Inilah Daftar Peristiwa Langit yang Tak Boleh Dilewatkan pada Tahun 2016!

Kredit: Getty Images, Time And Date, Fred Espenak
Info Astronomy - Tahun 2016 akan menjadi tahun yang luar biasa bagi Indonesia, sebab kita akan dilalui dua Gerhana Matahari dan dua Gerhana Bulan, serta tidak ketinggalan peristiwa-peristiwa langit lainnya. Tanggal berapa tepatnya? Berikut jadwalnya.

4 Januari 2016: Hujan Meteor Quadrantid

Hujan meteor Quadrantid selalu menjadi pembuka awal tahun. Hujan meteor ini merupakan hujan meteor tahunan yang terjadi mulai tanggal 31 Desember hingga 6 Januari, namun puncaknya adalah pada tanggal 4 Januari mendatang.

Nama "Quadrantid" berasal dari konstelasi (rasi bintang) kuno yakni Quadrans Muralis yang ditemukan di atlas bintang awal abad ke-19 di antara rasi Draco, Hercules dan Bootes. Konstelasi ini kemudian ditiadakan dari peta bintang bersama dengan beberapa konstelasi lainnya di tahun 1922 saat International Astronomical Union (IAU) mengadopsi 88 rasi yang dikenal untuk masuk dalam peta bintang modern.

Quadrantid kemudian “direlokasi” ke konstelasi Bootes setelah Quadrans Muralis tiada, dan tetap mendapat nama Quadrantid karena hujan meteor lainnya di bulan Januari juga sudah dikenal sebagai hujan meteor Bootids. Hujan meteor Quadrantid terjadi akibat Bumi melintasi puing-puing (debris) yang ditinggalkan asteroid 2003 EH1.

Hujan meteor Quadrantid paling baik diamati mulai pukul 2:00 dinihari waktu lokal daerah Anda hingga Matahari terbit pada tanggal 4 Januari 2015. Mengapa mesti dinihari? Bagi pengamat di Indonesia, hujan meteor Quadrantid akan tampak dari arah timur laut dan ia akan tampak setelah tengah malam atau setelah rasi Bootes terbit jam 2.00 dinihari. Dalam peta bintang modern, Quadrantid akan tampak di area pertemuan rasi Bootes, Hercules dan Draco.

8 Maret 2016: Oposisi Jupiter

Oposisi adalah kondisi di mana Jupiter berada pada jarak yang paling dekat dengan Bumi. Namun jangan berpikir macam-macam dulu, walaupun dekat, dekat di sini adalah dalam skala kosmik. Jarak Bumi-Jupiter saat oposisi adalah 629.000.000 km, sekitar 300 juta km lebih dekat dari jarak terjauh yang bisa dicapai.

Pada saat oposisi, Matahari-Bumi-Jupiter ada pada satu garis lurus. Namun kita takkan melihat Jupiter yang besar di langit. Karena jaraknya yang masih relatif jauh, Jupiter hanya akan terlihat bagai titik kecil kuning terang, tetapi bersinar lebih terang dari biasanya. Magnitudo Jupiter menunjukkan kecerlangan planet itu jika dilihat dari Bumi. Saat oposisi, kecerlangan Jupiter sekitar -2,8.

9 Maret 2016: Gerhana Matahari Total

Peta Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016. Kredit: Info Astronomy
Peristiwa Gerhana Matahari Total 9 Maret 2016 ini akan menjadi pusat perhatian dunia, khususnya dalam bidang astronomi dan luar angkasa. Ini adalah gerhana Matahari total pertama yang melintasi Indonesia sejak tahun 1995. Sayangnya, tidak seluruh wilayah bisa melihat gerhana secara total. Seperti pada peta gerhana di atas, hanya wilayah yang dilintasi garis merah dan berada di dalam garis biru yang mendapat jatah total.

Lintasan totalitas gerhana 9 Maret 2016 akan melingkupi 11 propinsi di Indonesia yakni Sumatera Barat, Bengkulu, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Walaupun jalur totalitas tidak melintasi seluruh Indonesia, masyarakat yang berada di luar jalur totalitas masih bisa menikmati gerhana matahari sebagian yang tidak kalah menarik.

Gerhana Matahari total ini terjadi saat pagi hari, secara umum terjadi mulai pukul 06:20 WIB, puncak gerhana pukul 07:20 WIB dan gerhana berakhir pukul 08:30 WIB.

23 Maret 2016: Gerhana Bulan Penumbra

Gerhana Bulan Penumbral adalah peristiwa ketika Bulan memasuki bayang-bayang penumbra Bumi. Gerhana Bulan yang satu ini akan sulit diamati karena gerhana tidak akan kentara, tidak seperti gerhana Bulan total yang dapat mengubah warna Bulan menjadi merah darah.

Alih-alih merah darah, Bulan akan terlihat seperti tidak terjadi gerhana. Bulan yang memasuki fase Bulan Purnama pada peristiwa Gerhana Bulan Penumbral ini hanya akan sedikit meredup, dan tidak mudah dilihat secara kasat mata perubahannya. Namun begitu, seluruh Indonesia kebagian untuk mengamatinya. Gerhana Bulan Penumbral dimulai ketika Bulan baru saja terbit, sekitar pukul 18:47 WIB - 20:54 WIB.

22 April 2016: Hujan Meteor Lyrid

Hujan meteor Lyrid terjadi pada rentang waktu 16 hingga 25 April 2016 dan memuncak pada 22 April 2016. Sayangnya, tahun 2016 ini hujan meteor Lyrid berbarengan dengan Bulan Purnama. Cahaya Bulan Purnama yang terang akan meredupkan meteor-meteor kecil yang tidak terlalu terang.

Namun tentu masih ada kesempatan untuk mengamatinya. Hujan meteor Lyrid memiliki titik radian di rasi bintang Lyra yang berada di arah Timur Laut. Bagus diamati mulai tengah malam hingga menjelang Matahari terbit ketika langit sudah benar-benar gelap. Intensitasnya mencapai 20 meteor per jam (ZHR).

6 Mei 2016: Hujan Meteor Eta Aquarid

Intensitas hujan meteor Eta Aquarid berkisar antara 10 hingga 20 meteor per jamnya. Dengan ada 2 meteor per lima menit. Hujan meteor Eta Aquarid tahun 2016 ini diprediksikan akan menghasilkan jumlah terbesar dari meteor saat tengah malam hingga sebelum fajar pada tanggal 6 Mei.

Namun, puncak dari hujan meteor Eta Aquarid berlangsung saat dinihari mulai tanggal 5 hingga 7 Mei. Indonesia menjadi salah satu lokasi terbaik untuk mengamati hujan meteor ini. Hujan meteor Eta Aquarid muncul di rasi bintang Aquarius. Rasi bintang tersebut terbit di langit Timur pada saat tengah malam dan akan terus bergerak semu ke Barat hingga fajar tiba.

22 Mei 2016: Oposisi Mars

Pada tanggal 22 Mei 2016 planet Bumi akan melintas di antara Matahari dan planet Mars. Peristiwa langka ini disebut Oposisi Mars. Karena gerak orbit Bumi, Mars berada berlawanan dengan Matahari seperti yang terlihat di langit kita, dengan kata lain, Mars terbit saat Matahari terbenam dan dapat diamati sepanjang malam!

Mars akan sangat terang saat oposisi (magnitudo -1,5), lebih terang sejak Desember 2007. Sehingga sangat mudah untuk dilihat dengan mata telanjang dari seluruh penjuru Bumi (termasuk Indonesia), Mars akan nampak bagai bintang merah.

Pada saat oposisi, Bumi berada pada jarak paling dekat dengan Mars untuk tahun ini. Dengan dekatnya Bumi dan Mars, planet merah ini akan bersinar paling cemerlang di langit kita. Walau dikatakan dekat, jaraknya masih 94.200.000 kilometer. Ini yang membuat Mars hanya terlihat seperti bintang merah saja.

3 Juni 2016: Oposisi Saturnus

Setelah Jupiter dan Mars, giliran Saturnus yang beroposisi. Ketika oposisi Saturnus, planet bercincin ini sedang berada di posisi yang pas untuk diobservasi. Ia akan bertengger di konstelasi Ophiuchus yang akan terlihat sepanjang malam serta mencapai titik tertinggi di langit sekitar tengah malam waktu setempat daerah Anda.

Dari Indonesia, Saturnus akan terlihat mulai pukul 18:29 - 05:12 waktu lokal. Ia akan mudah dilihat mulai pukul 18:29 waktu lokal, ketika berada 10° di atas ufuk Timur, dan kemudian mencapai titik tertinggi di langit pukul 23:49 waktu lokal, saat itu berada 75° di atas horison selatan Anda. Hingga akhirnya tidak dapat dilihat, sekitar pukul 05:12 waktu lokal ketika tenggelam pada posisi 12° di atas ufuk barat Anda.

29 Juli 2016: Hujan Meteor Delta Aquarid

Hujan meteor Delta Aquarid akan mencapai puncaknya pada 29 Juli 2016. Namun, Delta Aquarid sudah bisa diamati mulai 12 Juli hingga 23 Agustus 2016. Ketika puncak sebuah hujan meteor, penampakan meteor akan semakin intens. Akan ada 15-20 meteor per jam (ZHR).

Hujan meteor Delta Aquaid terjadi karena Bumi melewati puing-puing komet 96P/Machholz. Komet tersebut ditemukan tahun 1986 oleh astronom amatir Donald Machholz. Delta Aquarid dapat diamati mulai pukul 21.00 waktu setempat pada 28 Juli 2016, ketika itu rasi bintang Aquarius baru saja terbit di langit Timur.

Rasi bintang Aquarius akan bergerak semu ke barat karena Bumi berotasi, setelah pukul 05.00 waktu setempat keesokan harinya rasi bintang Aquarius sudah ada di barat.

12 Agustus 2016: Hujan Meteor Perseid

Perseid adalah fenomena alam berupa hujan meteor yang berasal dari komet Swift-Tuttle. Dinamakan Perseid karena titik radian hujan meteor ini seolah-olah berasal dari arah rasi bintang Perseus.

Meteor-meteor Perseid tersebut berasal dari serpihan debu ekor komet Swift-Tuttle (nama resmi: 109P/Swift-Tuttle) yang masuk ke atmosfer Bumi. Komet tersebut ditemukan pertama kali pada tahun 1862 dan mengelilingi matahari setiap 130 tahun sekali. Setiap pertengahan Juli hingga Agustus, Bumi melintasi orbitnya sehingga sisa material komet tadi tertarik oleh gravitasi Bumi dan muncul sebagai hujan meteor.

Hujan meteor Perseid sudah terjadi sejak 17-24 Agustus 2016, namun puncaknya 12 Agustus 2016. Saat puncaknya, Perseid akan mencapai intensitas 20 meteor per jam (ZHR).

1 September 2016: Gerhana Matahari Sebagian

Bulan September 2016 diawali sebuah peristiwa langit yang langka, Gerhana Matahari Sebagian! Sayangnya, gerhana kali ini hanya dapat dinikmati di beberapa daerah saja. Namun jika Anda berada di daerah tersebut, lihatlah gerhana ketika Matahari akan terbenam di langit Barat.

Tebalnya atmosfer di dekat cakrawala menjadi filter alami yang dapat dijadikan alat bantu untuk mengamatinya. Saat itu, bagian bawah kiri Matahari akan tergigit sedikit. Gerhana Matahari Sebagian ini hanya bisa diamati di Bengkulu, Lampung, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Yogyakarta. Puncak gerhana adalah pukul 17:32 WIB.

16 September 2016: Gerhana Bulan Penumbra (Lagi)

Setelah Gerhana Matahari Total 9 Maret, Gerhana Bulan Penumbral 23 Maret dan Gerhana Matahari Sebagian pada 1 September, Gerhana Bulan Penumbral pada 16 September ini akan menjadi gerhana terakhir tahun 2016.

Sama seperti 23 Maret 2016, gerhana penumbral ini sangat sukar diamati dengan kasat mata. Bulan Purnama takkan terlihat seperti sedang terjadi gerhana apabila Anda tidak jelih mengamatinya. Gerhana Bulan Penumbral 16 September 2016 bisa dilihat di seluruh Indonesia dan akan dimulai pukul 23:54 WIB, puncak gerhana pukul 01:54 WIB dan gerhana berakhir pukul 03:53 WIB.

7 Oktober 2016: Hujan Meteor Draconid

Hujan meteor Draconid, kadang-kadang juga disebut Giacobinid, akan memancar dari konstelasi utara Draco (Naga). Tidak seperti kebanyakan hujan meteor, peristiwa hujan meteor Draconid paling baik dilihat di malam hari, bukan sebelum fajar. Itu dikarenakan konstelasi Draco berada pada posisi tertingginya di langit saat malam hari, bukan ketika menjelang fajar.

Hujan meteor ini mencapai puncaknya pada malam tanggal 7 Oktober hingga menjelang Subuh pada 8 Oktober. Intensitas saat puncaknya akan mencapai 10 meteor per jam. Hujan meteor ini berasal dari debris Komet 21P/Giacobini-Zinner. Debris atau puing-puing yang ditinggalkan oleh komet ini bertabrakan dengan atmosfer atas Bumi, sehingga masuk ke atmosfer dan terbakar dengan begitu terlihat sebagai meteor.

21 Oktober 2016: Hujan Meteor Orionid

Setelah hujan meteor Draconid pada 7-8 Oktober 2016, pertunjukan hujan meteor masih belum usai di bulan kesepuluh dalam kalender masehi ini. Kita masih akan disuguhkan fenomena hujan meteor Orionid mulai 15-30 Oktober 2016.

Pada tahun 2016, hujan meteor Orionid yang merupakan peristiwa tahunan ini diperkirakan akan mencapai puncaknya mulai tengah malam hingga menjelang fajar pada tanggal 21 dan 22 Oktober, dengan intensitas diperkirakan sebanyak 10 sampai 20 meteor per jam.

Meteor-meteor Orionid berasal dari puing-puing yang ditinggalkan oleh Komet Halley. Sebuah komet yang terakhir mengunjungi Bumi pada tahun 1986. Komet ini meninggalkan puing-puing pada bekas orbitnya, yang ketika Bumi melintasi bekas orbit tersebut membuat puing-puing ini masuk ke atmosfer lalu terbakar sehingga disebut meteor.

Puing-puing dari Komet Halley ini terbakar pada ketinggian 100 kilometer di atas permukaan Bumi. Mereka akan terbakar sampai habis sebelum akhirnya mencium Bumi. Sekadar info, meteor-meteor pada hujan meteor Orionid bergerak cepat, sekitar 66 kilometer per detik. Waktu terbaik untuk mngamati hujan meteor Orionid mulai tengah malam (00:00 waktu lokal daerah Anda) hingga menjelang fajar (waktu Subuh).

14 November 2016: Supermoon

Ilustrasi
Supermoon atau Bulan Purnama di perigee adalah peristiwa di mana Bulan akan terlihat 14% lebih besar daripada hari-hari lainnya. Perigee ini akan bertepatan erat dengan waktu bulan saat Bulan berada pada fase Bulan Purnama.

Bulan purnama bulan ini akan muncul fraksional lebih besar dan lebih terang dari biasanya. Pada kesempatan ini, Bulan akan berada pada jarak 356.000 km dari Bumi, dan muncul dengan diameter sudut 33.50 arcmin, lebih besar dibandingkan dengan ukuran rata-rata yakni 31,07 arcmin.

17 November 2016: Hujan Meteor Leonid

Hujan meteor Leonid bertitik radian di rasi bintang Leo. Saat terbaik untuk mengamatinya adalah mulai tengah malam hingga menjelang Matahari terbit. Meteor pada hujan meteor tercipta dari puing-puing (debris) dari sebuah komet bernama Swift-Tuttle, yang mengorbit Matahari sekali setiap tiga abad.

Orbit Bumi memotong jejak debu komet Swift-Tuttle setiap November. Beberapa debris tersebut menyusup ke atmosfer pada kecepatan puluhan kilometer per jam. Mereka terbakar di atmosfer, dan disebutlah sebagai meteor. Karena jumlah debris tersebut tidak hanya satu, melainkan banyak sekali, maka meteor-meteor ini disebut hujan meteor. Tenang, meteor panas ini akan terbakar habis di atmosfer sebelum mencium permukaan Bumi. Diperkirakan intensitas meteor akan mencapai angka 20 meteor per jam (ZHR) di langit yang gelap, bebas polusi udara maupun polusi cahaya.

14 Desember 2016: Hujan Meteor Geminid

Hujan meteor Geminid merupakan hujan meteor tahunan yang terjadi pada tanggal 4-17 Desember dan mencapai puncaknya pada kisaran tanggal 12-14 Desember setiap tahunnya. Hujan meteor Geminid termasuk salah satu hujan meteor terbaik yang bisa dinikmati setiap tahunnya dan bisa diamati dari seluruh Indonesia.

Hujan meteor Geminid akan tampak muncul dari rasi Gemini atau lebih tepatnya tak jauh dari bintang Castor atau alpha Gemini, bintang paling terang kedua di rasi Gemini. Radian dari hujan meteor Geminid akan terbit jam 8 malam di arah timur laut. Jelang tengah malam, radia hujan meteor Geminid sudah cukup tinggi untuk bisa dinikmati oleh pengamat dari Bumi. Pada malam puncak, diperkirakan 120 meteor akan melintas setiap jam dengan kecepatan 35 km/detik.

Nah, itulah peristiwa-peristiwa langit yang tak boleh dilewatkan sepanjang tahun 2016! Mana yang paling Anda tunggu?
Inilah Daftar Peristiwa Langit yang Tak Boleh Dilewatkan pada Tahun 2016! Inilah Daftar Peristiwa Langit yang Tak Boleh Dilewatkan pada Tahun 2016! Reviewed by Riza Miftah Muharram on 3/25/2016 05:00:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.