas raksasa, Jupiter dan Saturnus. Keduanya mungkin mengumpulkan gas sebelum nebula surya runtuh. Pengamatan pada Tata Surya muda menunjukkan bahwa cakram gas yang membentuk planet memiliki masa hidup 1 hingga 10 juta tahun. Artinya, planet gas raksasa di Tata Surya mungkin terbentuk dalam jangka waktu ini.

Sebaliknya, planet terestrial seperti Bumi mungkin membutuhkan setidaknya 30 juta tahun dalam pembentukannya, bahkan membutuhkan waktu yang lebih lama hingga 100 juta tahun. Bagaimana Jupiter (dan Saturnus) dapat terbentuk begitu cepat?

Model standar pembentukan planet menyatakan bahwa inti planet gas raksasa terbentuk melalui tabrakan bagian-bagian yang lebih besar, yang dikenal sebagai planetesimal. Namun, model ini tak memungkinkan inti planet terbentuk cukup cepat untuk menangkap gas-gas yang membentuk atmosfer mereka di awal tata surya.

Model terbaru, oleh Prof Martin Duncan dari Universitas Queen di Kingston, Ontario dan rekan-rekannya dari Southwest Research Institute menunjukkan bahwa tabrakan-tabrakan dan mengumpulnya kerikil-kerikil memungkinkan inti terbentuk lebih cepat.

"Sejauh yang kami tahu, inilah model pertama untuk memproduksi struktur bagian luar tata surya, dua planet gas raksasa (Jupiter dan Saturnus), dua planet es (Uranus dan Neptunus), dan Sabuk Kuiper murni di luar Neptunus," kata Dr. Duncan, penulis senior dalam jurnal Nature.

Selain itu, model baru secara akurat memprediksi pembentukan 1 hingga 4 planet gas raksasa; konsisten dengan apa yang kita lihat di luar Tata Surya.
Bagaimana Proses Pembentukan Planet Jupiter? Bagaimana Proses Pembentukan Planet Jupiter? Reviewed by Riza Miftah Muharram on 10/12/2016 07:29:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.