Astronot dari Indonesia, Apakah Itu Anda?


Info Astronomy — Otot astronot yang tinggal di Stasiun Luar Angkasa Internenasional memiliki kekuatan 30% hingga 40% di bawah kekuatan otot normal. Setara dengan kakek-kakek berusia 80 tahun.

Ini mengapa kita sampai sekarang belum mengirim orang ke Mars. Kirim ke Bulan bisa-bisa saja, misi Apollo 11 misalnya, hanya memakan waktu 8 hari pulang pergi (termasuk 21 jam 36 menit di permukaan Bulan). Ingat gravitasi Bulan hanya seperenam Bumi. Tapi kalau ke Mars, dengan teknologi sekarang waktu perginya saja perlu 9 bulan. Katakanlah ia sehari saja di Mars, pulang lagi perlu 9 bulan, jadinya 1 tahun setengah.

Tapi mereka mungkin akan lama di Mars. Masalahnya, bahkan saat berada dalam gravitasi Mars, yang 38% Bumi, (2.2 kali lipat Bulan) para astronot akan terlalu lemah untuk bekerja dan bisa pingsan dan patah tulang.

Bagaimana manusia biasa mau pergi ke planet lain, kalau astronot saja bakal seperti kakek-kakek kekuatannya? Sebenarnya ada teknik yang disarankan para ilmuwan. Mulai dari penggunaan pemutar sentrifugal raksasa untuk meniru efek gravitasi hingga pengembangan sebuah pil yang dapat memblokade lenyapnya massa tulang dan otot. Tapi ada juga yang bilang, kalau gitu olahraga saja yang lebih keras lagi. Dan satu lagi masalah bagi astronot, mereka cenderung kehilangan nafsu makan.

Bayangkan saja, tiap hari makanannya hanya pasta (yang isinya makanan siap makan). Yup, makanan astronot hanya berbentuk odol. Hal ini agar dapat dicerna tubuh. Seperti orang yang tidak punya gigi. Usus astronot tidak bakal mampu mencerna nasi. Makan pasta terus tentu membuat selera makan lenyap dan ini juga yang membuat mereka tambah lemah.

Saat ini para ilmuwan sedang mengembangkan makanan pasta yang super kaya akan protein untuk astronot, jadi biarpun hanya makan sedikit, kebutuhan gizi untuk regenerasi otot mereka mereka mencukupi.

Ini juga mengapa menjadi astronot bukanlah hal yang gampang. Proses seleksinya 'gila-gilaan'. Saat seleksi astronot untuk stasiun ruang angkasa MIR tahun 1988 hingga 1999, ada 1065 kandidat dari seluruh Eropa. Kandidat ini bukan hanya ingin sendiri lho, tapi dicalonkan oleh masing-masing pihak yang terlibat.

Dari 1065 orang ini, akan diseleksi 13 orang saja. Cara seleksinya? Sebagian besar gugur saat tes akademik dan profesional serta sejumlah besar tes kesehatan.

Kedengarannya biasa saja, tapi itu baru tes pertama dan disini sudah gugur 793 orang.

Kandidat yang tersisa diuji lagi kesehatan fisik dan jiwanya. Pandangan dan pendengaran harus tajam dan ukuran tubuhnya harus pas dengan kapsul Soyuz yang sempit dan akan mengantarkan mereka ke Mir. Mereka harus tahan dalam kondisi terbalik sambil diputar dengan kecepatan 30 putaran per menit. Yang mabuk? Out!

Kandidat lalu diletakkan dalam mesin pemutar sentrifugal dan diputar hingga 8 kali kekuatan gravitasi Bumi selama 30 detik. Pingsan? Out!

Sisanya disuruh duduk di sebuah kamar yang kondisinya sama dengan berada pada ketinggian 10 ribu meter. Lalu kamar mesin ini dikondisikan seperti membawa orang ke permukaan Bumi hanya dalam waktu 30 detik! Itu artinya sama dengan naik kendaraan berkecepatan 1200 km/jam. Pingsan lagi? Out!

Sisanya disuruh lari sesuai dengan usianya. Kalau usianya 40 tahun, ia harus lari 1 kilometer dalam waktu maksimal 4 menit 10 detik, dan harus lari cepat (sprint) menempuh 100 meter dengan waktu maksimal 16.8 detik. Tidak mampu? Out!

Di final, mereka akan diwawancarai oleh para manajer antariksa Eropa. Dan disinilah mereka akan ditentukan siapa pemenangnya.

Setelah terpilih, mereka belum tentu pasti berangkat. Mereka harus ikut program latihan dasar. Setelah program selesai, mereka dikirim ke fasilitas Star City di dekat Moscow. Disini mereka harus ikut program latihan khusus misi. Calon astronot tinggal di fasilitas selama berbulan-bulan dan mengikuti berbagai pemeriksaan kesehatan. Dan akhirnya, dua atau tiga minggu sebelum hari peluncuran, mereka dikarantina total untuk menghindari infeksi apapun. Barulah pada hari H mereka muncul, berpakaian keren ala astronot dan siap berangkat ke luar angkasa dan mengabdikan diri bagi sains dan negara dengan resiko mendadak jadi kakek-kakek berusia 80 tahun.

Tertarik? [FI]
Astronot dari Indonesia, Apakah Itu Anda? Astronot dari Indonesia, Apakah Itu Anda? Reviewed by Kontributor on 3/03/2013 07:17:00 PM Rating: 5

Tidak ada komentar

Kami sangat senang menerima komentar dari Anda. Sistem kami memoderasi komentar yang Anda kirim, jadi mungkin membutuhkan waktu beberapa saat untuk komentar Anda muncul di sini. Komentar dengan link/url akan otomatis dihapus untuk keamanan. Berkomentarlah dengan sopan dan santun.