Kiat Mengamati Peristiwa Hujan Meteor

Hujan meteor Geminid tahun 2012. Kredit: Thomas O'Brian/Flickr
Info Astronomy - Sudah pernahkah Anda mengamati hujan meteor? Hujan meteor adalah peristiwa ketika Bumi, dalam orbitnya mengelilingi Matahari, memasuki bekas jalur orbit sebuah komet. Akibatnya, puing-puing bekas komet tadi masuk ke atmosfer Bumi lalu terbakar. Jika Anda ingin mencoba mengamatinya, berikut kiat-kiat yang dapat Anda ikuti.

Pertama, pastikan Anda tahu kapan peristiwa hujan meteor akan mencapai puncaknya. Karena Bumi mengelingi Matahari, Bumi selalu melewati garis orbit yang sama setiap tahunnya. Dengan kata lain, Bumi juga melewati bekas jalur komet yang sama, membuat hujan meteor menjadi peristiwa tahunan atau periodik.

Puncak peristiwa hujan meteor adalah titik waktu ketika Bumi diperkirakan akan disusupi sejumlah puing dari komet. Ketika puing-puing tadi mencoba memasuki Bumi, maka akan terbakar dan jadilah meteor. Dan karena jumlahnya banyak, maka disebutlah sebagai hujan meteor.

Anda dapat membaca artikel yang menjelaskan tentang 11 hujan meteor yang terjadi tahun 2016 dengan klik di sini.

Kedua, amati mulai atau setelah tengah malam. Kenapa harus saat setelah tengah malam? Hal ini dikarenakan meteor-meteor yang akan kita lihat tidak akan terlalu terang. Saat tengah malam, suasana sudah sangat gelap, apa lagi jika Anda tinggal jauh dari perkotaan, hal tersebut membuat lebih banyak meteor yang akan terlihat.

Selain itu, kita tentu telah belajar tentang gerak revolusi di sekolah, gerak yang membawa Bumi mengelilingi Matahari setahun sekali. Dan selama perjalanan mengelilingi Matahari itu terkadang Bumi akan melalui wilayah yang dihuni segerombolan batuan angkasa. Batuan angkasa ini disebut sebagai meteoroid.

Gerak revolusi Bumi yang membawanya berpapasan dengan meteoroid. Kredit: Kalastro.id
Seperti dijelaskan pada Kalastro.id, jika Bumi dan meteoroid berpapasan terlalu dekat maka keduanya pun akan bertabrakan. Bumi akan bergerak dengan cepat menerjang gerombolan meteoroid. Dan ketika itu sisi Bumi yang searah dengan gerak revolusi yang akan paling banyak terkena meteoroid. Dengan kata lain sisi Bumi antara tengah malam - matahari terbit - tengah siang yang akan paling banyak terkena meteoroid.

Sebaliknya pada sisi Bumi yang membelakangi arah gerak revolusi akan lebih sedikit terkena meteoroid. Karena meteoroid itu lebih dulu jatuh di sisi Bumi yang searah gerak revolusi. Jadi pada antara sisi tengah siang - matahari tenggelam - tengah malam akan jarang terkena tabrakan antara meteoroid dengan Bumi.

Mengamati setelah tengah malam lebih banyak meteor. Kredit: Kalastro.id
Ketika meteoroid itu mulai menabrak Bumi maka meteoroid itu akan lebih dulu melewati atmosfer yang melingkupi Bumi. Dengan kecepatan yang sangat tinggi meteoroid itu akan dengan bergesekan hebat dengan partikel udara. Gesekan ini akan menimbulkan panas yang dengan cepat membakar meteoroid menjadi seperti bola api yang berpijar. Itulah kenapa harus disaksikan setelah tengah malam.

Ketiga, memahami titik radian di mana hujan meteor akan seolah muncul. Titik radian adalah titik khayalan di langit dari mana seolah meteor-meteor akan muncul saat peristiwa hujan meteor terjadi. Namun, kita tidak perlu terus-terusan menatap ke titik radian, karena hal tersebut adalah kesalahpahaman.

Meteor-meteor akan muncul dari segala arah langit, bisa dari Selatan, Barat, Utara, Timur ataupun langit atas kepala, tidak hanya muncul dari titik radian. Adanya titik radian adalah agar kita bisa mengetahui kapan sebuah hujan meteor sudah bisa mulai diamati.

Misalkan, kita akan mengamati hujan meteor Orionid yang memiliki titik radian di rasi bintang Orion. Dengan mengetahui seperti apa rasi bintang Orion dan juga tahu kapan rasi bintang tersebut terbit di langit, kita dapat mengatur waktu pengamatan. Jadi misalkan rasi bintang Orion baru terbit pukul 2 dini hari, maka saat itulah meteor-meteor lebih banyak muncul.

Keempat, perhatikan fase Bulan. Jika sebuah peristiwa hujan meteor terjadi ketika Bulan masih berada pada fase kuartal/separuh atau lebih besar, Anda akan kesulitan melihat lesatan meteor. Hal ini dikarenakan pengamatan hujan meteor harus di lokasi dan langit yang gelap dan cerah.

Cahaya Bulan yang terang dapat membuat langit menjadi terang juga, sehingga meredupkan meteor-meteor yang lewat dan Anda justru nantinya tidak melihat apa-apa. Alternatif jika Bulan masih dalam fase yang cahayanya terang, tunggulah hingga Bulan terbenam atau tunggulah hujan meteor berikutnya.

Kelima, persiapan. Mengamati hujan meteor tidak memerlukan bantuan teleskop atau binokuler, tapi cukup dan wajib dengan mata telanjang saja. Anda hanya memerlukan kursi santai atau tikar panjang agar Anda dapat berbaring mengamati langit. Sebelum mendapatkan meteor pertama, pastikan Anda telah mengadaptasi mata dengan gelapnya langit selama setidaknya 30 menit.

Jangan lupa untuk memakai jaket, suhu setelah tengah malam bisa menjadi sangat dingin. Anda juga boleh membawa kopi, camilan dan ajak teman-teman Anda untuk ikut mengamati bersama.

Selamat berburu meteor!
Kiat Mengamati Peristiwa Hujan Meteor Kiat Mengamati Peristiwa Hujan Meteor Reviewed by Riza Miftah Muharram on 10/20/2016 11:00:00 AM Rating: 5