Editorial: Perlukah Manusia Meninggalkan Bumi dan Menghuni Planet Lain?

Planet-planet yang berada di zona laik huni di tata bintang masing-masing. Kredit: NASA
Info Astronomy - Pengamatan antariksa tengah gencar dan semarak. Ribuan ilmuwan yang tersebar di puluhan pusat-pusat pengamatan luar angkasa sedang berpacu untuk menemukan planet-planet baru yang layak untuk ditinggali oleh manusia. Kita bahkan berusaha keras juga untuk membuat berbagai kemungkinan wahana yang mampu membawa kita untuk pergi ke sana.

Lalu, sebenarnya apa yang terjadi? Apakah pencarian planet-planet baru tersebut adalah hanya sebatas euforia saintifik belaka atau memang ada sebuah agenda yang akan dijalankan umat manusia? Seberapa perlu kita meninggalkan Bumi? Tempat di mana spesies kita tumbuh dan berkembang?

Pencarian-pencarian planet baru adalah hal yang sebenarnya cukup penting bagi kehidupan spesies manusia. Mengapa? Karena kita tidak bisa selamanya bergantung hanya kepada satu planet untuk menopang kehidupan manusia sebagai spesies.

Dalam rentang waktu beberapa juta tahun belakangan ini, Bumi memang terbukti sebagai tempat yang nyaman dan aman untuk ditinggali. Namun sejarah juga mengatakan bahwa, Bumi pernah berkali-kali hampir memusnahkan kehidupan makhluk hidup yang ada di dalamnya.

Perubahan iklim yang tajam, pengaruh radiasi, dan anomali-anomali lainnya kapan saja sanggup menyapu kehidupan makhluk hidup yang ada di Bumi. Itu mengindikasikan bahwa Bumi bukanlah sebuah tempat yang mampu untuk ditinggali dalam rentang waktu yang sangat lama. Setiap beberapa juta tahun sekali, bencana besar pasti terjadi di planet yang begitu kita cintai ini. Dan jangan sampai ketika kejadian itu berulang kembali, manusia tidak mempunyai daya untuk mencegahnya.

Barangkali, beberapa orang akan berpikir, bagaimana mungkin memindahkan 5 miliar manusia untuk menghuni sebuah planet yang baru? Seberapa besar wahana yang diperlukan dan berapa banyak biaya yang harus dikeluarkan?

Ketika sebuah bencana dalam skala planet terjadi, manusia tidak mungkin memindahkan spesiesnya dalam skala yang besar untuk tinggal di tempat yang baru. Hal pertama yang harus dipikirkan adalah waktu. Membuat sebuah wahana besar yang mampu menampung manusia dalam jumlah besar, untuk melakukan perjalanan yang begitu jauh adalah sebuah hal yang tidak rasional.

Hal kedua yang harus dipikirkan juga adalah sumber daya. Mesin terbesar yang pernah diciptakan manusia tidak lebih bobotnya dari 100.000 ton. Itupun digunakan untuk mengapung di lautan. Maka untuk membuat suatu mesin luar biasa besar di luar angkasa, akan membutuhkan sebuah usaha yang belum pernah dilihat sebelumnya.

Ketika kita dihapadapkan pada sebuah bencana yang mengancam spesies manusia di masa mendatang. Kita tidak akan mempunyai banyak pilihan. Manusia harus mampu menentukan kandidat planet mana yang paling pantas untuk ditinggali. Atau, manusia harus mampu membuat sebuah planet hunian baru dari sebuah habitat planet yang tidak berkehidupan.

Seperti yang ada pada planet Mars. Planet Mars merupakan satu-satunya kandidat planet yang mampu ditinggali makhluk hidup di dalam tata surya matahari selain Bumi. Keadaan Mars sekarang ini memang memprihatinkan, namun dengan usaha yang tepat, planet tersebut diyakini akan mampu untuk berubah.

Akan tetapi, mengkolonisasi Mars saja tidaklah cukup. Bencana kosmik mungkin terjadi dalam skala tata surya, atau bahkan lebih daripada itu. Spesies manusia yang tinggal hanya pada satu tata surya masih rentan terhadap ancaman yang datang dari bencana-bencana kosmik. Akan lebih bijaksana jika kita mampu menyebarkan spesies kita ke ujung-ujung galaksi yang tidak mampu kita jamah sekarang ini.

Usaha untuk menyebarkan manusia ke tata surya lain itu tidaklah mudah. Jika memang sebuah kandidat planet yang layak huni sudah ditemukan, maka masih terdapat segudang persoalan yang harus diselesaikan. Sebagai contoh, jarak yang memisahkan satu tata surya dengan tata surya yang lain.

Jika Anda mempunyai koin lima ratus rupiah, angaplah koin tersebut merupakan tata surya dengan Matahari di pusat dan Pluto sebagai obyek terjauhnya. Dan katakanlah Anda mempunyai satu koin lima ratus rupiah lagi, yang merepresentasikan sistem tata surya lain. Maka jarak antara tata surya dengan tata surya terdekat dari sistem kita adalah, dua koin lima ratus rupiah tersebut dipisahkan oleh jarak 20-30 meter.

Tugas para penerus kita di masa mendatang sepertinya menjadi tugas yang begitu sulit untuk dilakukan. Namun, sejarah telah membuktikan bahwa manusia maju karena masalah yang ia hadapi. Enam ratus tahun lalu kita berpikir bahwa mengarungi samudra luas adalah sebuah pekerjaan yang sulit dan memakan banyak korban. Namun para pelaut Portugis dan Spanyol, lalu kemudian Inggris membuktikan bahwa mengarungi samudra dapat dilakukan jika kita mampu membuat kapal yang sesuai.

Seratus tahun yang lalu kita berpikir bahwa terbang itu tidak mungkin dilakukan, namun Wright bersaudara membuktikan bahwa angkasa itu dapat dijelajahi dengan mudah, asalkan kita tahu bagaimana cara membuat mesin yang cocok untuk menaklukannya. Lima puluh tahun yang lalu kita berpikir bahwa mengirimkan manusia ke Bulan ada sebuah misi bunuh diri, nyatanya, Neil Armstrong berhasil melakukan “moon walk” pada tahun 1969.

Apa yang dahulu kita pikir tidak mungkin, bukan berarti tidak bisa dilakukan. Manusia akan selalu mencari cara untuk melakukan sesuatu, sekarang memang spesies kita belum membutuhkan tempat hunian baru untuk menggantikan bumi. Namun, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi sepuluh, seratus, atau bahkan seribu tahun lagi.

Riza Miftah Muharram
Editorial: Perlukah Manusia Meninggalkan Bumi dan Menghuni Planet Lain? Editorial: Perlukah Manusia Meninggalkan Bumi dan Menghuni Planet Lain? Reviewed by Riza Miftah Muharram on 10/07/2015 04:22:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.