Antara Sains dan Fiksi dalam 'Interstellar'

Ditulis oleh Andreas Rossi Dewi - #AstroSharing
Interstellar. Kredit: Paramount Pictures/Shuttershock
Info Astronomy - Yang terlintas di benak saya setelah menonton film 'Interstellar' adalah, “Apakah Nolan akan menjadi Wachowski bersaudara yang berikutnya?” Memang tidak ada alasan untuk menyangkal bahwa Christopher Nolan adalah seorang sutradara yang visioner –entah saat menyutradarai film drama yang subtil maupun film grandiose berbajet besar.

Nolan nampak selalu punya konsepsi tentang akan seperti apa filmnya, lengkap dengan plot twist yang menjadi ciri khasnya. Jika melihat film-film Wachowski bersaudara setelah trilogi Matrix yang visioner kala itu, mereka terlihat seperti punya ide besar namun tak punya cukup energi untuk mengeksekusinya dengan sempurna.

Interstellar berlatar pada suatu waktu di masa depan, saat Bumi yang terlampau rusak menyebabkan badai debu tak berkesudahan, juga hawar (blight) yang membunuh tanaman pangan. Cooper (yang diperankan Matthew McConaughey), adalah mantan insyinyur dan pilot NASA yang terpaksa menjadi peladang karena menjadi pilot dan insinyur adalah hal yang hampir tak berguna di tengah kelaparan yang melanda distopia agraris bernama Bumi.

Bersama anaknya Tom (Timothée Chalamet) dan Murphy “Murph” (Mackenzie Foy) dan mertuanya, Donald (John Lithgow), ia mengelola sebuah kebun jagung, tanaman terakhir yang dapat bertahan di hawar.

Suatu hari, buku-buku di kamar Murph terjatuh secara berpola. Murph berpikir itu ulah hantu yang ingin menyampaikan sesuatu, tetapi ayahnya tak setuju. Menurut Cooper itu adalah anomali gravitasi, karena tentu saja hantu bukanlah penjelasan yang saintifik. Mereka berdua mendekodekan pola buku jatuh tersebut, yang ternyata adalah koordinat sebuah fasilitas rahasia NASA yang dikepalai mantan mentor Cooper, Prof. Brand (Michael Caine).

Profesor Brand beserta tim NASA termasuk anaknya, Amelia Brand (Anne Hathaway) sedang merencanakan misi pengiriman manusia ke luar angkasa untuk mencari eksoplanet yang akan jadi rumah baru manusia, karena Bumi sudah tak mendukung kehidupan.

Proyek Endurance, demikian ia disebut, akan mengirim awak menembus lubang cacing (worm hole) di sekitar orbit Planet Saturnus, dan menemui tiga planet kandidat pengganti Bumi yang sudah diidentifikasi terlebih dahulu oleh awak-awak proyek sebelumnya, Proyek Lazarus.

Kebetulan, Proyek Endurance belum memiliki pilot. Karena Cooper adalah mantan pilot, maka ia langsung direkrut menjadi awak Proyek Endurance. Demi umat manusia, dengan berat hati ia harus berpisah dengan anak-anaknya untuk mengantar Amelia, Romilly (David Gyasi), dan Doyle (Wes Bentley) menjelajah galaksi lain yang tak dikenal dan tak terprediksikan sebelumnya.

Interstellar adalah separuh space opera yang meromantisasi eksplorasi ruang angkasa, separuhnya lagi adalah hard sci-fi yang bersikeras menggunakan sains secara akurat di dalamnya. Sayang, campuran keduanya seperti prototipe pesawat ulang alik yang dipaksakan terbang.

Pahlawan Nolanesque dan Figur Ayah
Interstellar adalah film tentang menjadi manusia di kala harapan mulai menipis sedangkan solusinya berada di luar sana, wilayah yang tak diketahui dan lantas berbahaya. Menjadi manusia berarti tidak menyerah saat ada pengorbanan yang harus dibuat dan resiko yang harus ditempuh.

Begitulah dalam kegelisahannya, Cooper pernah berelegi tentang kodrat manusia sebagai makhluk penjelajah. Menjadi petani seperti dirinya yang menetap di Bumi yang sekarat berarti menyerah pada nasib, mengamini kegagalan. Cooper adalah tipikal pahlawan (atau antipahlawan) Nolan.

Motor penggeraknya pun sama: obsesi, entah untuk mencari pembunuh sang istri, melawan kejahatan, membuat mimpi yang tak terbedakan dari kenyataan, membuat trik sulap yang sempurna, atau menemukan rumah baru bagi umat manusia. Mereka –secara against all odds– mencari jawaban atas pertanyaan “mungkinkah?” di tengah dunia yang tidak pasti ini. Ditambah karakterisasi yang gelap dan murung, mereka bermetamorfosis setelah menang dari kesukaran dan keraguan pada diri sendiri, lantas muncullah sebagai pahlawan Nolanesque yang klise.

Selain bernuansa Nolanesque yang kental, tak bisa disangkal bahwa pengaruh space opera juga kuat dalam film ini. Space opera adalah genre yang menggabungkan eksplorasi ruang angkasa dengan melodrama khas sinetron (soap opera).

Dalam Interstellar, yang menjadi pusat sentimentalitasnya adalah hubungan ayah dan anak. Cooper adalah karikatur seorang ayah yang pernah memiliki cita-cita besar namun gagal. Murph, anak perempuan Cooper, benci pada ayahnya saat ia nekat memiloti Endurance. Penampakan rumah ala American midwest yang tak terurus di Interstellar tadi adalah simbolisasi yang pas.

Sains atau Pseudosains?
Karena Nolan memformulasikan film ini juga sebagai sebuah film hard sci-fi yang mengedepankan akurasi prinsip sains di dalamnya, saya tak tahan untuk tidak membahasnya.

Adalah sebuah sesat logika bahwa pendapat seorang ahli selalu lebih benar daripada pendapat orang awam, argumentum ad verecundiam. Namun saya juga tak menafikan kalau membaca New Scientist dan Nature tidak serta-merta menjadikan seseorang ilmuwan.

Maka saya akan membikin disclaimer. Pertama, bahwa saya bukan Michio Kaku atau Neil de Grasse Tyson (atau Kip Thorne, konsultan sains film ini) yang memiliki keahlian dan titel di bidang fisika. Oleh karena itu, mungkin argumen saya ini tidak akurat. Kritik dan koreksi tentu saja saya harapkan. Kedua, akan ada banyak spoiler di bagian ini. Jadi, bagi Anda yang belum menonton Interstellar dan membenci spoiler silakan lewati bagian ini.

Pertanyaan saya tentang akurasi sains film ini akan saya buat poin per poin.

Pertama, adalah hal-hal teknis tentang pesawat ruang angkasa. Dalam Interstellar, kita tidak pernah melihat Cooper berlatih untuk memiloti Endurance. Adegan di mana Cooper dan anaknya menemukan lokasi rahasia NASA dan adegan di mana ia berangkat menjadi pilot ditampilkan berurutan.

Memang, Cooper adalah mantan pilot, tetapi ia sudah lama tidak menjadi pilot karena sibuk menanam jagung. Ditambah lagi, Endurance adalah pesawat yang benar-benar baru dengan modul dan sistem yang benar-benar baru. Kita bisa melihat bagaimana Mann (Matt Damon) yang notabene seorang astronot saja tidak bisa melabuhkan (docking) pesawat penjelajahnya ke pesawat utama Endurance.

Kemalasan untuk menjelaskan ini sangatlah lucu, karena film yang tak terlalu serius seperti Armageddon yang menampilkan adegan latihan mengemudikan pesawat oleh kru-krunya yang akan dikirim ke luar angkasa.

Di samping itu, video yang dikirim dari Bumi ke pesawat Endurance lewat gelombang radio tertangkap dengan baik dan kualitasnya sama sekali tak terganggu, bahkan bisa melewati worm hole tanpa terpengaruh sekalipun. Ini sungguh ajaib, karena di luar angkasa banyak sekali interferensi yang bisa mengacaukan sinyal radio, apalagi dengan carut-marutnya ruang dan waktu di dalam lubang hitam.

Selain itu, komunikasi radio antara Bumi dan pesawat Endurance di galaksi lain terkesan hampir instan. Sebagai perbandingan, sinyal komunikasi dari bumi ke Mars memakan waktu perjalanan 14 menit sekali perjalanan. Artinya, komunikasi dua arah sesimpel “hai” – “hai juga” saja dapat memakan waktu sedikitnya 28 menit. Pengiriman data sebesar 7,5 MB dari Mars saja bisa memakan waktu 1,5 sampai 5 jam, itupun dengan asumsi tidak ada gangguan.

Akan tetapi di film ini, kiriman video dari Murph dewasa (Jessica Chastain) di Bumi kepada Endurance yang mengorbit di dekat Planet Miller dijukstaposisikan sedemikian rupa, sehingga adegan-adegan selanjutnya (baik di Bumi maupun di Endurance) nampak berjalan secara simultan.

Dengan kata lain, dengan tetap mengikutsertakan efek dilasi waktu yang dialami Cooper, kiriman file video dari bumi di film ini terkesan instan. Lalu, karakter Romilly pernah berujar, “Hanya ada beberapa milimeter aluminium di antara aku dan ketiadaan berjuta-juta mil di sekitar.” Pelindung (shield) yang setipis itu sangat berbahaya bagi astronot, karena di luar angkasa begitu banyak radiasi sinar kosmik yang menghujani mereka.

Kedua adalah tentang dilasi waktu. Teori relativitas Einstein menunjukkan bahwa semakin cepat sebuah benda melaju, semakin lambat pula waktu berjalan baginya dilihat dari perspektif benda dalam keadaan diam.

Katakanlah A dan B adalah anak kembar identik. A mengemudikan sebuah pesawat canggih dan melaju mendekati kecepatan cahaya di luar angkasa, sedangkan B diam di Bumi. Ketika 10 tahun sudah berlalu di Bumi dalam perspektif B, A kembali dari perjalanannya. Maka akan didapati bahwa meskipun B berumur 10 tahun lebih tua, A mungkin hanya akan bertambah tua 1-2 tahun saja karena pengaruh dilasi (pemuaian) waktu tadi.

Inilah yang disebut dengan twin paradox. Interstellar ini sudah benar dengan menggambarkan umur Murph di Bumi yang pada akhirnya sama dengan umur ayahnya, karena si ayah mengalami dilasi waktu saat menjelajah ruang angkasa. Dilasi waktu ini juga terjadi misalnya kita berada di dekat benda yang mempunyai gaya gravitasi yang besar seperti lubang hitam, karena spacetime memang dibelokkan di medan gravitasi yang sangat kuat.

Yang menjadi permasalahan adalah perhitungan dilasi waktu (yang bisa dihitung dengan Faktor Lorentz) tidak ditampilkan dan terkesan dicomot asal-asalan. Tidak ada penjelasan dari mana Amelia mendapatkan angka bahwa satu jam di Planet Miller sama seperti tujuh tahun di Bumi, atau bagaimana Romilly yang tetap tinggal di pesawat bertambah tua 23 tahun saat kru yang lain turun ke Planet Miller.

Planet Miller, sebuah planet fiksi, yang terdiri dari lautan yang luas dan ombak yang begitu tinggi, disebutkan hanya mempunyai gaya gravitasi 130% lebih kuat dari Bumi. Artinya, gaya gravitasinya tak cukup kuat untuk memendekkan waktu sampai 23 tahun.

Phil Plait, seorang astronom, menulis sebuah argumen di Slate bahwa untuk mendapatkan dilasi waktu sebanyak itu pesawat atau Planet Miller harus berada begitu dekat dengan lubang hitam Gargantua. Sementara agar planet bisa mengorbit dengan stabil di dekat lubang hitam, ia harus berada pada orbit yang berjarak setidaknya tiga kali besar lubang hitam sendiri (ini akan dibahas selanjutnya di bawah). Bagi saya ini asal-asalan.

Ketiga, tentang worm hole atau lubang cacing. Lubang cacing, atau yang disebut dengan Jembatan Einstein-Rosen keberadaannya diakui secara matematis. Namun, agar ia cukup stabil untuk dilewati, ia harus mendapat sokongan dari materi eksotis.

Tak seperti materi (atau antimateri) yang mempunyai massa/energi dalam bilangan positif, materi eksotis memiliki massa/energi negatif. Ia hampir tidak mungkin ada di dunia nyata, akibat sebuah prinsip yang disebut quantum interest dan quantum inequalities.

Singkatnya, agar materi eksotis (mari kita asumsikan ia bisa dibuat) bisa menyokong “tenggorokan” sebuah lubang cacing, entah lubang cacingnya hanya bisa berukuran submikroskopis dengan radius “tenggorokan” sebesar hanya 10^-32 meter (hanya sedikit lebih besar dari satuan panjang yang diperbolehkan dalam fisika kuantum, Planck Length), atau agar lubang cacingnya cukup besar untuk dilewati (katakanlah berukuran 1 meter), energi negatif dari materi eksotisnya dikompres menjadi sebuah gelang selebar 10^-21 m.

Selain bermasalah karena ukuran gelangnya yang luar biasa kecil, energi yang diperlukan untuk ini diperkirakan setara dengan energi yang dikeluarkan 10 miliar Matahari selama satu tahun. Solusi lain, misalnya dengan menggunakan sebuah tipe lubang hitam berotasi (yang disebut “Lubang Hitam Kerr”) sebagai lubang cacing juga mempunyai kendala, karena terdapat Horizon Cauchy pada bagian “tenggorokan”-nya. Daerah Horizon Cauchy ini sangatlah tidak stabil.

Di samping itu, (sebelumnya, mari kita asumsikan bahwa lubang cacing seperti di film Interstellar bisa ada, for the sake of the argument) lubang cacing mempunyai satu “pintu masuk” dan satu “pintu keluar”. Seperti kita tahu, “pintu masuk”-nya berada di dekat Saturnus, sedangkan “pintu keluar”-nya berada di dekat tiga planet yang mengelilingi Gargantua.

Untuk kembali lagi ke “pintu masuk”-nya di dekat Saturnus, modul pesawat Endurance harus pulang melalui “pintu keluar”. Akan tetapi, di akhir film kemudian ditunjukkan bahwa Cooper menggunakan lubang hitam Gargantua untuk kembali pulang di dekat Saturnus. Ini menurut saya tidak konsisten.

Keempat, film ini seolah melempar ke tempat sampah semua yang kita pahami saat ini tentang lubang hitam. Lubang hitam terbentuk dari bintang masif yang meledak lalu mengalami peruntuhan gravitasi (gravitational collapse). Massa yang begitu besar dari tadi terpadatkan oleh peruntuhan gravitasi.

Begitu padatnya, hingga diperkirakan pada bagian pusatnya ia memiliki kepadatan tak terhingga. Titik kepadatan tak terhingga di jantung lubang hitam ini disebut dengan singularitas. Karena gravitasinya yang begitu kuat, planet atau benda apapun yang terlalu dekat akan tercabik-cabik dan tersedot ke dalamnya. Ini mengapa keberadaan sistem tiga planet di dekat Gargantua tidak mungkin terjadi secara fisika, karena– seperti yang sudah disebutkan di atas– jarak minimum sebuah orbit stabil di sekitar lubang hitam adalah tiga kali besar lubang hitam tersebut.

Kesalahan yang lain adalah saat Cooper dan TARS masuk ke dalam lubang hitam Gargantua. Ini bermasalah dalam beberbagai level. Pertama, film ini tidak menampilkan secara akurat seperti apa kelihatannya saat sebuah objek masuk melewati event horizon lubang hitam. Dari perspektif luar (di film ini, Amelia), maka TARS dan Cooper akan kelihatan memerah (red shift).

Kemudian persis setelah melewati event horizon, mereka berdua akan kelihatan frozen in time, alias berhenti begitu saja, lalu pelan-pelan memudar. Kedua, mereka berdua akan terpanggang sampai musnah oleh panas (dan radiasi sinar X) dari accretion disk yang mengelilingi lubang hitam. Ketiga, katakanlah mereka berhasil bertahan dari accretion disk, selanjutnya mereka akan penyet oleh kekuatan gravitasinya yang mahadahsyat (dalam bentuk tidal force) menjadi seperti benang.

Proses di atas disebut dengan spaghettifikasi. Dan katakanlah TARS dan Cooper bisa selamat di dalam lubang hitam, mereka tidak akan bisa berkomunikasi lewat radio karena ruang dan waktu begitu kacau di dalam interior lubang hitam.

Lucunya, si lubang hitam Gargantua ternyata “peduli” kepada Cooper dan anaknya. Lupakan fisika tentang lubang hitam, karena rupanya ia hanyalah sebuah mesin waktu yang sepertinya dibuat khusus untuk Cooper (oleh “makhluk dimensi kelima”?). Dengan prinsip time travel yang mirip film Terminator atau Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, Cooper menggunakan lubang hitam ini untuk berinteraksi dengan dirinya dan Murph kecil di masa lalu.

Pertanyaan-pertanyaan lain juga tak dieksplorasi oleh Jonathan dan Christopher Nolan sebagai penulis naskah. Contohnya, apa yang menyebabkan hawar dan badai debu di Bumi? Dari mana mereka mendapatkan akses air bersih? Dan sebagainya. Ini juga belum termasuk kesalahan-kesalahan lain, technobabble dan konsep-konsep pseudosains lainnya di film ini.

Misalnya keberadaan “makhluk dimensi kelima” yang baginya waktu adalah dimensi fisik “yang bisa dipanjat seperti tebing”. Ini adalah konjektur yang tak saintifik. Belum lagi komentar ala tee-lit dari Amelia, “Cinta adalah kekuatan yang bisa menembus ruang dan waktu”. Ini menggelikan sekaligus aneh mengingat filmnya cukup serius mengenai sains.

“Persamaan gravitasi” yang dicari-cari oleh Prof. Brand dan Murphy dewasa juga dilontarkan begitu saja tanpa ada penjelasan apa dan bagaimana. Apa bedanya dengan persamaan yang ditemukan Newton? Lalu bagaimana sebuah persamaan begitu saja dapat menyelamatkan umat manusia? Tak ada penjelasan.

Cooper yang berkotbah tentang “sains adalah tentang data dan analisis” kepada Murph lantas seakan tak peduli dengan prinsipnya sendiri. Mungkin semua kesalahan ini dibiarkan saja demi cerita yang lebih artistik atau mudah dipahami. Argumen seperti ini tentu sah-sah saja.

Spoiler berakhir di sini.

Tak ada yang istimewa di Interstellar dari segi sinematografi, selain mungkin pencitraan gravitational lensing di lubang hitam. Jika di Bumi ia nampak seperti lukisan Andrew Wyeth, maka luar angkasa di film ini seperti lukisan Chesley Bonestell. Gambaran perjalanan menembus lubang cacing hampir mirip dengan warp drive pada Star Trek.

Film ini bermasalah di sana-sini sehingga saya berhenti menganggapnya serius. Dan nampaknya film ini memang harus dinikmati seperti itu. Nikmati film ini bak kita memandang luar angkasa di atas sana pada malam hari. Meskipun ia terlihat indah, sebagian besar dirinya tak lebih dari sekedar ruang hampa.

#AstroSharing: Jago nulis artikel? Kirim naskah artikelmu untuk dimuat di situs web Info Astronomy! Klik di sini.
Antara Sains dan Fiksi dalam 'Interstellar' Antara Sains dan Fiksi dalam 'Interstellar' Reviewed by Riza Miftah Muharram on 8/20/2015 02:09:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.