Wahana Antariksa Akatsuki milik Jepang Dekati Planet Venus

Ilutrasi wahana antariksa Akatsuki yang mendekati Venus. Kredit: JAXA
Info Astronomy - Lima tahun setelah hilang momentum untuk masuk orbit Venus, wahana antariksa Akatsuki milik Japan Aerospace and eXploration Agency (JAXA) kini telah menyelesaikan pembakaran roket pada 7 Desember 2015 dalam upaya untuk menjadi satu-satunya wahana antariksa yang mengunjungi Planet Venus.

Empat pendorong manuver milik Akatsuki telah dinyalakan pada pukul 06:51 WIB hari Minggu, 6 Desember 2015 sekitar 20 menit 30 detik untuk memperlambat wahana antariksa ini agar dapat "tertangkap" gravitasi Venus sehingga bisa mengorbit pada ketinggian tertentu.

"Akatsuki dalam orbit Venus!" tulis Sanjay Limaye, seorang ilmuwan keplanetan yang berbasis di University of Wisconsin di Madison, seperti dilansir adri Spaceflightnow, 6 Desember 2015.

Venus berjarak 149.500.000 kilometer dari Bumi pada saat kedatangan Akatsuki dua hari yang lalu. Dengan begitu, butuh sinyal radio lebih dari 8 menit untuk melakukan komunikasi antara stasiun kontrol misi di Bumi dengan wahana antariksa Akatsuki.

Wahana antariksa Akatsuki ditargetkan akan berada pada orbit dengan titik tinggi hingga 475.000 kilometer dari Venus, lebih jauh dari jarak Bumi-Bulan, menurut Takeshi Imamura, seorang ilmuwan proyek Akatsuki di Space and Astronautical Science Institute JAXA.

Akatsuki, menurut Imamura, adalah wahana penyelidik antarplanet pertama di dunia yang layak disebut sebagai satelit meteorologi. Wahana antariksa seberat 480 kilogram itu membawa lima kamera berbeda untuk mempelajari awan Venus, sekaligus memetakan cuaca planet itu dan mengintip permukaan planet lewat atmosfer tebalnya.

Akatsuki yang berarti Subuh atau Dinihari dalam Bahasa Jepang ini akan bergabung dengan wahana antariksa Venus-Express milik Eropa yang telah terlebih dulu mengorbit di sekitar planet terpanas di Tata Surya itu.

"Venus kini telah bertransformasi dari sebuah tempat yang mirip Bumi menjadi tempat asing, dan apa yang menarik tentang planet itu adalah mengetahui bagaimana dia berbeda dari Bumi dan sejarah di balik apa yang terjadi," kata David Grinspoon, kurator astrobiologi di Denver Museum of Nature and Science, ilmuwan dalam misi Venus-Express. "Dia dapat membantu kita memahami bagaimana Bumi mungkin berubah kelak."

Salah satu target utama Akatsuki adalah untuk memahami misteri terbesar Venus, yaitu rotasi super atmosfernya. Berbeda dengan atmosfer bumi yang "ramah", Venus memiliki atmosfer berupa angin kencang yang mendorong awan dan badai mengelilingi planet itu dengan kecepatan lebih dari 360 kilometer per jam, atau hampir 60 kali lipat lebih cepat daripada rotasi planet itu sendiri.

"Tak ada model iklim Venus konsisten yang dapat meniru superrotasi itu," kata Grinspoon. "Kami mengambil pemodelan sirkulasi umum dari Bumi dan mengutak-atiknya agar sesuai dengan Venus, tapi pemodelan itu tidak cocok. Dengan lebih memahami bagaimana iklim Venus bekerja, itu akan membantu kami mengetahui bagaimana perubahan iklim Bumi berlangsung."

Akatsuki akan memonitor Venus dalam sinar inframerah untuk lebih banyak mempelajari atmosfer dan permukaannya di bawah awan tebal tersebut, dan diharapkan dapat mengungkap mekanisme yang mendorong superrotasi itu. Namun Imamura mengatakan timnya telah siap dikejutkan oleh penemuan tak terduga yang mungkin bakal menguak lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. "Kami akan amat senang dikagetkan oleh munculnya misteri yang jauh lebih besar daripada superrotasi," ujarnya.

Venus memang memiliki awan tebal, tapi awannya tersusun dari asam sulfur, bukan air dan kristal es. "Mungkin ada sejenis cuaca yang belum pernah kami lihat di Venus, yang menyebabkan kilat itu, atau mungkin kami keliru soal kondisi yang diperlukan untuk melahirkan sebuah kilat," ujarnya.

Akatsuki akan dapat menangkap petunjuk vital tentang kilat itu dengan sebuah kamera yang khusus dirancang untuk mengabadikannya. Sementara target lain yang diemban oleh Akatsuki adalah menyelidiki garis aneh yang terdapat di lapisan teratas awan Venus, yang dijuluki "blue absorber" karena mereka menyerap cahaya dalam panjang gelombang biru dan ultraviolet dengan amat kuat. Alat pencitra ultraviolet Akatsuki diharapkan bisa menyelidiki garis ganjil itu.

Garis itu amat menarik perhatian para ilmuwan karena aksi tersebut menyerap energi dalam jumlah besar, hampir separuh total energi surya yang diserap Venus. Tampaknya penyerapan itu memainkan peran utama dalam menjaga Venus tetap seperti saat ini, dengan temperatur permukaan lebih dari 460 derajat Celsius. "Kami tak tahu zat apa itu," kata Grinspoon. "Kemungkinan itu adalah sejenis senyawa sulfur, tapi kami belum dapat mengungkapnya hingga saat ini."

Misteri lain yang menanti Akatsuki adalah kabut terang yang tiba-tiba menutupi dua per tiga belahan selatan Venus pada 2007. Kabut itu mendadak lenyap beberapa hari kemudian. Belum diketahui apa yang memicu perubahan tersebut. "Kami menduga itu adalah semacam dinamika perputaran atmosfer yang menyuntikkan sulfur dioksida di atas awan, tapi kami belum bisa memastikannya," ujar Grinspoon.

Awan itu kemungkinan memperoleh pasokan energi dari sulfur yang dimuntahkan gunung-gunung berapi di Venus karena Grinspoon menduga sulfur yang terlihat di atmosfer seharusnya terurai setelah 10 hingga 30 juta tahun.

Namun awan Venus begitu tebal dan tak pernah ada yang melihat keberadaan gunung berapi di planet itu sehingga para ilmuwan dalam proyek Akatsuki berharap kamera satelit itu bisa menemukan gunung api aktif di balik awan tersebut. "Venus menjaga rahasianya rapat-rapat, dalam sebuah kondisi yang tak bisa ditembus," katanya.
Wahana Antariksa Akatsuki milik Jepang Dekati Planet Venus Wahana Antariksa Akatsuki milik Jepang Dekati Planet Venus Reviewed by Riza Miftah Muharram on 12/08/2015 11:30:00 AM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.