Benarkah Matahari Akan Padam?

Benarkah Matahari Akan Padam?
Siklus kehidupan Matahari. Kredit: Live Science
Info Astronomy - Umur setiap bintang di jagad raya berbeda-beda, tergantung berapa besar ukuran bintang tersebut. Sebuah bintang seperti Matahari kita memiliki umur sekitar 10 miliar tahun.

Adapun bintang yang memiliki massa 20 kali lipat lebih banyak daripada Matahari, hanya hidup sekitar 10 juta tahun saja. Jangka waktu ini relatif cepat dalam dunia astronomi.

Sebuah bintang memulai hidupnya sebagai awan padat yang terdiri dari gas dan debu. Setelah bintang terbentuk, ia membakar hidrogen menjadi helium.

Setelah hidrogen mulai habis terbakar, tahap pembakaran berikutnya mulai berlangsung yakni pembakaran helium menjadi elemen yang lebih berat.

Jika bintang memiliki ukuran yang tidak terlalu besar, atau hanya beberapa kali lipat ukuran Matahari, bintang tersebut lama-kelamaan akan menjadi bintang katai putih atau biasa disebut white dwarf.

Jika bintang tersebut memiliki ukuran jauh lebih besar, pertama-tama ia akan meledak ke dalam gravitasinya sendiri, dan meledak kembali ke luar dalam sebuah ledakan supernova. Lalu, bagaimana dengan Matahari kita?

Matahari yang juga merupakan sebuah bintang sama seperti bintang lainnya, sudah berusia 4,57 miliar tahun. Saat ini, ia sudah menjalankan sekitar separuh hidupnya, reaksi fusi nuklir di inti Matahari mengubah hidrogen menjadi helium.

Berhubung Matahari tidak memiliki massa yang cukup untuk meledak seperti sebuah supernova, dalam tempo 5 miliar tahun ke depan, saat hidrogen miliknya habis, ia akan menjadi bintang merah raksasa lalu kemudian akan menciut dan padam.

Apa dampaknya bagi Bumi jika Matahari padam?
Jika Anda menyimpan secangkir kopi panas di kulkas, maka kopi tidak akan langsung menjadi dingin. Sama juga dengan planet Bumi.

Jika Matahari kita tiba-tiba padam, maka Bumi tidak akan langsung dingin, melainkan melalui proses pendinginan yang berlangsung selama beberapa juta tahun.

Dalam proses ini suhu Bumi akan turun drastis sampai nol derajat Fahrenheit (sekitar minus 18 derajat Celcius) dalam satu minggu. Sebuah skenario yang mengerikan jika ini terjadi.

Dalam setahun, suhu di Bumi akan turun sampai minus 100 F. Permukaan laut akan membeku. Tapi, es di permukaan akan menahan air samudra di bawah, sehingga samudra baru akan beku dalam ribuan tahun.

Sejuta tahun setelah Matahari padam, maka suhu akan mencapai minus 400 F. Temperatur ini sama dengan panas yang dikeluarkan Bumi ke luar angkasa.

Sebagian besar kehidupan akan mati dalam beberapa minggu. Pohon-pohon besar masih bisa hidup selama beberapa tahun, karena metabolisme yang lambat.

Dengan menurunnya suhu Bumi secara drastis, proses fotosintesis akan berhenti sama sekali, dan tanaman lain akan mati, sebab Matahari sudah tidak ada.

Sebagian besar binatang akan musnah. Manusia bisa hidup di bawah tanah dengan bantuan nuklir sebagai pemanas atau tenaga gas bumi.

Selama ratusan tahun, manusia bisa hidup di bawah tanah dengan teknologi. Andai Matahari padam, maka gravitasinya hilang dan planet Bumi akan luntang-lantung di luar angkasa.


Namun hal ini tidak akan terjadi, atau jika terjadi diprediksi masih 5 miliar tahun dari sekarang. Saat itu Bumi sudah dilalap Matahari karena Matahari mengembang menjadi bintang raksasa merah.
Benarkah Matahari Akan Padam? Benarkah Matahari Akan Padam? Reviewed by Riza Miftah Muharram on 5/09/2014 01:47:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.