Inilah Awal 1 Syawal 1436 H Menurut Data Astronomis

Inilah Awal 1 Syawal 1436 H Menurut Data Astronomis
Didesain oleh: Tim Redaksi Info Astronomy
Info Astronomy - Untuk keperluan mengakhiri ibadah Shaum Ramadan, akhir Ramadan 1436 H ditetapkan melalui sidang itsbat yang dipimpin oleh menteri agama Republik Indonesia.

Menilik bahwa hari Kamis tanggal 16 Juli 2015 merupakan hari ke 29 bulan Ramadan 1436 H (Taqwim Standard), maka sidang itsbat awal Syawal 1436 H akan berlangsung pada hari Kamis tanggal 16 Juli 2015.

Analisis awal Ramadan 1436 H yang akan jatuh pada 18 Juni 2015 maka hari ke 29 bulan Ramadan 1436 H akan bertepatan dengan hari Kamis tanggal 16 Juli 2015.

KONDISI POSISI BULAN PENENTU AWAL SYAWAL 1436 H
Ijtimak akhir Ramadan 1436 H pada hari Kamis tanggal 16 Juli 2015 pada jam 08:24 wib bertepatan dengan tanggal 29 Ramadan 1436 H.

Pada saat Matahari terbenam pada hari Kamis tanggal 16 Juli 2015, tinggi Bulan di wilayah Indonesia sudah positif di Pelabuhan Ratu misalnya tinggi Bulan mencapai +2º42º7″.0. (sekitar dua derajat empat puluh dua menit)

Mengingat posisi Bulan tersebut secara hisab dengan kriteria wujudul hilal maupun kriteria 2-3-8 sudah dapat memastikan bahwa awal Syawal 1436 H pada tanggal 16 Juli 2015 (setelah maghrib). Ramadan 1436 H berakhir pada tanggal 16 Juli 2015 dan pada hari Jum’at tanggal 17 Juli 2015 shalat Idul Fitri 1436 H.

Bagaimana dengan rukyat hari Kamis tanggal 16 Juli 2015? Apakah para ahli rukyat dapat berhasil melihat hilal atau citra hilal pada tanggal 16 Juli 2015? Mengingat posisi Bulan dan Matahari pada tanggal 16 Juli 2015, hilal tersebut tergolong sulit untuk bisa diamati, walaupun memenuhi kriteria 2-3-8.

Kesempatan untuk pengamatan hilal setelah Matahari terbenam relatif sangat singkat; di Pelabuhan Ratu misalnya, Matahari terbenam pada jam 17:51 WIB dan disusul Bulan terbenam pada jam 18:06 WIB atau 15 menit setelah Matahari terbenam.

Elongasi atau jarak sudut Matahari dan Bulan mencapai 5º14º34″ pada jam 17:51 WIB, sedang elongasi Matahari dan Bulan mencapai 4º55º42″ pada jam 14:00 WIB.

Dukungan cuaca yang relatif kering pada bulan Juni maupun bulan Juli memberikan harapan keberhasilan pengamatan hilal awal Ramadan maupun hilal awal Syawal 1436 H. Walaupun rukyat hari Kamis tanggal 16 Juli 2015 dilakukan dengan teleskop pada siang hari, citra hilal yang telah memenuhi kriteria 2-3-8 tersebut tergolong sangat sukar diamati.

Pengamatan hilal siang hari (sebelum Matahari terbenam) selain dimaksudkan memperoleh citra sabit Bulan yang akan menjadi cikal bakal hilal yang dapat diamati dengan mata bugil, juga dipergunakan untuk mengetahui gerak harian dan posisi Bulan setiap saat sehingga pengamatan hilal dapat berkonsentrasi ke arah yang ditunjukkan oleh teleskop untuk mencegah kekeliruan obyek langit yang akan diamati.

PREDIKSI AWAL BULAN MENURUT BEBERAPA KRITERIA DI INDONESIA

1. Kriteria Rukyatul Hilal (Visibilitas Hilal)

Teori Visibilitas Hilal terbaru telah dibangun oleh para astronom dalam proyek pengamatan hilal global yang dikenal sebagai Islamic Crescent Observation Project (ICOP) berpusat di Yordania berdasar pada sekitar 700 lebih data observasi hilal yang dianggap valid. Teori ini menyatakan bahwa hilal hanya mungkin bisa dirukyat jika jarak sudut Bulan dan Matahari minimal 6,4° (sebelumnya 7°) yang dikenal sebagai "Limit Danjon".

Kurva Visibilitas Hilal sebagai hasil perhitungan teori tersebut mengindikasikan bahwa untuk seluruh wilayah Indonesia tidak memiliki peluang dapat menyaksikan hilal walau menggunakan alat bantu teleskop. Sehingga menurut kriteria rukyat, awal bulan akan jatuh pada: Sabtu, 18 Juli 2015.

2. Kriteria Imkanur Rukyat

Pemerintah RI melalui pertemuan Menteri-menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia dan Singapura (MABIMS) menetapkan kriteria yang disebutImkanurrukyat yang dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan bulan pada Kalender Islam negara-negara tersebut yang menyatakan :

Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut:
  1. Ketika Matahari terbenam, ketinggian Bulan di atas horison tidak kurang dari 2° dan
  2. Jarak lengkung Bulan-Matahari (sudut elongasi) tidak kurang dari 3°. Atau
  3. Ketika Bulan terbenam, umur Bulan tidak kurang dari 8 jam setelah konjungsi/ijtimak berlaku.
Kriteria inilah yang menjadi pedoman Pemerintah RI untuk menyusun kalender Taqwim Standard Indonesia yang digunakan dalam penentuan hari libur nasional secara resmi. Dengan kriteria ini pula keputusan Sidang Isbat Penentuan Awal Bulan Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah "bisa ditebak hasilnya" karena setiap laporan bahkan klaim rukyat akan diterima.

Belakangan khusus untuk penentuan awal bulan Ramadhan, Syawwal dan Zulijjah kriteria ini hanya dipakai oleh Indonesia dan Malaysia sementara Singapura menggunakan Hisab Wujudul Hilal sementara Brunei Darussalam tetap konsisten menggunakan kaidah Rukyatul Hilal berdasar Teori Visibilitas.

Berdasarkan Peta Ketinggian Hilal di atas, pada hari pelaksanaan rukyatul hilal, syarat Imkanurrukyat MABIMS sudah terpenuhi sehingga awal bulan dalam Taqwin Standard Indonesia menetapkan jatuh pada: Jumat, 17 Juli 2015.
Untuk kepastiannya perlu disimak hasil sidang itsbat awal Syawal 1436 H akan berlangsung pada hari Kamis tanggal 16 Juli 2015. Tim redaksi Info Astronomy mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1436 H, mohon maaf lahir dan batin.


Langitselatan.com, Rukyatulhilal.org

Disunting seperlunya oleh Editor.
Inilah Awal 1 Syawal 1436 H Menurut Data Astronomis Inilah Awal 1 Syawal 1436 H Menurut Data Astronomis Reviewed by Riza Miftah Muharram on 7/16/2015 01:00:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.