Sepertiga Umat Manusia Tidak Bisa Melihat Bima Sakti Akibat Polusi Cahaya

Bima Sakti di Bromo, Indonesia. Kredit: Martin Marthadinata
Info Astronomy - Bima Sakti nampak bagai pita putih dengan sedikit noda hitam telah mendominasi langit malam sejak zaman dahulu. Sayangnya, seperti dilansir dari EurekAlert, akibat polusi cahaya yang berlebihan, sepertiga dari umat manusia Bumi saat ini tak bisa menikmati keindahannya lagi.

Polusi cahaya merupakan salah satu bentuk dari perubahan lingkungan. Di sebagian besar negara maju dan beberapa negara berkembang, kehadiran lampu kota di mana-mana menciptakan kabut cahaya yang membuat kenampakan bintang-bintang dan galaksi Bima Sakti memudar.

"Kami telah melakukan survei, dan mendapati 80 persen orang Amerika Serikat mengaku belum pernah melihat Bima Sakti," kata Chris Elvidge, seorang ilmuwan di National Centers for Environmental Information NOAA, Colorado. "Bima Sakti adalah bagian dari lingkungan semesta kita, dan itu kini sudah hilang dari pandangan."

Elvidge, bersama dengan Kimberly Baugh dari Cooperative Institute for Research in Environmental Sciences di Universitas Colorado baru saja memperbarui atlas global yang mendata polusi cahaya, penelitian mereka juga telah diterbitkan hari ini di jurnal Science Advances.

Menggunakan data satelit resolusi tinggi dan pengukuran kecerahan langit secara presisi, penelitian mereka menghasilkan penilaian dan pendataan yang paling akurat dari dampak polusi cahaya secara global. "Saya berharap atlas ini akan membuka mata orang-orang untuk mengurangi polusi cahaya," kata pemimpin penulis Fabio Falchi dari Light Pollution Science and Technology Institute di Italia.

Menurut atlas polusi cahaya tersebut, negara paling tercemar polusi cahaya adalah Singapura, Italia dan Korea Selatan, sementara Kanada dan Australia memiliki langit yang paling gelap dan paling bebas polusi cahaya. Di Indonesia sendiri, dampak polusi cahaya berlebihan hanya terlihat di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Surabaya.


Bagaimana Mengurangi Polusi Cahaya?

Untungnya, tidak selamanya sepertiga dari umat manusia tidak bisa melihat galaksi Bima Sakti di langit. Masih ada harapan dengan mengurangi polusi cahaya yang sudah sangat parah. Kita bisa mengurangi dampak dari pencemaran langit akibat polusi cahaya dengan berbagai cara.

Upaya penanggulangan dalam menurunkan polusi cahaya ini bisa dilakukan dengan meyakinkan masyarakat untuk mengambil tindakan yang diperlukan. Contohnya, dengan meyakinkan mereka bahwa pencahayaan yang tepat adalah dengan menggunakannya di tempat dan saat yang memang diperlukan.

Cara ini akan mengurangi polusi cahaya, emisi karbon, dan pada saat yang sama, menghemat pengeluaran. Menanam pohon juga perlu dilakukan hal ini bisa mengurangi cahaya yang terpancar ke langit sehingga langit tetap gelap.
Mengurangi polusi cahaya. Kredit: DarkSky.org
Upaya yang lain adalah dengan cara menggunakan lampu seefektif mungkin dan memakai lampu yang tepat, seperti menggunakan lampu yang bertudung di jalan-jalan sehingga cahayanya tidak menyebar kemana-mana, jangan lupa memakai lampu yang hemat energi. Lampu yang terpasang di luar ruangan diatur agar tidak memancar ke arah langit.

Atau menghindari penggunaan lampu natrium berwarna kuning, karena lampu itu bisa mengganggu pengamatan langit. Yang terpenting jangan gunakan lampu jika tidak diperlukan. Mengurangi polusi cahaya dengan cara mematikan lampu saat tak diperlukan dan membatasi pengadaan lampu dalam jumlah yang tak diperlukan juga akan mengurangi energi listrik. Ini berarti juga ikut menanggulangi dampak perubahan iklim.

Jadi, apakah Anda adalah bagian dari sepertiga umat manusia yang tidak bisa melihat bentangan galaksi Bima Sakti di langit malam? Mulailah berubah.
Sepertiga Umat Manusia Tidak Bisa Melihat Bima Sakti Akibat Polusi Cahaya Sepertiga Umat Manusia Tidak Bisa Melihat Bima Sakti Akibat Polusi Cahaya Reviewed by Riza Miftah Muharram on 10/26/2016 07:00:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.