Luar Angkasa: The Final Frontier

#AstroSharing kiriman Clara Devani Safira
Kredit: Shutterstock
Info Astronomy - “Space the final frontier, These are the voyages of the starship Enterprise. Its continuing mission: to explore strange new worlds, to seek out new life and new civilizations, to boldly go where no one has gone before.”

Begitulah kalimat pembuka film Star Trek yang familiar bagi masyarakat Indonesia, yang dengan imajinasinya menggambarkan pada kita apa itu luar angkasa. Bahwa luar angkasa adalah perbatasan tanpa akhir. Suatu ujung yang membuka perjalanan luas, yang pula tanpa akhir. Pada kenyataannya luar angkasa itu melupakan permulaan setelah lapis demi lapis apa yang disebut sebagai angkasanya Bumi, alias sphere.

Sederhananya, luar angkasa adalah tempat di luar Bumi. Di pikiran Anda, menuju luar angkasa pasti sulit. Dan kenyataannya memang demikian. Anda harus melintasi beberapa lapisan, hingga akhirnya benar-benar ada di luar angkasa.

Lapisan pertama, troposfer sejauh 1-20 km dari lapisan Bumi, selanjutnya stratosfer 50 km, mesosfer 85 km dari lapisan Bumi tempat terbakarnya meteor yang mendekati atmosfer Bumi, lantas thermosfer, lapisan teratas tempat manusia mengorbitkan beragam satelit dan sampah angkasa lainnya, serta tempat orbital space shuttle dengan misi pengetahuan bagi manusia yang terletak 690 km di atas angkasa Bumi, dan inilah yang terakhir eksosfer, gerbang menuju tanpa batas langit, 10.000 km.

Setelah, melewati eksosfer, barulah manusia lenyap di telan luar angkasa, walau batas tentang apa yang dimaksud sebagai luar angkasa itu masih dalam perdebatan yang boleh disengitkan boleh dibuat gampang. Untuk memastikan pula bahwa yang namanya angkasa itu wilayahnya manusia maka dibuat pula serta-merta hukum tentang batas-batas luar angkasa.

Memahami luar angkasa, berupaya untuk membuktikan suatu bentuk keberadaan yang paling imajinatif duluan, sebagaimana dalam film fiksi ilmiah, lalu dicarikan bukti pembenarannya.

Bahwa sesuatu yang berada di luar tanah (Bumi), planet, bintang, matahari, bukanlah ancaman bagi manusia. Oleh karena itulah, tanpa belajar tentang luar angkasa pun, suatu sinkronisasi pemahaman harus diberikan lebih dahulu. Bahwa mempelajari luar angkasa dan benda langit, sama saja dengan menjauhkan diri kita dari mempelajari yang dekat dan begitu intim, misalkan pengelolaan Bumi.

Luar angkasa tidak bisa diklaim oleh suatu negara sebagai bagian dari negaranya. Karena sekali lagi, luar ankasa adalah perbatasan tanpa akhir. Cara manusia belajar alam semesta dan apa yang terjadi di luar angkasa akan selalu evolve, akan selalu berevolusi selalu dengan kepentingan sosial manusianya.

Jago nulis artikel seperti artikel di atas? Kirim tulisanmu melalui program #AstroSharing! Dapatkan honorarium bagi artikel yang dimuat seperti ini. Klik di sini untuk info lengkap.
Luar Angkasa: The Final Frontier Luar Angkasa: The Final Frontier Reviewed by Riza Miftah Muharram on 11/08/2015 03:37:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.