Astronot Scott Kelly Potret Badai Salju Dahsyat di AS dari Luar Angkasa

Badai salju dahsyat yang melanda Washington, D.C. serta New York dipotret dari luar angkasa. Kredit: Scott Kelly
Info Astronomy - Beberapa negara bagian di Amerika Serikat (AS) dilanda badai salju dahsyat yang mulai terjadi sejak Jum'at, 22 Januari 2016. Sejumlah wilayah di bagian timur AS, salju mencapai ketebalan 102 cm dan sedikitnya 85 juta orang terkena dampaknya. Astronot Scott Kelly yang saat ini bertugas di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) berhasil mengabadikannya.

Scott Kelly berkicau di akun Twitter resmi miliknya pada 23 Januari 2016, "Badai salju masif menyelimuti Pantai Timur terlihat jelas dari ISS! Stay safe!".

Dikutip dari pos Facebook peneliti asal Indonesia, Ma'rufin Sudibyo, bagaimana badai salju dahsyat ini bisa terjadi, pada umumnya (tidak selalu) berhubungan dengan fenomena arus jet kutub. Arus jet kutub adalah aliran udara (dingin) dengan lebar sempit di ketinggian 9 s/d 12 km dpl yang menderu ke arah timur dengan kecepatan sekira 100 km/jam menempuh lintasan tertutup dengan pusat lintasan seakan berimpit dengan kutub geografis.

Lintasan tersebut tak berbentuk lingkaran sempurna (yang berjarak sama dari kutub geografis di sebarang tempat), namun meliuk-liuk. Arus jet kutub disebabkan oleh kombinasi rotasi Bumi dan paparan sinar Matahari.

Di planet lain (misalnya Jupiter), arus jet kutub juga memiliki faktor produksi tambahan: panas internal planet. Yang jelas arus jet kutub menjadi pembatas bagi kawasan yang berudara hangat (karena lebih dekat ke khatulistiwa) dengan kawasan yang berudara dingin (karena lebih dekat ke kutub).

Lintasan arus jet kutub tak statis. Ambil contoh arus jet kutub utara. Oleh faktor-faktu tertentu, kadang lintasannya melebar lebih jauh ke selatan, memasuki kawasan yang lebih hangat. Bahkan ada kalanya terdapat bagian yang menjulur terlalu jauh ke selatan hingga mendekati kawasan khatulistiwa, menjadi seruak dingin.

Saat udara dingin bertemu dengan udara hangat (katakanlah dari kawasan Karibia di sebelah tenggara Amerika Serikat), cuaca ekstrim pun sangat berpeluang terjadi. Pertemuan itu bakal menghasilkan padang barometrik bertekanan rendah. Ujung-ujungnya kawasan subtopis yang terkena bisa terlanda hujan sangat deras, atau badai dahsyat, atau badai salju dahsyat.

Kawasan tropis pun tak imun darinya, hujan sangat deras bisa terjadi. Beberapa peristiwa banjir bandang di Indonesia dapat dihubungkan dengan arus jet kutub utara yang mengjulur terlalu jauh ke selatan di puncak musim penghujan.

Bagi sejumlah kalangan, bencana badai salju dahsyat di AS baik saat ini maupun di tahun-tahun sebelumnya, adalah petaka yang harus diterima dalam kerangka "siapa yang menabur angin akan menuai badai." Ya, AS adalah penyumbang gas karbondioksida perkapita terbesar sejagat dan enggan menurunkan tingkat emisinya dengan segudang alasan.

Sementara gas ini adalah substansi utama bagi peristiwa pemanasan global. Meningkatnya kadar gas ini membuat suhu rata-rata permukaan Bumi naik setengah derajat Celcius. Namun peningkatan ini tak seragam di setiap kawasan. Kawasan kutub menderita peningkatan tertinggi, hingga beberapa derajat Celcius sendiri. Kutub yang lebih hangat jelas membuat arus jet kutub menjadi lebih liar dan lebih dinamis ketimbang situasi normalnya.
Astronot Scott Kelly Potret Badai Salju Dahsyat di AS dari Luar Angkasa Astronot Scott Kelly Potret Badai Salju Dahsyat di AS dari Luar Angkasa Reviewed by Riza Miftah Muharram on 1/26/2016 04:30:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.