Editorial: Memahami Lubang Hitam di Pusat Galaksi Bima Sakti

Citra sinar-X dari Sagittarius A, letak Lubang Hitam di Bima Sakti berada. Kredit: NASA
Info Astronomy - Saat masih duduk di sekolah menengah, adalah pertama kalinya saya (penulis) banyak membaca tentang keberadaan Lubang Hitam di alam semesta. Saya masih ingat saat mencoba untuk memahami konsep-konsep fisika di balik salah satu manifestasi paling aneh di jagad raya tersebut.

Lubang Hitam menghasilkan tarikan gravitasi yang sangat besar. Sejumlah besar massa Lubang Hitam terkonsentrasi dalam volume yang sangat kecil.

Memang benar, Lubang Hitam memiliki massa dan ukuran, seperti halnya tubuh manusia, mobil, Planet Bumi maupun Matahari. Kita dan mereka semua memiliki massa dan ukuran. Massa dan ukuran merupakan hal yang penting dalam menentukan tarikan gravitasi di objek semesta apapun.

Misalnya, untuk melepaskan diri dari tarikan gravitasi di permukaan Bumi, sebuah roket harus meluncur dengan kecepatan minimal 11,2 kilometer per detik. Jika massa Matahari dikompresi menjadi radius Bumi, kecepatan meluncur akan jauh lebih tinggi, sekitar 6.500 kilometer per detik.

Dan tentu saja, jika sebuah objek semesta memiliki ribuan kali massa Matahari, namun dikompresi menjadi seradius Bumi, kecepatan meluncur akan semakin lebih tinggi, bahkan melebihi dari kecepatan cahaya. Tapi karena tidak ada dapat melakukan perjalanan lebih cepat dari kecepatan cahaya, maka tidak ada yang bisa melarikan diri atau meluncur dari objek yang memiliki massa ribuan kali Matahari tersebut.

Seperti itulah Lubang Hitam. Kehadiran Lubang Hitam memiliki pengaruh yang mendalam pada lingkungan sekitarnya, deformasi ruang-waktu di sekitarnya, dan apa pun yang lewat di dekatnya.

Saya masih ingat ketika ingin mengetahui seperti apa gambaran atau efek yang dialami tubuh manusia ketika jatuh ke dalam Lubang Hitam, buku yang saya baca saat itu untungnya menjabarkannya dengan jelas. Buku bacaan saya itu cukup membuat kengerian saat membayangkan bagaimana tubuh manusia akan berubah bentuk (merenggang bagai spageti) saat jatuh ke dalam Lubang Hitam. Bahkan lebih untungnya, Lubang Hitam cukup jauh dari Bumi sehingga saya aman.

Sekadar informasi ilmiah untuk Anda, di pusat galaksi kita, Bima Sakti, terdapat sebuah Lubang Hitam Supermasif berbobot 4 juta kali massa Matahari.

Lubang Hitam Supermasif yang dijuluki Sagittarius A (Sgr A untuk mempersingkat) tersebut dengan rutin menghasilkan satu suar sinar-X terang setiap 10 hari. Namun, dalam satu tahun terakhir, Sgr A telah menjadi lebih aktif. Dari yang memancarkan satu suar sinar-X per 10 hari, kini ia memancarkan satu suar setiap hari.

Apa yang menyebabkan lonjakan dalam aktivitas tersebut? Tampaknya kita memiliki sedikit misteri kosmik, para ilmuwan kini mencoba untuk menentukan apakah ini adalah perilaku normal atau tidak normal yang diakibatkan oleh pertemuan Sang Lubang Hitam dengan objek berdebu yang misterius, yang disebut G2.

Para ilmuwan telah menggabungkan data dari NASA Chandra X-Ray Observatory dan ESA XMM-Newton dengan pengamatan menggunakan satelit Swift untuk proses pemantauan jangka panjang Lubang Hitam Supermasif di pusat Bima Sakti.

Jadi apa sebenarnya G2? Awalnya, astronom berpikir itu hanyalah awan gas dan debu; dengan demikian, para astronom otomatis berpikir bahwa G2 akan dilahap oleh Sgr A. Namun, G2 nyatanya selamat ketika pertemuan dekat dengan Lubang Hitam Supermasif di pusat Bima Sakti. Lantas hal tersebut langsung membingungkan para astronom dan juga membuat teori baru yang menyatakan G2 adalah lebih dari awan gas: G2 bisa saja merupakan bintang yang bersembunyi di balik awan debu dan gas.

Menurut astronom Mark Morris dari University of California di Los Angeles, saat ini belum ada kesepakatan tentang objek apa sebenarnya G2 tersebut. Namun, fakta bahwa Sgr A menjadi lebih aktif tidak lama setelah G2 lewat adalah benar.

Masih sangat mungkin jika peningkatan aktivitas Sgr A tidak berhubungan dengan G2. Sgr A mungkin melahap banyak materi di sekitarnya, sehingga intensitas dari bintang-bintang di sekitarnya menyebabkan peningkatan suar sinar-X.

Lubang Hitam Supermasif di pusat Galaksi Bima Sakti bukan sebuah hal yang harus ditakutkan. Sebab Sgr A ini berjarak kurang lebih 25.000 tahun cahaya dari Bumi. Sangat jauh untuk bisa melahap Bumi, apa lagi sampai membuat tubuh Anda memanjang bagai spageti.

Ditulis oleh Editor Info Astronomy: Riza Miftah Muharram
Editorial: Memahami Lubang Hitam di Pusat Galaksi Bima Sakti Editorial: Memahami Lubang Hitam di Pusat Galaksi Bima Sakti Reviewed by Riza Miftah Muharram on 9/26/2015 02:17:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.