Aurora Australis di Langit Dunedin, Selandia Baru

Memukaunya aurora australis di langit Dunedin, Selandia Baru. Kredit: Auroradunedin.co.nz
Info Astronomy - Ada dua sebutan aurora di muka Bumi, yakni aurora borealis dan aurora australis. Aurora australis sendiri adalah semburan cahaya yang bisa dilihat sekitaran kutub selatan. Fenomena ini juga disebut sebagai Southern Lights. Di sekitaran kutub utara, peristiwa yang sama disebut sebagai Northern Lights atau aurora borealis.

Northern Lights dapat dilihat dalam Lingkaran Arktik, di sebelah utara Kanada, Alaska, Rusia, dan Skandinavia. Sementara Southern Lights selain bisa dilihat di atas benua Antartika juga bisa dilihat di Selandia Baru, bahkan hingga ke Australia, seperti foto aurora di langit Dunedin di atas.

Aurora mendapatkan namanya sesuai dengan dewa fajar Romawi, Aurora juga merupakan kata Latin untuk fajar. Sedangkan Australis adalah kata Latin untuk selatan, dan borealis adalah kata Yunani untuk angin utara. Aurora australis secara harfiah berarti fajar selatan, atau cahaya selatan. Kedua aurora, baik australis dan borealis, sebenarnya memiliki sifat yang mirip, dan hanya berbeda di mana mereka dapat dilihat.

Aurora adalah untaian cahaya berwarna yang nampak terlihat di langit. Cahaya ini muncul akibat partikel bermuatan, elektron dan proton, yang berasal dari Matahari bertabrakan dengan molekul lain di bagian atas atmosfer Bumi.

Secara khusus, partikel bermuatan ini bertabrakan dengan nitrogen dan oksigen. Sebagian energi yang dihasilkan dari tabrakan lantas dipancarkan sebagai cahaya atau foton. Cahaya berwarna merah, hijau, dan kadang-kadang biru terlihat selama aurora australis. Ketika partikel bermuatan bertabrakan dengan oksigen, cahaya berwarna hijau-kuning atau merah tua yang muncul.

Aurora paling sering muncul dengan nyala yang berpendar, dengan corak warna hijau pucat jeruk nipis. Akan tetapi, sebagaimana energi terbentuk dalam medan magnet, terkadang aurora mengeluarkan rentetan arus listrik. Hal Ini disebut dengan substorm, dan menghasilkan cahaya berdenyut dalam nuansa warna merah, warna fuchsia, ungu, ametis, warna biru laut dan warna putih.
Karena reaksi fusi terjadi secara terus menerus pada Matahari kita, partikel bermuatan juga akan terus-menerus dilepaskan Matahari dengan kecepatan dari 300 sampai 1.000 kilometer per detik atau sekitar 1,6 juta km per jam.

Pada kecepatan ini, partikel-partikel tersebut akan mencapai Bumi dalam waktu beberapa hari. Medan magnet Bumi lantas membelokkan partikel ini ketika mencapai atmosfer bagian atas planet kita.

Partikel bermuatan dari Matahari itu selanjutnya dihadang oleh garis-garis medan magnet dan melakukan perjalanan keliling Bumi. Elektron dan proton selanjutnya melakukan perjalanan menuruni garis medan magnet ke arah kutub utara dan selatan Bumi.

Di kutub, medan magnet berada lebih dekat dengan permukaan Bumi, memungkinkan partikel bermuatan untuk berinteraksi dengan molekul lain di atmosfer. Itulah sebabnya mengapa aurora hanya tampak di daerah sekitaran kutub, bukan di daerah ekuator di mana Indonesia berada.

Waktu terbaik melihat aurora adalah pada saat aktivitas Matahari berada pada level tinggi. Semakin tinggi aktivitas Matahari, semakin banyak partikel bermuatan yang dilepaskan dan dikirim menuju Bumi.

Melihat aurora memang (sepertinya dan seharusnya) menyenangkan.
Aurora Australis di Langit Dunedin, Selandia Baru Aurora Australis di Langit Dunedin, Selandia Baru Reviewed by Riza Miftah Muharram on 10/10/2016 04:29:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.